Wednesday, February 23, 2022

Lalu, lalu apa?

Di taksi, saat perjalanan menuju rumah sakit. Banyak sekali kata yang ingin dirangkai.

Di kafe, kala mengobrol dengan teman. Tiba-tiba saja ada sejuta kata yang hendak ditulis.

Di kasur, ketika sedang asik meluncur di dunia maya. Seketika terlintas ribuan kata yang mau ditata.

Lalu ketika di depan laptop, bingung mau tulis apa.

Sekian. 


*judul diambil dari dialog AADC?

Sunday, February 13, 2022

Dan Kembali Lagi

Di rawat lagi.

Sama seperti di bulan Januari lalu, kali ini pun 5 hari di sana.

Di kamar suite yang sama. 

Tak bisa bergerak, waktu dijalani hanya di tempat tidur saja. Tidak sempat mencoba sofanya. Tidak sempat mencoba meja kerjanya, atau ruang makan yang juga dilengkapi dengan dapurnya.

Tak tahan kesakitan, pikirannya sepenuhnya pada rasa kesembuhan.

Dokter dan perawat datang silih berganti, obat ini obat itu, tindakan ini tindakan itu. Semuanya diangguk saja demi badan kembali tertata.

Ketika pulang, tak terbersit sedikitpun rasa khawatir soal biaya. 

Sama seperti di bulan Januari lalu, saya pun hendak berlalu tanpa singgah di kasir.

Tapi kali ini langkah terhenti, dan akhirnya bertanya angka.

Sungguh besar, dan jika ini dibayar sendiri, akan melorotkan kepunyaan harta.

Tertegun, teringat betapa ini karunia yang tak banyak orang diberi.

Sungguh Allah Maha Kuasa atas Hamba-Nya.


Tuesday, February 8, 2022

Lingkaran Kecil

Sepertinya pandemik Covid-19 masih terus berlanjut.

Dan karena ada pembatasan keramaian, lazim sekali kita dengar sekarang berita suka cita pernikahan yang hanya mengundang orang untuk menyaksikan melalui pranala virtual, tak diminta datang.

Karena kerumunan mesti dibatasi, memang jadinya sekarang hanya keluarga dan orang-orang yang sangat dekat saja yang datang. Kita yang bukan, cukup ikut berbahagia dengan menyaksikan di layar kaca.

Tapi ada cerita ketika seorang teman, yang yakin sekali bahwa dia adalah orang dekat yang akan diminta datang secara langsung, ternyata harus menahan rindu sambil merutuki si virus karena ternyata diapun hanya bisa mengikuti acara sahabatnya dengan pelukan maya.

Saat dia mulai menghibur diri bahwa ini semua adalah untuk kebaikan dan kesehatan semua karena mereka adalah teman yang sangat dekat dan akan saling menjaga, saat dia mulai meyakini diri bahwa ini bentuk dukungan dia sebagai sahabat, saat itu juga matanya tertegun menatap layar kaca, melihat teman lain dari si sahabat ternyata datang secara langsung di acara tersebut, tertawa bahagia bercengkrama bersama si "orang yang dia kira dia adalah sahabat terbaiknya si sahabat".

Mengira selama ini dia punya arti di sisi, tapi ternyata hanya sebatas penonton virtual resepsi.

Memang tak jarang kita salah menilai diri.

They say you should keep your circle small, but tbh I'd rather have no circle at all. Just a few people here and there who I trust (unknown).