Thursday, June 27, 2013

Living in the Mirror


Seringkali kita meyakini bahwa dunia kita begitu luas, padahal nyatanya kehidupan ini hanya tentang sebuah kotak elevator berdinding kaca yang naik turun.

@Bali

PS: Nova, dilarang komentar soal kaos ya. :-P

Wednesday, June 26, 2013

First 1st

Bangun tidur, seorang anak langsung berlari menemui Bapaknya.

"Bapak, Bapak... Hari ini aku mau buat rumah pohon buat semua merpati di kebun, terus aku mau garis penyeberangan agar nenek depan rumah tau kalau mau menyeberang jalan dimana, dan habis itu aku mau ngajak teman-temanku buat bersihin semua sampai di jalanan dari depan rumah kita sampai ujung gerbang sana. Tapi sebenarnya aku juga ada rencana buat belajar memasak hari ini biar aku bisa masak buat teman-temanku di taman bermain. Eh, tapi aku bingung mau mulai yang mana dulu, yang mana dulu, Bapak?

Sang Bapak menarik nafas sejenak, lalu berkata bertanya, "Nak, tempat tidur kamu sudah dirapihin?"

@Westin Nusa Dua.

Thursday, June 13, 2013

Concentreat

Why is it so hard to concentreat?

Tuesday, June 11, 2013

Kagum Danang

Sepengetahuan saya, belum ada kota yang beneran baru di Indonesia. Kita tidak sedang bicara tentang "kota" seperti Bumi Serpong Daman (BSD) City, atau juga kota baru Parahiyangan, apalagi kota Kasablanka (ini cuma nama mall).

Malaysia punya Putrajaya ataupun Iskandar, Korea punya Incheon. Dan Vietnam, punya Danang.

Terus terang, saya masih kagum dengan Danang.


Wednesday, June 5, 2013

Indonesia-Vietnam, Ekspor Impor

Dengan segala pertimbangan, bapak Menteri perdagangan Gita Wirjawan mengatakan bahwa penyediaan beras oleh Vietnam bagi Indonesia akan diperpanjang dari 1 Januari 2013 hingga 31 Desember 2017 sebanyak 1,5 juta ton.

Di saat yang bersamaan, Vietnam mengimpor Baim dan Pepi dari Indonesia.

Hore, neraca perdangan kita dengan Vietnam tidak defisit.

Markitos!



Tuesday, June 4, 2013

Danang - Menikmati Pantai

Pertama kali ini, dan saya suka sekali dengan kota Danang. Ini bukan kota baru yang sengaja dibangun seperti Putrajaya di Malaysia atau Incheon di Korea, karena begitu banyak rumah-rumah penduduk lokal berada di antara bangunan-bangunan baru seperti hotel, resort, ataupun gedung perkantoran. Bahkan katanya kota ini dulu adalah bekas daerah basisnya tentara Amerika (Rambo?) datang ke negara ini. Tetapi tata kotanya sungguh menyenangkan. Jalanan yang luas, taman-taman yang banyak, dan lingkungannya begitu bersih.

Kebetulan dua hari ini saya ada seminar dan rapat di Furama Resort Danang yang harus saya hadiri. Kegiatannya sendiri dimulai pukul sembilan. Biasanya, saya jarang tidak pernah keluar pagi -jogging- menikmati lingkungan sekitar seperti yang kolega saya sering lakukan. Tetapi Danang mengundang dengan cara yang tidak bisa saya tolak. Pagi ini saya terbangun, dan kaget karena matahari sudah begitu terangnya menerobos kamar hotel saya, padahal baru pukul 5 pagi. Tidak seperti di Jakarta yang masih terasa gelap walau sudah pukul setengah tujuh pagi (di kamar tidur saya, hehehe).

Masih sekitar empat jam sebelum kegiatan dimulai. Akhirnya saya putuskan memakai pakaian olahraga saya dan memulai langkah jogging pagi menelusuri jalan menuju pantai di sebelah hotel saya. Ya, hotel ini tepat berada di pinggir pantai. Pantai dari laut China Selatan.

Dan lihat inilah yang saya temukan. Keindahan pantai memang sesuatu yang ditawarkan. Tetapi bagian paling menarik dari Danang adalah masyarakat lokalnya menikmati berenang setiap pagi sebelum memulai harinya. Bukan sekedar menjadi penonton terhadap bule-bule yang berseliweran seperti di Kuta. They own the beach. Daaaaaaan bersih, tidak ada tukang asongan dan tidak ada yang buang sampah sembarangan. How lovely it is.

Lokal, berjalan santai kembali ke rumah setelah berenang di pantai.

Pose di pantai. Sepertinya hanya saya seorang yang berfoto.

Tidur di pantai berselimut pasir.



Menikmati laut China Selatan.
This beach provides what other beaches promised!

Monday, June 3, 2013

Penerbangan Kali Ini

Dua tahun lalu, empat kali saya merasakan pengalaman lintas batas. Sarapan pagi di Paris, makan siang di Doha, dan makan malam di Jakarta. Semuanya dalam satu hari yang sama. Sungguh suatu pengalaman yang menarik sekali.

Dan hari ini, pengalaman baru lintas batas lagi.
Jakarta-Singapura-Siem Reap-Danang. Empat kota, empat negara dalam satu hari. Semuanya dalam waktu kurang dari 12 jam. Melelahkan, namun rasanya juga cukup menyenangkan.

Biasanya, dalam setiap penerbangan, saya selalu memilih tempat duduk yang di sisi gang. Awal-awal dulu, saya memang paling antusias untuk duduk di sisi jendela. Melihat pemandangan dari ketinggian ribuan meter. Tetapi seiring jadwal penerbangan yang terlalu sering, saya tidak lagi menikmatinya. Urusan agar gampang kalau ingin ke toilet, gampang kalau mau ambil-ambil barang di bagasi atas, sampai lebih leluasa untuk turun terlebih dahulu, membuat saya sekarang sebisa mungkin memilih kursi yang di sisi gang. Terutama ketika penerbangan yang saya jalani adalah perjalanan bersambung. Turun pesawat, naik pesawat, dengan waktu singgah yang pendek.

Tetapi hari ini saya memutuskan untuk kembali memilih duduk di jendela. Mengapa? Foto-foto ini adalah beberapa alasannya.

Biru langit, biru laut. 

Nun jauh di bawah sana.

Terperangkap awan.

Desa di aliran sungai.

Sungguh luar biasa, bukan?