Wednesday, April 28, 2010

Susahnya Hidup Susah

Sebenarnya salah satu resolusi tahun 2010 Saya adalah mencanangkan tahun ini sebagai no complain year alias tahun tanpa keluh kesah kesusahan.

Tapi sepertinya, hingga bulan ke empat ini, semua terasa cukup berat bagi Saya.
Tidak bisa dipungkiri, makin hari hidup makin susah saja.

Jalan sendiri ke Mall, ada saja para pria pencinta sesama jenis yang melirik. Kencing di orinoirnya, ada saja yang mencuri lihat kepunyaan Saya. Susah benar hidup ini.
Jalan sama pacar, susah buat lirik kiri kanan nengokin perempuan cantik seksi berbaju mini yang bersileweran.

Ditraktir makan di restaurant sama Tante, ada saja yang lirik-lirik sambil menuduh kalau Saya peliharaan tante-tante. Cuma buat makan gratisan saja, susah benar.
Nemenin Om ke bengkel, susah buat ngasih pengertian para montir kalau Saya cuma mau belajar tentang mesin mobil, dikira Saya simpanan Om-Om.

Punya pacar cantik dan pintar,difitnah cuma tukang pelet. Jalan pelukan sama cewek jelek, diratapin orang dengan wajah iba tapi mengejek.

Numpang mobil Mercedes perempuan cantik, dikira pembantu disuruh nemenin juragan. Naik bisa omprengan, dikira kenek.

Berjemur di pantai Kuta telanjang dada, dikiran gigolo lagi nyari mangsa. Keliling-keliling pantai Sanur ga pakai celana, dikirain orang gila.

Susah benar hidup ini. :-D

Labels: , ,

Monday, April 26, 2010

Di-KO Banci 2-0

Sore ini pulang kantor, seperti biasa Saya naik TransJakarta, langganan halte Depkes-Pertanian.
Karena pulangnya sudah agak sore, muatan bisnya super berjejer. Terpaksalah Saya angkat ketiak seperti ribuan penumpang lainnya sepanjang perjalanan.

Hulaaa, pas di halte Pejaten, segelondongan penumpangnya keluar, yang alhasil tersisa satu tempat kosong di sebelah Saya berdiri. Pas mau duduk, tiba-tiba Saya melihat seorang perempuan yang kesusahan. Maksud Saya kesusahan berdiri, bukan wanita susah, hehehe. Satu tangan memegang tas yang terlihat berat. Dan sambil berjinjit, satu tangan lagi meraih gantungan yang agak kurang ramah sama tinggi badannya yang membuat roknya sedikit terangkat juga.

Dalam rangka memperingati hari Kartini, maka dengan ikhlas dan rela setulus-tulusnya Saya kembali berdiri dan menawarkan tempat duduk Saya kepada perempuan tersebut.

Terpogoh-pogoh sang perempuan menempati tempat duduk tersebut. Dan layaknya film India, pas Saya mencoba mencuri lihat ke wajahnya, sang perempuan tersebut juga memalingkan wajahnya ke Saya, sambil tersenyum lalu berkata, "Tengkiuuuuu Bowwwww. Eke dah pegeeelllll. Lama-lama bisa berotot deh."

SIAL, BANCI TERNYATA!!!
Dosa apa Saya kok dua hari dua kali di-skak sama banci.

Kemaren sore, karena malas jalan sendiri, maka Saya mengajak si Iqbal - bocah 4 tahun, teman main Saya selalu di kostan - menemani Saya ke Poins Square. Sore itu Saya mau pangkas rambut yang sudah gondrong dangdut ini di sebuah salon di sana. Kalau dulu sewaktu di Bandung, Saya biasa pangkas rambut di tukang pangkas DPR. Tapi dua tahun lebih Saya tinggal di Banjarsari, tak kunjung jua Saya bertemu. Alhasil, terpaksalah Saya pangkas rambut di salon.

Kurang beruntung, ternyata tukang pangkas langganan Saya sedang tidak masuk kerja hari ini. Mau pulang berganti hari, sungguh malas rasanya. Jadilah Saya mengiyakan saja tawaran si Mbaknya untuk dipangkas dengan salah seorang hairdresser yang ada saja.

Setelah meminta si Iqbal untuk duduk menunggu di kursi tamunya, Saya mengikuti suruhan seorang Mbak untuk dicuci rambut. Setelah cuci, Saya duduk menunggu sang Hairdresser datang. Oke, memang bukan hari baik Saya, karena ternyata kali ini Saya dapat jatah sama si Banci. Ya sudah lah, rejeki (lah kok? hehehe).

Sedang sibuk dipangkas, tiba-tiba si Iqbal datang mengampiri. Sepertinya dia bosan duduk menunggu, makanya Saya biarkan saja dia bermain-main di dekat Saya.

Si Hairdresser Banci yang melihat, langsung berujar,"Duh Om, dah punya buntut ni. Ai kirain duda tanpa anak gitu," sambil mencuri lihat ke si Iqbal.

Puff, lemas Saya mendengar komentarnya. Menampik tuduhan si Hairdresser Banci, Saya menjawab,"Bukan anak Saya. Anaknya housekeeping di rumah."

"Idihhhh, pake ga ngaku segala," balas tak percaya, seraya menambahkan, "nyantai aja Om, Ai sih ga masalah punya anak atau belum. Yang penting kasih sayang."

"Bukan anak Saya," tegas Saya.
Ditampik si Bencong lagi,"ngaku aja, Om. Iyakan, ini Papa kamu kan?" alih si Banci bertanya ke si Iqbal.

Mulai gondok, dengan tegas Saya kembali berkata,"Bukan anak Saya."
"Idiihhh, ngaku ngaku ngaku....!!!!," si Bencong bersikeras sambil nyubit Saya.

Ampun dah. Frustasi dan menyadari tak mungkin menang dan tak ada gunanya berurusan sama si Bencong, akhirnya dengan suara datar Saya menjawab, "Iya, anak Saya."

Berharap si Banci akan diam, ternyata SALAH BESAR. Dengan suara yang agak ditahan dan mimik muka yang aneh, si Banci berkata,"Ga percaya ah. Situ kan hitam, ga mungkin punya anak putih kayak gini."

BENCONG KUALAT!!!!!

Labels: , ,

Thursday, April 22, 2010

Sedikit Chubby

Ahaha, berita yang cukup menyenangkan bagi Saya yang memang lagi sedikit kehilangan arah. Pujian memang selalu membuat kita "sembuh", bukan? Walau sedikit tidak jujur adanya. Tapi Saya senang. Sila dicoba di sini.

Labels: ,

Friday, April 9, 2010

Telephon dari Kawan Lama

Saya lagi senang-senangnya telphon-telphonan sama kawan lama. Lebih tepatnya, lebih senang ditelphon, karena kan Saya tidak perlu keluar duit buat pulsa untuk telphon-telphonan dengan kawan lama yang tentu saja setelah lama tidak telphon-telphonan maka kita akan lama-lama bertelphon-telphonan, hehehe.

Kemaren pagi satu kawan lama. Malamnya Saya berlama-lama juga bertelphon-telphonan dengan satu kawan lama lagi. Biasanya sih kejadian dalam hidup Saya suka hat trick-hat rick'an gitu. Jadi bakal ada satu kawan lama lagi sepertinya yang akan menelphon Saya.

Dan huplaaa, pucuk dicinta ulam tiba. Saat pagi ini Saya sedang sibuk bernyanyi Satu Jam Saja versi Audy (ya, datang kepagian ke kantor, terperangkat di lorong lobby lift lantai 6 yang masih gelap, pintu dikunci jadi tidak bisa masuk, tentu saja bernyanyi menjadi pilihan yang bisa dimaklumi, hehehe), tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Nomornya tidak dikenal. Mamamia,  pasti ini another kawan lama.

Lanjut >>

Labels: , ,

Thursday, April 8, 2010

Statistik

Anda penyuka statistik? atau pembenci statistik?

Jadi, pagi ini, Saya baru saja telphon-telphonan dengan seorang kawan lama. Disebut kawan lama, karena memang sudah dari lama kita berkawan, dari sekolah menengah pertama dulu, kira-kira tahun 95an, dan sampai sekarang artinya sudah sekitar 15 tahunan Saya berkawan dengannya. Disebut  kawan lama, karena memang sudah lama pula kita tak bersua dan bercakap ria, terakhir waktu kita sekelas di kelas tiga sekolah menengah atas. Dan disebut kawan lama, karena mukanya muka lama, ala tujuh puluhan, hahahaha, semalam Saya sempat lihat photo di Facebooknya. :-D

Dan pagi ini, setelah sekian lama tidak berhubungan, kita telphon-telphonan. Tanya sana-sini yang berujung ke pertanyaan, sudah menikah kah? Hahahaha, ini pertanyaan yang tidak bisa tidak untuk ditanyakan ya?

Berusaha untuk mengelak, Saya timpali dia dengan berkomentar, "Wah, gila, masa udah kawin aja. Masih muda gini. Cepat amat."

Dengan datarnya dia menjawab, "Cepat apanya? Lah di lingkungan Saya sekarang yang seumuran dah kawin semua. Coba perhatikan data-data teman lama kita semua. Teman SMA, sudah di atas rata-rata jumlah teman yang menikah. Teman SMP, delapan puluh persen ada kali yang sudah menikah dan punya anak. Teman SD, walah, sudah pada ribut punya anak keempat malah sekarang. Statistiknya seperti itu, Ben".

Walah, kenapa nyambungnya ke statistik ini? Ampun dah.
Tapi ngomong-ngomong, Saya suka statistik. Kalau anda? :-)

Labels: , ,

Thursday, April 1, 2010

Bukan Batak, Bukan Jawa

Saya bingung, kenapa di kantor ini pagi tidak bisa dimulai dengan ketenangan. Selalu ada saja keributan yang terjadi, seperti pagi ini.

Bernard, pemuda asli Batak, yang sedang asik dengan komputernya tiba-tiba bergumam, "Gila ya ni si Gayus. Korupsi pajak 25 milyar. Malu-maluin orang Jawa aja."

Pak Slamet, yang sedang serius membaca koran tersentak mendengar. Sebagai sang Jawa tulen, produk asli Gunung Kidul, sepertinya beliau tidak terima Gayus jadi orang Jawa. "Eh, Jawa apaan. Gayus tuh Batak, bukan Jawa," sahut pak Slamet dengan suara lantang.

"Jawa ah," sanggah Bernard.
"Batak!!!", tegas pak Slamet.
"JAWA."
"BATAK. LAH WONG NAMANYA TAMBUNAN GITU. PASTI BATAK"
"JAWA."
"BATAK."
"JAWA."
"BATAK."
"JAWA."
"BATAK."
"JAWA."
"BATAK."

Huff, kasihan banget ya si Gayus Tambunan, ga ada yang ngakuin sukunya, kalau dah gini uang 25 milyar seakan sia-sia. :-D

Labels: , , ,