Thursday, April 1, 2010

Bukan Batak, Bukan Jawa

Saya bingung, kenapa di kantor ini pagi tidak bisa dimulai dengan ketenangan. Selalu ada saja keributan yang terjadi, seperti pagi ini.

Bernard, pemuda asli Batak, yang sedang asik dengan komputernya tiba-tiba bergumam, "Gila ya ni si Gayus. Korupsi pajak 25 milyar. Malu-maluin orang Jawa aja."

Pak Slamet, yang sedang serius membaca koran tersentak mendengar. Sebagai sang Jawa tulen, produk asli Gunung Kidul, sepertinya beliau tidak terima Gayus jadi orang Jawa. "Eh, Jawa apaan. Gayus tuh Batak, bukan Jawa," sahut pak Slamet dengan suara lantang.

"Jawa ah," sanggah Bernard.
"Batak!!!", tegas pak Slamet.
"JAWA."
"BATAK. LAH WONG NAMANYA TAMBUNAN GITU. PASTI BATAK"
"JAWA."
"BATAK."
"JAWA."
"BATAK."
"JAWA."
"BATAK."
"JAWA."
"BATAK."

Huff, kasihan banget ya si Gayus Tambunan, ga ada yang ngakuin sukunya, kalau dah gini uang 25 milyar seakan sia-sia. :-D

Labels: , , ,

Wednesday, March 17, 2010

Sariawan Thailand

Tidak bisa disangkal Tuhan memang Maha Adil.

Jadi ceritanya Saya sedang menderita karena sariawan sebesar ibu jari, tepat di lidah bawah sebelah kiri Saya. Sungguh, rasanya begitu mengenaskan. Jangankan makan Dendeang Balado, buat bicara saja sakitnya minta ampun. Kesedihan film India terbarupun, My Name is Khan, masih belum sebanding dengan apa yang Saya derita. Mulai dari ngemut tablet hisap hingga belasan biji, sampai oles-oles Arabian Oil semuanya sudah Saya coba. Namun apa dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dengan terpaksa riang gembira, Senin kemaren Saya tetap berangkat kerja.

Dan tahukan apa tugas utama Saya untuk hari Senin kemaren tersebut? Menelphon departemen energi dari sepuluh negara ASEAN. Bayangkan, sungguh pekerjaan yang sempurna sekali bukan untuk orang lagi sariawan sebesar ibu jari.

Biasanya Saya selalu memulai sesuai Abjad, dari negara Brunei dan terakhir Vietnam.
Tapi kali ini, Saya telphon yang orang Indonesia dulu saja, paling tidak dalam kondisi ini berbicara bahasa Indonesia akan sedikit lebih mudah dibanding bahasa Inggris, bukan?

Tapi tahukan Anda, orang Indonesia di ujung telphon sana jawab apa? "Maaf, Pak. Mau bicara dengan siapa? I am sorry, Sir. I can't hear you. Would you mind to speak louder, please".

Ampun.
Apa kejadiannya kalau Saya telphon Vietnam, Myanmar atau Laos yang bahasa Inggrisnya juga kumur-kumur. Atau mungkin mereka jadi lebih mengerti ya? Hehehe. Ya sudah Saya tunda dulu saja urusan ini.

Lanjut cerita, hari Senin itu juga ada rekan kerja baru di kantor, orang Thailand. Ya etikanya orang baru yang bersopan-santun, si Thailand datang untuk memperkenalkan diri ke cubicle Saya. Bukannya Saya sombong, cuma karena memang sedang tidak bisa bicara, akhirnya Saya cuma salaman sambil bergumam nunjuk-nunjuk ke mulut Saya. Mungkin si Thailand mengerti Saya lagi sariawan, maka dengan sopan dia segera kembali ke cubicle-ya.

Eh, siangnya, si Thailand datang lagi ke meja Saya sambil berkata, (terjemahannya langsung ya) "Anda sangat luar biasa sekali, Mr. Beni. Walaupun ada memiliki kekurangan tidak bisa berbicara, namun Anda mampu berada di posisi sekarang ini. Sungguh, Anda sangat luar biasa. Sangat menginspirasi buat Saya".

