Wednesday, March 17, 2010

Sariawan Thailand

Tidak bisa disangkal Tuhan memang Maha Adil.

Jadi ceritanya Saya sedang menderita karena sariawan sebesar ibu jari, tepat di lidah bawah sebelah kiri Saya. Sungguh, rasanya begitu mengenaskan. Jangankan makan Dendeang Balado, buat bicara saja sakitnya minta ampun. Kesedihan film India terbarupun, My Name is Khan, masih belum sebanding dengan apa yang Saya derita. Mulai dari ngemut tablet hisap hingga belasan biji, sampai oles-oles Arabian Oil semuanya sudah Saya coba. Namun apa dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dengan terpaksa riang gembira, Senin kemaren Saya tetap berangkat kerja.

Dan tahukan apa tugas utama Saya untuk hari Senin kemaren tersebut? Menelphon departemen energi dari sepuluh negara ASEAN. Bayangkan, sungguh pekerjaan yang sempurna sekali bukan untuk orang lagi sariawan sebesar ibu jari.

Biasanya Saya selalu memulai sesuai Abjad, dari negara Brunei dan terakhir Vietnam.
Tapi kali ini, Saya telphon yang orang Indonesia dulu saja, paling tidak dalam kondisi ini berbicara bahasa Indonesia akan sedikit lebih mudah dibanding bahasa Inggris, bukan?

Tapi tahukan Anda, orang Indonesia di ujung telphon sana jawab apa? "Maaf, Pak. Mau bicara dengan siapa? I am sorry, Sir. I can't hear you. Would you mind to speak louder, please".

Ampun.
Apa kejadiannya kalau Saya telphon Vietnam, Myanmar atau Laos yang bahasa Inggrisnya juga kumur-kumur. Atau mungkin mereka jadi lebih mengerti ya? Hehehe. Ya sudah Saya tunda dulu saja urusan ini.

Lanjut cerita, hari Senin itu juga ada rekan kerja baru di kantor, orang Thailand. Ya etikanya orang baru yang bersopan-santun, si Thailand datang untuk memperkenalkan diri ke cubicle Saya. Bukannya Saya sombong, cuma karena memang sedang tidak bisa bicara, akhirnya Saya cuma salaman sambil bergumam nunjuk-nunjuk ke mulut Saya. Mungkin si Thailand mengerti Saya lagi sariawan, maka dengan sopan dia segera kembali ke cubicle-ya.

Eh, siangnya, si Thailand datang lagi ke meja Saya sambil berkata, (terjemahannya langsung ya) "Anda sangat luar biasa sekali, Mr. Beni. Walaupun ada memiliki kekurangan tidak bisa berbicara, namun Anda mampu berada di posisi sekarang ini. Sungguh, Anda sangat luar biasa. Sangat menginspirasi buat Saya".

Puff, dikira Saya saudaraan sama Aziz Gagap-nya Opera Van Java sama si Thailand.
Sungguh, saat itu Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada si Thailand, tapi yang jelas dari cubicle sekeliling terdengar tawa yang tiada hentinya.

Hahaha, Saya juga urung tuk menjelaskan ke dia. Menikmati sesaat menjadi idola dan inspirasi si Thailand, hehehe. Pagi ini, Saya disapa dengan sopan sekali sama si Thailand. Menyenangkan, bukan? :-D

Tapi sepertinya ceritanya tidak berakhir ala dongeng happily ever after. Tadi pagi saat menunggu lift, Saya bersua dengan salah seorang pegawai di lantai bawah. Dengan sopan dia menyapa dan mengajak Saya berbicara. Apamau dikata, Saya kan masih kesusahan untuk berbicara. Alhasil Saya cuma menggangguk-angguk saja mendengar dari mulai menunggu lift, sampai masuk lift, sampai keluar lift.

Barusan Saya dikabarkan salah seorang staf, bahwa Bapak Pejabat di lantai bawah tersinggung dengan Saya yang tidak sopan menanggapi berbicara dengan beliau.

Puff, nasib-nasib.

Ya sudahlah, hari ini masih banyak bahan yang harus Saya pelajari, (dan Saya masih sempat menulis blog ya? hehehe). Selamat hari Rabu yang ceria, semua. :-)

Labels: , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home