Thursday, December 24, 2009

Oxford

Saya baru punya Oxford Learner's Pocket Grammar dan Oxford Learner's Pocket Dictionary. Kecil, lucu. Lumayan buat persiapan menghadapi Free Trade dan Globalization yang katanya mulai berlaku per Januari 2010, dan juga pemilihan Miss Universe tahun depan (lagaknya, hehehe).

Terimakasih buat Indri, sahabat Saya yang paling dodol sedunia, atas hadiahnya, hehehe.

Labels: , ,

Menghitung Hari

Menghitung hari, detik demi detik
Masa kunanti apa kan ada
Jalan cerita kisah yang panjang
Menghitung hari

Labels: , ,

Monday, December 21, 2009

BlackBerry

Hari ini, saat makan siang disebuah rumah makan dekat kantor, tidak sengaja Saya bertemu dengan seorang mitra kantor. Karena memang berpapasan, kita saling menyapa. Kebetulan sekali, karena minggu lalu Saya mengirimkan email kepada beliau namun belum juga dibalas.

"Halo, Pak. Makan siang juga?" ucap Saya menyapa berbasa-basi. "Iya. Sama kan?" tanya beliau.

"Eh, Pak. Yang buat proyek di Bali bagaimana? Kapan Saya bisa dapatkan perhitungannya?" lanjut Saya bertanya. Si Bapak tersebut menjawab, "Kasih lihat dulu Saya layout-nya. Baru Saya buatkan perhitungannya".

"Loh, Saya sudah email ke Bapak layout-nya," imbuh Saya. Dengan raut bingung si Bapak tersebut bertanya, "Sudah di-email? Kapan? Kok Saya belum terima ya". "Eh tapi jangan di-email deh, Pak. Di-fax-kan saja. Saya jarang buka email. Jarang pakai komputer Saya. Bapak fax gambarnya, terus habis itu telpon atau sms Saya kabarin. Atau PIN BB Bapak berapa? Kita chat lewat BB saja. Free. Gratis." lanjut si Bapak tersebut dengan muka sumringah.

Tampaknya, tidak perlu menunggu 2012 untuk tobat. :D

Labels: ,

Saturday, December 19, 2009

Saya dan Ponakan

Puff. Sudah pernah Saya ceritakan kalau Saya punya 17 orang ponakan? Ya, tujuh belas dan itu orang semua. Kebangkrutan menghadapi antrian mereka menunggu jatah lebaran saja sudah membuat Saya merasa mengalahkan almarhum Meggy Z sebagai laki-laki termiskin di dunia. Yang bikin lutut lemesnya lagi, mereka suka lupa kalau lebaran itu cuma sekali dalam setahun. Bahkan, beberapa orang ponakan malah bisa jadi lebih dari tiga kali meminta hadiah ulang tahun dalam setahun. Ya, tujuh belas orang itu adalah orang semua.

Dan, hei, Saya belum cerita bagian yang paling memprihatinkannya.

Muhammad Irfan. Umur 6 tahun. Sudah 2 tahun menolak masuk TK. Selalu memaksa Mamanya duduk di kursi kecil menemani sepanjang waktu sekolah. Tetapi, baru seminggu sekolah, di kamera yang Saya hadiahkan untuk ulang tahunnya, sudah ada 300an lebih photo anak-anak perempuan. Tidak semua perempuan, hanya yang cantik saja. Mamanya menyalahkan Saya.

A. Putri Kiranti alias Riri. Umur juga 6 tahun. Sudah kelas 1 SD. Juara main kelereng satu kelurahan. Jago panjat pohon, dan bermain bola. Sudah pernah Saya bilang kalau dia adalah perempuan? Ya, dan senjata pamungkas dia di sekolah adalah menangis tiap kali menerima hasil ulangan cuma 60. Dan dia tidak akan berhenti menangis sampai si Ibu Guru menambahkan nilainya menjadi 90. Ibu gurunya, yang juga Ibu guru Saya waktu SD dulu bilang, perilaku Riri sangat mirip Saya sewaktu SD.

Aldo Ikhsan. Umur? Saya lupa, hehehe. Yang jelas inilah anak yang tidak terima penjelasan gurunya bahwa bahasa Australia itu sebenarnya adalah bahasa Inggris. Oke, ini Saya yang mengajarkan.

Arif (Dan Saya lupa nama lengkapnya, hehehe). Umur? Saya juga lupa. Kelas 4 SD (seharusnya). Anak satu ini merasa satu-satunya alasan untuk ke sekolah adalah untuk belajar menghitung uang kembalian belanja. Hal ini juga yang membuat Saya merasa sudah paling jago Matematika sewaktu SD, hehehe.

Gina Zulfa Dilla. Kelas 2 SMP. Umur ya kira-kira 14 tahun lah. Kemaren Mamanya telphon bercerita, kalau ponakan Saya yang satu ini habis disetrap gurunya gara-gara ngotot bahwa gambar Soe Hok Gie yang dimilikinya adalah yang sebenarnya, bukan seperti yang diperlihatkan Ibu Gurunya. Ya, dapat Saya maklumi posisinya sebagai anak gadis yang baru beranjak remaja, sedang puber. Nicolas Saputra memang jauh lebih ganteng. Pas lah sama Uncu nya yang mengidolakan Dian Sastro.

Sekian dulu, Saya mau mengingat-ngingat dulu ponakan Saya yang lainnya. Kebanyakan, jadi lupa, hehehe.

Dan, minggu lalu Uda Saya yang menikah beberapa bulan yang lalu, mengabarkan bahwa istrinya sudah hamil 3 minggu. Artinya tahun depan Saya akan punya 18 orang ponakan. Ya, delapan belas dan itu orang semua.

Labels:

Sunday, December 13, 2009

Picture of the Week


see what i finger on? that's my 2nd favorite organ =)

Labels:

Thursday, December 10, 2009

Green Living

Percakapan di sebuah kantin dekat kantor di siang hari.

Perempuan 1 : Lu ntu ya mbok aware dikit sama lingkungan napa. Sampah buang sembarangan. Komputer ditinggal nyala. Rumah ditinggal tapi AC nya tetap nyala. Buka kulkas sembarangan. Ga pernah matiin lampu toilet. Susah jodoh lho ntar. Cakep-cakep tapi kelakuan minus.
Perempuan 2 : Yee.... ga urusan. Ntar juga kalo gw dapat suami yang green green gitu juga bakal berubah sendiri kok. Secara dia yang jadi imam, ya gw musti nurutin lah.

Hoo, tampaknya para aktifis lingkungan hidup punya ide baru untuk kampanye program mereka.:-)

Labels: ,

Saturday, December 5, 2009

Antara Uni, Samba dan Saya

Dering handphone membuat Saya terbangun di pagi ini.

"Ya, halo..." sapa Saya dengan suara yang masih terdengar ngantuk. "Ben, masih tidur?" tanya suara di seberang yang ternyata adalah Uni Del. "Baru bangun", jawab Saya dengan cengiran.

"Eh, Uni kirim samba buat kamu. Dah diterima, belum? Harusnya kemaren sudah sampai. Uni buatin banyak, tuh. Cukup buat kamu makan tiga hari. Dah diterima, belum? Ada rendang, gulai, samba lado. Banyak. " tanya Uni Del.

"Hooo...caaaa...sudah habis Beni makan semalaman", sahut Saya dengan muka malu. "Ya, masih ada dikit lah, buat pagi ini," tambah Saya.

Entah pulsanya habis, handphone nya low bat, atau shock... yang jelas seketika pembicaraan tersebut terputus.

Tak lama, masuk sebuah pesan pendek di handphone Saya. Dari Uni Del.
Isingya singkat, "KAPOK".

Saya hanya tersenyum membacanya. Bulan lalu, ketika Saya bilang Saya juga menghabiskan masakan yang dia kirimkan dalam sekejap, dia juga bilang kapok membuatkan Saya makanan. Membuatnya lama, masa menghabiskannya cuma sebentar.

Tapi percayalah, bulan depan, kiriman itu pasti akan datang lagi. Karena dua bulan lalupun, dia bilang hal sama. Sebulan sebelum itu, dua bulan sebelum itu, dan sebelum-sebelumnya, dia juga bilang hal yang sama. Saya tahu itu. Dan Saya tahu dia sangat Sayang sama adiknya. :-)

Sungguh, Uni Del adalah orang yang masakannya paling enak nomor dua sedunia buat Saya. Yang pertama, tentu masakan Ibu tercinta. :-)

Oh ya, jam sebelas nanti Saya ada janji bertemu dengan orang Italy di Plaza Indonesia. Semoga Saya mengambil langkah yang memang baik untuk Saya dan keluarga. :-)

Selamat menikmati hari.

Labels:

Thursday, December 3, 2009

new job kill me

Puff.... I am frustated.

