Wednesday, July 16, 2014

Gugur sebelum Lahir

Sekitar tujuh tahun yang lalu, terpikir sebuah program aplikasi yang sangat ingin saya buat. Sayangnya saya tidak punya keahlian untuk itu, jadi lah saya bercerita ke beberapa orang teman, mengajak untuk bekerja sama. Tapi sayangnya, tak satupun dari mereka yang percaya akan ide tersebut. Hari ini, ada sekian banyak aplikasi kesehatan di telepon genggam kita yang bisa menjadi dokter pribadi kita; mengetahui kondisi tubuh, dan merekomendasikan obat apa untuk penyakit yang kita alami. Sebuah ide yang dulu juga ingin saya buat.

Dari sudut pandang positif saja, saya menyakini bahwa di otak ini sebuah anugrah besar diberikan Sang Pencipta (hei, semua orang harus berpikiran yang sama bahwa kita diciptakan dengan begitu banyak kehebatan).

Selama tujuh tahun itu berselang, sekian banyak ide aplikasi bersileweran di pikiran, dan semuanya melayang saja, sembari melihat dan mengunduh berbagai aplikasi di iPhone saya sambil sesekali berkata, "wah, ini saya dengan apa yang saya pikirkan."

Tapi ya begitu saja, dunia berlalu.

Hingga dua bulan terakhir, keinginan untuk mewujudkan berbagai ide di otak begitu kuat menggeliat. Ada lima ide awal, dan akhirnya saya menemukan teman lama yang bisa saya ajak untuk mewujudkannya.

Kita mulai dari yang paling mudah - menurut pemahaman saya.

Instho!

Zaman sekarang siapa yang tidak suka berfoto bersama teman, kolega, atau kelompoknya setiap ada acara.

Dalam kondisi formal, saya sering mengalami ini. Pertemuan dengan kolega dari 10 negara, photo group, setiap orang sibuk untuk mengeluarkan telepon genggam mereka dan minta tolong siapapun untuk mengambil fotonya. Seringnya, setelah si juru foto resmi ambil gambar, setelah itu digilir lagi photo dengan setiap telepon genggam peserta yang ada. Jadilah 10 orang 10 kali foto padahal posenya sama.

Atau, lihat saja, ketika sekelompok teman sedang berkumpul berbuka puasa bersama, pasti ada sesi fotonya. Tapi karena sekarang semuanya pada punya telepon pintar berkamera, jadilah untuk satu pose foto, fotonya berkali-kali dengan setiap kamera yang ada. Itupun tak puas. Setelah berfoto pasti akan ribet untuk saling meminta dikirimkan foto di kamera temannya, - atau jurus paling bawah adalah minta diunggah dan di-tag di Facebook atau Path.

Duuuuh, ribet!

Jadilah saya terpikir untuk membuat sebuah aplikasi telepon genggam, dimana ketika mau foto bersama, cukup satu telepon genggam yang dipake buat mem-photo, dan klik, setiap kali photo diambil, seketika itu juga photo tersebut di simpan di telepon genggam yang dipakai buat photo DAN di folder photo semua telepon genggam semua orang yang ada di situ. Klik! lagi, langsung tersimpan lagi di SEMUA telepon genggam yang ada. Jadi, no more photo berkali-kali pakai setiap kamera, atau no more sesi minta di-tag photo di FB atau dikirmkan via wasap atau BBM (dan jika tak teman dekat, harus nanya nomor atau minta pin dulu).

Jadinya, no more ribet dengan aplikasi Photo sharing instan, atau yang saya namakan INSTHO. ;-)

Setelah membaca berbagai referensi di internet tentang bagaimana membuat aplikasi buat orang awam seperti saya, akhirnya saya menggambar semacam skema idenya. Dengan referensi ini, sang teman yang memang orang dunia IT bisa mengembangkan menjadi sebuah aplikasi.

Ini salah satu sket yang saya buat.


Sayang sekali, setelah sebulan lebih "memikirkan" teknisnya, sampai pada kesimpulan untuk "membatalkan" rencana aplikasi ini.

Mohon maaf buat para selfie group di dunia luar sana, sementara ini kalian terpaksa tetap harus foto berulang-ulang pake SEMUA kamera telepon genggam kalian, atau ya saling nge-Tag aja di FB ya. :-D


 

Saturday, July 5, 2014

Tulisan Baik

Jadi, ceritanya saya lagi OK lagi nih nulis buat Glasnost; Melihat dan Menyampaikan yang Baik.

Ini malam terakhir di Busan, dan Insya Allah besok pindah kembali ke Daejon. :-)

Wednesday, July 2, 2014

Perjalanan Kedua ke Korea: Jakarta-Incheon-Seoul-Daejon

Alhamdulillah, diberi Allah SWT kesempatan kedua untuk ke Korea. Setelah tahun lalu hanya sampai kota Incheon yang tidak terlalu jauh dari bandara internasionalnya, kali ini rutenya adalah Seoul, Daejong, dan Busan. Waktunya memang tidak cukup bagus karena berkenaan dengan dimulainya bulan suci Ramadhan. Tetapi atas dukungan seorang wanita yang sangat cantik, akhirnya diputuskan untuk berangkat.

Sebenarnya ada pilihan penerbangan langsung dari Jakarta-Incheon: dengan Garuda Indonesia atau dengan Korea Airlines. Biasanya saya akan langsung memilih Garuda, tetapi kali ini saya memilih untuk terbang dengan China Shoutern Airline, jadi harus transit terlebih dahulu di Guangzhou. Secara waktu perjalanan memang lebih lama sekitar 3 jam, tetapi setelah tahun lalu saya memilih penerbangan langsung, rasanya ada pengalaman lain jika transit terlebih dahulu di China.

Setelah tiga malam menginap di JW Marriot Seoul, hari ini saya beserta kolega dari 10 negara Asia Tenggara lainnya pindah ke Daejon dan menginap di hotel Lotte Daejon. Besok pagi kita akan meneruskan perjalanan ke Busan. Hingga tanggal 12 Juli nanti saya mengikuti pelatihan tentang nuklir. Jadi selain mendapat pelajaran di ruang kelas, kita juga mengunjungi berbagai fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Korea di kota Daejon dan Busan.

Sejauh ini - selain rasa kangen yang sangat sama si-anak-laki-laki saya dan mamanya, Alhamdullillah semua berjalan lancar. Sesuai geografinya, di sini puasanya sekitar 17 jam sehari; imsya' jam 3 pagi hingga berbuka pada pukul 8 malam. Sejauh ini Alhamdullilah lancar-lancar saja, dan mari berdoa semoga Insya Allah juga selalu diberikan kemudahan oleh Allah.

Labels: