Wednesday, January 30, 2013

Belajar Tanpa Air Mata

Minggu pertama kuliah Coursera, cukup puyeng rasanya menyesuaikan dengan pola pembelajaran online ini. Satu mata kuliah mensyaratkan 7-8 jam belajar setiap minggunya, dan 2 dari 5 kelas yang saya ambil, mulainya berbarengan hari Senin kemaren. Artinya saya harus mengalokasikan waktu 14-16 jam setiap minggunya untuk kedua kelas ini.

Tahun lalu saya sempat ikut kuliahnya online-nya UNESCO. Delapan minggu perkuliahan online, dan setiap minggunya diisi oleh Profesor yang berbeda dari universitas yang berbeda-beda, dari berbagai penjuru Asia. Waktu tayangnya juga beragam. Untung saja bukan dari Amerika sana yang berbeda waktu 12 jam dengan kita di Jakarta. Waktu itu saya berhasil menyelesaikan dengan baik. Tugas-tugaspun lancar semua.

Tapi sepertinya pengalaman baru lagi dengan kuliah Coursera ini. Per satu minggu ada sektiar 4-5 video perkuliahan yang harus saya tonton, dan masing-masingnya diakhiri dengan kuis. Untung saja ada banyak penjelasan awal yang membantu kita bagaimana bisa sukses mengikuti perkuliahan online ini.


Nah, untuk bisa memahami apakah pola belajar saya sesuai dengan lingkungan belajar online ini, situs Coursera menyarankan untuk ikut tes ala VARK Learning Style Questionnaire di http://www.vark-learn.com/english/page.asp?p=questionnaire atau Index of Learning Styles Questionnaire (ILS) di http://www.engr.ncsu.edu/learningstyles/ilsweb.html.

Hasil tes menyimpulkan bahwa pola belajar saya lebih dominan melalui tulisan alias Read/Write.

Tapi ada satu kotak yang saya temukan di kesimpulan hasil tes saya yang membuat saya hampir menangis.
Buat semua teman yang masih berjuang menyelesaikan study-nya, yang ga lulus-lulus juga S1, yang masih mentok tesis S2, atau yang mulai linglung S3, ga boleh nangis ya. :-D


Tuesday, January 29, 2013

Kurangi Membaca

Richard Thaler:
My advice for young researchers at the start of their career is… Work on your own ideas, not your advisor’s ideas (or at least in addition to her ideas). And spend more time thinking and less time reading. Too much reading leads people to think of small variations on existing studies. Admittedly my strategy of writing the paper first and only then reading the literature (or, more likely, letting the referees tell me what they think I should have read) is an extreme one, but it is better than trying to read everything. Try writing the first paper on some topic, not the tenth, and never the 50th.
Spend more time thinking and less time reading.
Oke sip!

Oh ya, perkembangan terbaru soal tesis, Alhamdulillah sidang pertama berlangsung sukses jaya. Terima-kasih buat semua yang sudah membantu.

Sekarang, tahap 2, penelitian yang sebenarnya.

Pesan sponsor, harus selesai sebelum brojol, ahahaha.

Ingat, kurangi membaca. :-D

Oh ya, kelas Coursera-nya, ada dua kelas yang saya ikuti yang mulai hari ini,  Energy101 dan Microeconomics Principles. Menyenangkan, tapi kok dah langsung quiz dan banyak PR ya, hohoho.

Monday, January 28, 2013

Ide: Gawat Darurat

Pas istirahat siang tadi, ke rumah sakit, menemui dokter THT. Sudah dua mingguan ini telinga kiri saya rasanya ada gangguan. Pulang-pulang dari dokter, soal masalah telinga berkurang, tapi jadinya sekarang otak saya pusing. Setres habis lihat video langsung isi dalam kepala saya, masuk dari lubang telinga, dan masuk dari lubang hidung. Mirip goanya Batman, tapi warnya rada merah, dan lebih spooky, hehehe. Tapi Allah Amazing benar menciptakan makhluk-Nya ya.

Oh ya, tadi kan daftar dokternya via telpon. Saya jadi terpikir satu hal.
Setiap nomor telepon rumah sakit yang saya hubungi, selalu saja diawali dengan sapaan, informasi pilihan bahasa, lalu info ini tekan nomor sekian, mau ini tekan nomor sekian.

Nah, yang menurut saya kurang pas adalah si pilihan gawat daruratnya bukan yang pertama muncul.

Contohnya saja RS MMC. Ketika kita telpon, suara mbak-mbak (mesin) akan bilang "terima-kasih", lalu menyapa "selamat pagi/siang/sore", dilanjutkan dengan informasi pilihan bahasa. Setelah itu baru info pilihan khusus. Unit Gawat Darurat memang ada dalam pilihan pertama. Tetapi harusnya ini perlu diubah. Jadi idenya begini.

Begitu kita angkat nomor telpon, tanpa basa-basi sapaan ini itu, yang pertama diucapkan si mbak-mbak mesinnya adalah"
Gawat Darurat, Tekan 1.
Jika bukan silahkan tekan 2.

Nah, baru dilanjutkan terima-kasih, selamat-selamatan, pilihan ini itu.

Jadi langsung prioritas buat yang gawat darurat.
Mudah-mudahan si MMC, atau RS lain ada yang dengar masukan ini.
Save the life!

Tuesday, January 15, 2013

Menjadi 28

16 Januari 2013, dan hari ini saya ulang tahun. Di Jakarta masih satu jam lagi, tetapi di sini saya sudah usia baru. :-)

Sedang di Putrajaya, Malaysia dalam rangkaian perjalanan dinas yang seharusnya berlanjutan mulai dari Brunei Darussalam pada tanggal 6 Januari yang lalu, lalu lanjut ke Kamboja, Laos, Malaysia, Myamar, Filipina, Singapura, Thailand dan terus ke Viet Nam sebelum kembali ke Indonesia pada tanggal 2 Februari 2013.

Saya bukanlah pecandu jalan-jalan, namun beberapa waktu lalu, kesempatan mendapatkan perjalanan dinas seperti ini sesuatu yang sangat inginkan, apalagi kali ini perjalanannya lengkap ke sepuluh negara di Asia Tenggara. Tapi untuk kali ini, setelah beberapa kali membicarakannya dengan atasan, saya akhirnya hanya perlu datang ke tiga negara yang cukup krusial, sedangkan yang lain bisa ditangani sang rekan.

Prioritas itu telah berubah. Keluarga adalah yang utama. Menjalani hari bersama istri tercinta di apartemen mungil kami, berangkat bersama setiap pagi dengan kereta, dan saling menunggu di stasiun saat senja tiba sambil memikirkan kami akan masak apa buat makan malam, memijat kaki istri, mengagumi titipin Illahi yang tak henti bergerak dalam perut istri, sambil saling bercerita tentang hari ini hingga terlelap tidur di ranjang kami setiap malam... sesuatu yang saya rindukan setiap hari. Seperti saat ini.

Tidak sabar rasanya menunggu jemputan taksi yang akan mengantarkan saya ke KLIA, lalu terbang bersama Garuda kembali ke Jakarta, ke pelukan istri tercinta.

Menjadi 28, yang saya inginkan hanyalah melihat istri tersenyum bahagia setiap detiknya, menanti keluarga kecil kami. :-)

Alhamdulillah, puji syukur ya Allah.