Puff, dikira Saya saudaraan sama Aziz Gagap-nya Opera Van Java sama si Thailand.
Sungguh, saat itu Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada si Thailand, tapi yang jelas dari cubicle sekeliling terdengar tawa yang tiada hentinya.

Hahaha, Saya juga urung tuk menjelaskan ke dia. Menikmati sesaat menjadi idola dan inspirasi si Thailand, hehehe. Pagi ini, Saya disapa dengan sopan sekali sama si Thailand. Menyenangkan, bukan? :-D

Tapi sepertinya ceritanya tidak berakhir ala dongeng happily ever after. Tadi pagi saat menunggu lift, Saya bersua dengan salah seorang pegawai di lantai bawah. Dengan sopan dia menyapa dan mengajak Saya berbicara. Apamau dikata, Saya kan masih kesusahan untuk berbicara. Alhasil Saya cuma menggangguk-angguk saja mendengar dari mulai menunggu lift, sampai masuk lift, sampai keluar lift.

Barusan Saya dikabarkan salah seorang staf, bahwa Bapak Pejabat di lantai bawah tersinggung dengan Saya yang tidak sopan menanggapi berbicara dengan beliau.

Puff, nasib-nasib.

Ya sudahlah, hari ini masih banyak bahan yang harus Saya pelajari, (dan Saya masih sempat menulis blog ya? hehehe). Selamat hari Rabu yang ceria, semua. :-)

Labels: , , , ,

Friday, January 22, 2010

Pagi yang Menyenangkan

Pagi ini menyenangkan, sangat.

Ingat nasehat yang selalu disampaikan orang tua kita bahwa kesabaran akan berbuah kesuksesan? Ya akhirnya Saya berhasil mewujudkannya. Sungguh Saya sangat bahagia sekali.

Sudah satu mingguan ini Saya ke kantor selalu memakai baju lengan pendek, entah itu kemeja atau batik. Tadinya sempat was-was tapi untunglah Saya punya persediaan yang cukup sehingga dari hari Senin sampai hari ini, Jumat, tidak ada baju yang sama yang Saya pakai. Kalaupun kurang, Saya putuskan untuk membeli yang baru, toh segala sesuatu butuh pengorbanan, bukan?

Tapi akhirnya usaha Saya tidak sia-sia. Semuanya berakhir dengan kebahagiaan ketika pagi ini, sesaat masuk ke ruang kantor, salah seorang rekan kerja Saya menyapa, "Wah, jam baru ya, Pak Beni. Keren." Dan dengan suara keras, rekan Saya tersebut berteriak, "Hoiii, Pak Beni pakai jam baru. Pak Beni pakai jam baru."

Tentu saja ini hanyalah sebuah awal. Karena seketika, rekan-rekan kerja Saya yang lain datang menghampiri.

Dan coba tebak, ada seorang teman yang mem-posting berita ini ke seluruh email rekan kerja di kantor. Hari ini Saya akan sibuk untuk menanggapi ucapan mereka, memamerkan jam baru hadiah ulang tahun Saya. Sungguh menyenangkan, bukan?

Pesan moral :
1. Kesabaran akan berbuah keberhasilan. Jadi teruslah berusaha dan berdoa.
2. Janganlah suka sombong dan pamer kepada orang lain. Hahahahahaha. :D

Labels: , , , ,

Monday, January 18, 2010

Hari ke-18 ditahun 2010

Merencanakan sesuatu, bukan hal sederhana, tapi cukup mudah dilakukan.
Memulai sesuatu, butuh energi awal yang cukup besar, tapi dengan sedikit tekanan tetap mudah untuk dilakukan.
Konsisten mengerjakannya, adalah hal lain lagi.
Namun untuk menyelesaikan sesuatu yang kita tahu tidak akan ada hubungannya lagi dengan diri, ini perlu perhatian tersendiri.

Finish it, Ben.
On the counting day to being funemployed.
Happy Monday, everybody.

Update : Pukul 12 siang.
Puff, ternyata tidak mudah, teman.
Untuk menambah semangat, biasanya kita butuh dorongan visual. Jadilah Saya mencoba berkelana di dunia maya. Inginnya pasang gambar adegan "Finish Him" di game jadul favorit Saya dahulu kala, Mortal Kombat. Momen ini sungguh Saya suka. Dengan semangat yang super dahsyat, mengeluarkan jurus terakhir untuk menghabisi lawan. Tekan-tekan putar, atau apa ya, Saya rada lupa tombol yang harus ditekan. Yang jelas, bisa bikin kepala lawan terputus dengan darah yang berceceran. Sangat menggairahkan.

Tapi apa daya cuma bertemu gambar yang ini.



Sungguh memberikan semangat, bukan? :D

Labels: , , ,

Thursday, January 7, 2010

Hari ke-6 ditahun 2010

Pada malam pergantian tahun kemaren, Saya berharap dan berdoa tahun 2010 ini akan menjadi lebih baik buat Saya. Tetapi sepertinya doa Saya belum terkabul juga sampai kemaren.

"Pak, yang untuk proyek sekolah ini, kapasitas Ground Water Tank nya sudah diganti?" tanya Saya dengan sopan kepada salah seorang asisten Saya yang sudah cukup tua.

"Sudah, Mas", jawab beliau sambil tetap asik dengan komputer, tanpa menoleh sedikitpun. "Yang proyek sekolahan, Pak. Sudah diganti? Kemarenkan kapasitasnya yang dihitung Ibuk Ratih 75 kubik, tapi dalam hitungan ulang Saya harusnya 104 kubik. Sudah diganti?" ulang Saya bertanya.

Sambil tetap asik menatap monitor, beliau menjawab "Sudah, gambarnya juga sudah di-revisi".

"Oh gambar sudah di-revisi? Bagus." puji Saya, tidak menyangka ternyata beliau sudah mengerjakannya melebihi harapan Saya. "Ruangannya jadi tambah besar, atau kedalamannya yang ditambah, Pak" lanjut Saya bertanya.

Sesaat beliau memalingkan muka ke Saya sambil berkata dengan muka berseri, "Tidak perlu nambah besar ruangan, tidak perlu nambah kedalaman. TInggal diotak-atik saja layout nya. That's what we call sense of engineering". "Dalam desain, kita tidak saja dituntut untuk menyelesaikan permasalahan, tetapi juga harus mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan biaya yang seekonomis mungkin", imbuh beliau.

"Oh, gitu. Keren", hati Saya berbinar. Dalam hati Saya merasakan bahwa 2010 adalah tahun yang benar-benar cerah. Jika beliau begini terus, tentu pekerjaan membawahi dua departemen tidak akan menjadi kendala buat Saya.

"Ini gambar layout-nya, Pak," sela beliau sambil menyerahkan satu lembar A3. Belum sempat Saya menerima gambar tersebut, beliau sudah menariknya kembali dan berkata,"Wah,salah. Saya pikir kita lagi membicarakan proyek kantor yang di Sudirman. Wah, kalau yang proyek sekolahan itu ya harus diperluarlah, Mas Ben. Tadi kan kapasitasnya 75, jadi 104. Nambah 30persen lebih itu". "Gimana, Mas Ben punya ide apa ni?" lanjut beliau.

Belum sempat Saya berpikir apalagi menarik nafas, beliau kembali bersuara, "Eh, Mas Ben. Tahu mantan mentri Frans Seda itu kan? Tu orang kaya banget ya? Kemaren Saya baca berita katanya dimakamin di Amerika, di San Diego. Tapi emang sih, dulu kan dia mentri keuangan".

Dan 2010, baru berjalan enam hari. Sigh.

Labels: ,

Monday, December 21, 2009

BlackBerry

Hari ini, saat makan siang disebuah rumah makan dekat kantor, tidak sengaja Saya bertemu dengan seorang mitra kantor. Karena memang berpapasan, kita saling menyapa. Kebetulan sekali, karena minggu lalu Saya mengirimkan email kepada beliau namun belum juga dibalas.

"Halo, Pak. Makan siang juga?" ucap Saya menyapa berbasa-basi. "Iya. Sama kan?" tanya beliau.

