Friday, September 28, 2007

Restricted Number

call from restricted number
receive or no?

yup
kubahagia. =)

Thursday, September 13, 2007

Taraweh Malam Pertama

Tadi malam aku taraweh di masjid.
Memang sih rada diluar urutan sebenarnya. Sholat tarawih dan witir dulu, baru kemudian sholat Isya. Soalnya aku baru pulang, bahkan itu juga tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung saja ke masjid.
Awal yang bagus, semoga bisa selalu taraweh di masjid berjamaah selama Ramadhan ini.
Doakan ya.

Oh ya, dari kemaren sore, Solok, kota kecil dimana aku berasal, diguncang gempa. Cukup besar, tapi Alhamdulillah keluarga di rumah baek-baek saja.
Kangen ingin ngumpul bersama keluarga semua. Papa, Ibu, Kakak-kakak, ponakan semua. Oh tidak, 15 orang? Semoga pas pulang lebaran kali ini ponakanku tidak bertambah lagi. Mengasuh 15 orang ponakan di hari lebaran, dimana para orangtuanya jalan berlebaran ke rumah tetangga, kerabat ataupun rekan kerja cukup melelahkan, tapi juga menyenangkan. =)

Wednesday, September 5, 2007

What a Shame

Aku salah.
Dan para trainer terkenal seperti Steven Covey atau Brian Tracy juga salah.
Ternyata tidak selamanya berpikiran positif terhadap orang lain itu harus dilakukan. Apalagi jika sedang menumpang menginap di rumah orang.
Bangun pagi, di meja sudah ada handuk dan satu set peralatan mandi lengkap. “Wah, terima kasih sekali”, pikirku. “Tapi si empunya rumah kemana ya? Kenapa tidak kelihatan? Ah, mungkin kembali tidur setelah menyiapkan semua peralatan ini buatku”.
Masuk ke kamar mandi, aku sungguh terkejut lagi. Betapa tidak, bath-up sudah siap. Air yang hangat-hangat kuku begitu menggoda untuk berendam di pagi hari. “Benar-benar orang yang sangat baik, tidak sekedar memberiku tumpangan buat menginap, tetapi bahkan sampai menyiapkan air panas buatku berendam” pujiku.
Dua puluh menit berlalu dan aku telah selesai.
Melewati ruang tengah, “wah, benar-benar sangat baik sekali” lanjutku memuji sang empu rumah begitu melihat di meja sudah terhidang satu piring roti lengkap dengan beragam selai dan keju, juga ditemani secangkir susu.
Sepanjang waktu aku sarapan dengan roti dan susu itu, selama itu pula tak hentinya aku memuji kebaikan hati sang empu rumah. Begitu baiknya memuliakan tamu. Sungguh kedua orang tuanya pasti juga adalah orang yang sangat baik dan telah berhasil menanamkan di diri anaknya bagaimana dalam melayani seorang tamu. Terutama tamu-tamu yang tidak punya bath-up di rumahnya, dan jarang makan roti berlapis keju, ya seperti diriku.
Benar-benar pagi yang luar biasa.
Tapi kenapa sang empu rumah tidak kelihatan juga, tidak ikutan sarapan? Ah sudahlah, mungkin sang empu rumah masih ingin istirahat di kamarnya. Lebih baik aku sarapan saja.
Sungguh, aku tidak akan keberatan untuk dalam beberapa hari ke depan selalu menyempatkan diri mendoakan si empu rumah agar selalu diberikan kelebihan rezeki oleh Yang Maha Kuasa.
Selesai sarapan, aku hendak kembali ke kamar, namun seketika melihat sang empu rumah muncul di pintu depan.
“Hai Benx, sudah bangun? Gimana nyenyak tidurnya? Sapa sang empu rumah kepadaku. “oh ya, kalau kamu mau mandi, kamu pakai aja kamar mandi yang di belakang itu, kebetulan pembantu lagi ga ada, kamu bawa odol dan sabun gitu kan ya?”. “Oh ya, habis mandi kalau kamu lapar, tungguin aja, biasanya tiap pagi ada tukang bubur gitu yang lewat” lanjutnya.
Dan tiba-tiba saja aku begitu berharap ada Doraemon yang meminjamkan pintu kemana saja-nya.
Dan Steven Covey, Brian Tracy..harusnya kalian masuk penjara.