Jadi, pertanggal 01 Desember kemaren, salah satu rekan kerja di kantor Saya mengundurkan diri. Karena belum ada orang baru, maka Saya ditugaskan oleh atasan untuk merangkap sementara. Jadilah sudah beberapa hari ini, selain mengurusin departemen Tata Udara Gedung (TUG), dan departemen Transportasi Dalam Gedung (TDG), Saya juga bertanggung jawab terhadap departemen Sanitasi, Drainase dan Pemipaan / Plambing (SDP).

Secara teknis, Saya sebenarnya cukup mengerti dasar-dasar ilmunya Plambing, tapi karena sekarang bertanggung jawab penuh terhadap desainnya, maka tentu saja Saya harus mempelajarinya lebih detil. Tapi sungguh, tiga hari ini berjalan, Saya sudah frustasi.

Sebenarnya di departemen Plambing, ada seorang asisten enjinir yang sudah cukup mumpuni. Bisa dibuktikan dari perawakan dan rambutnya yang sudah ubanan semua. Secara teori, harusnya ini akan berjalan mudah bagi Saya. Pelajari, dan jika ada kendala, bertanya pada beliau. Tapi sungguh, sepagi ini saja, rasanya Saya dah cukup punya alasan untuk gantung diri.

"Pak, kalau apartemen, itu hitungan kebutuhan air bersihnya berdasarkan jumlah kamar kan ya? Satu kamar, 1 kasur, 2 orang? atau berdasarkan asumsi jumlah penghuninya?", tanya Saya. "Ya bisa saja, tapi kalau di kamarnya kasurnya dipakai buat bertiga gimana? Masih mending kalau kasurnya ukuran King, kalau misalnya kasurnya ukuran buat anak-anak itu bagaimana?", jawab beliau. Belum sempat Saya mengklarifikasi pertanyaan, beliau malah balik bertanya, "Eh, kasihan juga ya orang-orang yang tidak punya rumah, yang terpaksa tinggal di kolong jembatan. Jangankan kasur, tempat untuk berteduh dikala hujan saja mereka tidak punya. Bagaimana pendapat pak Beni tentang hal itu?"

Lain waktu, Saya bertanya tentang rancangan jumlah hidran yang dibutuhkan di setiap lantai. "Pak, menurutku, di tiap lantai kita butuh dua hidran box. Panjang selangnya kan maksimun 30 meter. Butuh dua buah untuk mencakup setiap tempat di setiap lantai. Bagaimana menurut Bapak?". Sejenak beliau tampak berpikir, lalu menjawab "Benar, benar. Saya setuju. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana setiap penghuni apartemen tersebut punya kesadaran untuk menjaga agar tidak terjadi kebakaran. Kesadaran akan perilaku ini yang masih sangat rendah di bangsa ini."

PAKKKKK!!!! KITA ENGINEEERRRRR.... TIDAK BISAKAH KITA MEMBAHAS DESAIN SISTEM GEDUNG INI SECARA ENGINEERING???????

Frustasi, mending Saya nge blog.

Labels:

Wednesday, December 2, 2009

Riba

Beginilah nasibnya kalau punya teman yang baru kerja di bank syariah.

Dalam beberapa hari ini saja Saya sudah beberapa kali diceramahi. "Ben, kamu tu harus memutuskan pilihan kamu. Kalau memang suka sama perempuan, nikahi segera. Hindari pacaran, karena itu riba."

Sungguh, teman tersebut membuat Saya ingin tobat segera.

Labels:

Bahasa dan Bangsa, Om dan Ponakan

Jam setengah lima pagi tadi, Kakak Saya telephon. Protes soal anaknya.

Jadi gini, dua hari yang lalu, ponakan Saya bertanya, "Uncu, mengapa orang Inggris bicara pakai bahasa Inggris." "Itu karena mereka orang Inggris," jawab saya.

"Sama hal nya dengan orang Jepang yang pakai bahasa Jepang, atau orang India yang pakai bahasa India. Kalau misalnya orang Cina pakai bahasa Jawa, ntar orang Cina nya dikira orang Jawa." tambah Saya menjelaskan.

"Terus kenapa orang Australia bicara pakai bahasa Inggris? Kenapa mereka tidak pakai bahasa Australia?" lanjut ponakan Saya bertanya.

Dan Saya, Sang Om yang Ganteng, menjawab, "Hoo... salah. Orang Australia itu berbicara dengan bahasa Australia. Cuma memang terdengar mirip dengan bahasa Inggris."

Jawaban yang birilian, bukan?

Yang jelas, tadi pagi-pagi buta, Mamanya telphon Saya protes kemaren anaknya disetrap bu Guru gara-gara ngasih jawaban yang ngaco di kelas.

:-D

*Uncu = Panggilan Om paling bungsu dalam bahasa Minang.

Labels: ,