"Eh, Pak. Yang buat proyek di Bali bagaimana? Kapan Saya bisa dapatkan perhitungannya?" lanjut Saya bertanya. Si Bapak tersebut menjawab, "Kasih lihat dulu Saya layout-nya. Baru Saya buatkan perhitungannya".

"Loh, Saya sudah email ke Bapak layout-nya," imbuh Saya. Dengan raut bingung si Bapak tersebut bertanya, "Sudah di-email? Kapan? Kok Saya belum terima ya". "Eh tapi jangan di-email deh, Pak. Di-fax-kan saja. Saya jarang buka email. Jarang pakai komputer Saya. Bapak fax gambarnya, terus habis itu telpon atau sms Saya kabarin. Atau PIN BB Bapak berapa? Kita chat lewat BB saja. Free. Gratis." lanjut si Bapak tersebut dengan muka sumringah.

Tampaknya, tidak perlu menunggu 2012 untuk tobat. :D

Labels: ,

Thursday, December 3, 2009

new job kill me

Puff.... I am frustated.

Jadi, pertanggal 01 Desember kemaren, salah satu rekan kerja di kantor Saya mengundurkan diri. Karena belum ada orang baru, maka Saya ditugaskan oleh atasan untuk merangkap sementara. Jadilah sudah beberapa hari ini, selain mengurusin departemen Tata Udara Gedung (TUG), dan departemen Transportasi Dalam Gedung (TDG), Saya juga bertanggung jawab terhadap departemen Sanitasi, Drainase dan Pemipaan / Plambing (SDP).

Secara teknis, Saya sebenarnya cukup mengerti dasar-dasar ilmunya Plambing, tapi karena sekarang bertanggung jawab penuh terhadap desainnya, maka tentu saja Saya harus mempelajarinya lebih detil. Tapi sungguh, tiga hari ini berjalan, Saya sudah frustasi.

Sebenarnya di departemen Plambing, ada seorang asisten enjinir yang sudah cukup mumpuni. Bisa dibuktikan dari perawakan dan rambutnya yang sudah ubanan semua. Secara teori, harusnya ini akan berjalan mudah bagi Saya. Pelajari, dan jika ada kendala, bertanya pada beliau. Tapi sungguh, sepagi ini saja, rasanya Saya dah cukup punya alasan untuk gantung diri.

"Pak, kalau apartemen, itu hitungan kebutuhan air bersihnya berdasarkan jumlah kamar kan ya? Satu kamar, 1 kasur, 2 orang? atau berdasarkan asumsi jumlah penghuninya?", tanya Saya. "Ya bisa saja, tapi kalau di kamarnya kasurnya dipakai buat bertiga gimana? Masih mending kalau kasurnya ukuran King, kalau misalnya kasurnya ukuran buat anak-anak itu bagaimana?", jawab beliau. Belum sempat Saya mengklarifikasi pertanyaan, beliau malah balik bertanya, "Eh, kasihan juga ya orang-orang yang tidak punya rumah, yang terpaksa tinggal di kolong jembatan. Jangankan kasur, tempat untuk berteduh dikala hujan saja mereka tidak punya. Bagaimana pendapat pak Beni tentang hal itu?"

Lain waktu, Saya bertanya tentang rancangan jumlah hidran yang dibutuhkan di setiap lantai. "Pak, menurutku, di tiap lantai kita butuh dua hidran box. Panjang selangnya kan maksimun 30 meter. Butuh dua buah untuk mencakup setiap tempat di setiap lantai. Bagaimana menurut Bapak?". Sejenak beliau tampak berpikir, lalu menjawab "Benar, benar. Saya setuju. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana setiap penghuni apartemen tersebut punya kesadaran untuk menjaga agar tidak terjadi kebakaran. Kesadaran akan perilaku ini yang masih sangat rendah di bangsa ini."

PAKKKKK!!!! KITA ENGINEEERRRRR.... TIDAK BISAKAH KITA MEMBAHAS DESAIN SISTEM GEDUNG INI SECARA ENGINEERING???????

Frustasi, mending Saya nge blog.

Labels: