Monday, December 30, 2019

Wellbeing 2020

Akhir 2018, saya sempat berjanji pada diri untuk mulai ramah pada badan dan pikiran sendiri. Untuk tidak lagi begadang setiap malam larut dengan segala pekerjaan.
Memang sudah sejak lama saya terlalu tenggelam dalam urusan pekerjaan. Hampir setiap malam, setelah si bocah (saat itu masih satu) telah terlelap, saya kembali bangun dan bergumul dengan laptop. Rasanya pekerjaan banyak sekali dan tak ada hentinya.

Akhir 2018, saya memutuskan untuk tak lagi begadang. Sesekali membawa pekerjaan pulang boleh lah, namun tidak untuk setiap malam. Badan ini tidak sekuat 10 tahun yang lalu, dan juga tahun ini pun bocah sudah ada dua, dan saya butuh waktu lebih lama untuk Bersama mereka.
Dan memang, Alhamdullilah, jarang sekali saya membawa pekerjaan pulang dan begadang. Membawa pekerjaan pulang sih masih, tetapi biasanya laptop tak tersentuh juga dari sesampainya di rumah di Jumat malam, hingga Senin pagi ketika akan berangkat ke kantor lagi.
Sesekali masih, ketika memang ada pekerjaan yang mendesak sekali.
Namun, jika dibanding dengan tahun 2018, 2019 bisa dibilang tahun santai.
Paling tidak itu yang saya pikir, tadinya.

Sampai pada Senin pagi ini, ketika sebuah email masuk di inbox saya. Laporan wellbeing saya selama bulan Desember. Selama satu bulan ini, hanya dua hari saya benar-benar terputus dari pekerjaan; saat tanggal 8 Desember dan 25 Desember.


Tanggal 8 Desember adalah hari dimana saya si bocah besar ikutan lomba lari, dan tanggal 25 Desember adalah hari dimana saya bersantai bersama keluarga menikmati hari libur natal. Selebihnya, saya masih saja terhubung dengan pekerjaan. Memang saya tidak membuka laptop, tetapi tetap saja terhubung dengan pekerjaan melalui iPhone, yang terpasang aplikasi email pekerjaan.

Akhir 2019, saya harus memutuskan untuk menempatkan mana yang utama. Karena apa lah artinya pekerjaan itu semua jika tanpa wellbeing saya sebagai pribadi yang sehat buat keluarga.

Friday, December 13, 2019

... 2019

Sudah mendekati akhir 2019.

Tulisan sebelum ini tayang lebih dari satu tahun yang lalu.
Tak ada cerita yang bisa ditulis di blog ini, atau tak ada upaya untuk menulis cerita di blog ini, entahlah, tak ada yang tahu.

Tapi perjalanan setahun ini sebenarnya terasa indah.

Bicara pekerjaan, profesional karir, rasanya cukup banyak pencapaian. Tak sekedar untuk diri tampil, tapi sudah cukup bijak untuk menjadi pialang agar orang-orang di lingkungan kerja tumbuh menjulang.

Perjalanan pun sudah cukup panjang, bahkan bulan lalu bisa menapakkan kaki di benua Afrika, menggenapkan perjalan sebelumnya menjelajah Asia, Eropa, Amerika, dan Australia.

Tapi yang lebih semarak adalah kisah tentang lahirnya manusia kedua yang memanggil saya Bapak. Yang pertama, Bumi, yang memberikan saya segala yang saya inginkan dari dunia ini.
Dan yang kedua, Damai, yang menuntun saya pada ketenangan hati bersama keluarga.
Keluarga yang dibangun bersama istri tercinta, sang pintu surga.

Damai di bumi.
Bumi nan damai.

2019 rasanya memang terasa damai buat saya. Anugrah Allah SWT sungguh luar biasa. Tak terkira rasanya kasih sayang yang menyelimuti saya dan keluarga setiap harinya.

Sudah mendekati awal 2020.

Merasa ini semua, sepatutnya saya berterima-kasih kepada dunia.
Menikmati ini semua, berencana memang seharusnya melakukan kebaikan buat sesama.
Tidak untuk diri saya, tapi untuk mereka berdua; Bumi dan Damai, agar bumi yang akan mereka tempati kini dan nanti, memberikan damai di hati.

Bismillah.
AETAS Hotel Bangkok,
13 Desember 2019