Tuesday, August 28, 2007

Stranger Orange

Temanku bilang kalau ada satu hal yang paling sulit dimengerti di dunia ini, itu adalah perempuan.
Ia benar.
Nyaris.
Kalau saja tidak ada satu benda kecil yang bernama telepon genggam. Butuh beberapa saat bagiku untuk mengetahuinya. Bayangkan saja, sore tadi aku ber-sms-an dengan pacar tercinta di Padang. Baru saja tekan tombol send, tiba-tiba langsung masuk sms report kalo sms ku sudah terkirim, dan sekian detik berselang sms ku sudah dibalas. Bandung-Padang, sekian detik?
Aku punya perasaan aneh tentang hal yang satu ini. Ya, rasanya aneh sekali.
Aku coba bayangkan, misalnya sms itu dikirim dengan menggunakan sebuah kendaraan yang berupa sebuah biji jeruk. Ya tentu saja jeruk tradisional yang aku maksud, bukan jeruk bule tanpa biji di kulkas yang biasa diteriak-teriakin tante berkurang banyak setiap kali aku ke apartemennya. Tombol send itu ditekan, bagaikan ledakan pistol start lari seratus meter. Dooorr...biji jeruk langsung melesat kencang, dari kostan ku di Bandung menuju rumah pacar di Padang, bongkar muat sms, lalu langsung balik lagi ke Bandung, jarak lebih dari seribu kilo dalam sekian detik. Tidak habis pikir, bagaimana ini bisa terjadi. Superman pasti juga bingung.
Omong-omong soal aneh. Aku baru dua minggu ini beli telepon genggam baru. Hitam, minima, dan super canggih. Bisa dipake buat kirim sms dan telpon pacar kapan saja. Telepon genggam ini menggantikan telephon genggam lama yang baru saja merayakan ulang tahun keempatnya. Dan telepon genggam baruku ini, benar-benar aneh.
Dia punya empat bar level batere. Misalnya aku charge sampai penuh pada hari Minggu malam. Karena sering dipake, Senin sore daya baterenya berkurang, tinggal tiga bar. Selasa siang tinggal dua bar, dipake terus sorenya tinggal satu. Selasa malam telepon genggamnya mati, jadi harus di charge ulang? Tidak, bar nya sekarang malah kembali jadi dua. Rabu siang jadi tiga lagi. Kamis sore baru dia beneran gugur. Apa telepon genggam ini bisa charge sendiri ya?
Namun kalo urusan mencari sinyal, telepon genggamku tergolong pemalas. Ketika dibawa ke dalam Lab ku, sebuah bunker bawah tanah yang tidak dimasuki sinyal, semua telepon genggam pasti akan berstatus no service. Ketika telepon genggamnya dibawa keluar lagi, secara otomatis ia akan mencari sinyal dan kembali normal. Namun tidak dengan telepon genggamku, keluar dari bunker, terus dibawa ke gedung PAU, gedung tertinggi di kampusku pun atau ke lapangan luas sambil teriak-teriak suruh nyari sinyal, tetap saja dia akan berstatus no service. Diam saja, tidak mau mencari sinyal layaknya saudara-saudara dia yang lain. Atau saudara tuanya yang baru saja aku istirahatkan. Memang sih, memulai mencari sinyal itu pekerjaan yang berat, seperti ketika pertama sepeda kita kayuh, terasa berat. Namun harusnya telepon genggam ini tidak boleh pemalas seperti empunya.
Yang lebih aneh lagi tentang telepon genggam baruku itu, dia tahu aku ada dimana. Misalnya saja ketika aku sedang di kostan. Di layar telepon genggamku muncul tulisan Gandok. Ya, benar... kostanku ada di daerah Gandok. Terus ketika minggu kemaren aku nginap di rumah seorang artis di daerah Cibubur, telepon genggamku juga tahu. Dengan telepon genggam ini aku akan selalu tahu aku ada dimana. Coba saja tanya posisiku setiap saat dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, atau Bandung ke Bogor. Cerdas cermat sama supir bis nya aku pasti menang. Walaupun informasinya masih sedikit kurang. Harusnya juga tercantum kodeposnya. Biar tidak bingung sama daerah-daerah yang bernama sama. Di Alun-Alun Bandung telepon genggamku akan bilang Kebon Kelapa, tapi di daerah kantorku di Bogor yang di jalan Salak, dia juga bilangnya Kebon Kelapa. Kasihan pak Pos.
Aneh, tapi keren bukan? Aku menyukainya, telepon genggamku benar-benar pintar.
Nyaris.
Ternyata aku salah.
Tadi sore, sebelum pulang ke kostan aku ke daerah Dipati Ukur untuk mengambil cucian. Dari Dipati Ukur ke kostan, aku naek angkot jurusan ke Ciroyom karena kebetulan angkot ini lewat di dekat kostanku. Daerah Ciroyom nya sendiri adalah beberapa kilo jaraknya. Tapi anehnya, aku dikostan sekarang, telepon genggamku malah bilangnya lagi di Ciroyom. Orang cuma naek angkot jurusan Ciroyom doank, dikiranya mau ke Ciroyom beneran. Telepon genggam yang aneh, dan bodoh. =)

PS : habis ini aku mau cerita tentang kisahku weekend kemaren nginap di rumah artis, tungguin ya =)
Oh ya, sebenarnya aku ada photo bareng sama telepon genggam baruku, tapi file nya masih di iMac kantor. Tungguin juga deh.
Met tidur, semua. Doain aku cepat sembuh ya.

Monday, August 20, 2007

Wake up call

Wake up call,
Caught you in the morning
with another one in my bed.

du du du du duuuu suit suit.
trala la la la laaa

Thursday, August 2, 2007

Smelly Chicken

Inilah yang akan terjadi jika kamu menggunakan kata yang ambigu.
Karena sekarang aku sudah di Bandung lagi, setelah Minggu-Rabu kemaren berada di Bogor, seperti biasa kemaren aku makan siang lagi di Doa Mande, bersama dengan mas Yunus. Sekitar pukul dua belasan, jadi warung tersebut sedang ramainya. Tapi beruntung, setelah mengambil nasi, telor dadar dan tempe, kita masih mendapatkan tempat duduk. Mas Yunus, beda dengan hari biasa _makan dengan ikan_, kali ini memindahkan sepotong ayam gulai ke atas tumpukan nasi di piringnya.
Baru makan beberapa suap, “Ayamnya bau,” tiba-tiba mas Yunus berkata sambil hidungnya menciumi sepotong ayam di piringnya. “Bau,” ulangnya dengan datar, mukanya tampak menyeringai sambil terus menciumi ayam tersebut.
Si Uni yang kebetulan berdiri di samping kami, kaget setengah mati mendengarnya. Andai semua orang yang ada di warung tersebut di bekukan sejenak, mungkin saja aku bisa mendengar suara jantung si Uni yang berdegup kencang, seperti suara kereta api uap yang ditumpangi Harry Potter ke Hogward. Tapi tentu saja si Uni tanpa mengeluarkan asapnya.
“Oh tidak, bau kenapa? Bau apa? Ayamnya bau kenapa? Bau busuk? Ya Tuhan, maaf Mas, maaf,” teriak si Uni panik. “Uda, ayam yang kita jual bau,” si Uni berteriak ke suaminya dengan suara yang makin keras.
Tak bisa dihindari, teriakan ini membuat semua orang di warung tersebut kaget, menghentikan makannya. “Astaga, maaf Mas, maaf, Ayamnya kami ganti saja, maaf, maaf, memangnya bau gimana Mas?” kata si Uda terpogoh-pogoh menghampiri.
Semua orang menengadah menatap mas Yunus.
“Bau ayam,” sahut mas Yunus dengan datar. “Ya iya lah bau ayam, kan ini Ayam, ayam ga mungkin bau ikan kan? Kecuali kalau ayamnya suka berenang di kolam,” lanjutnya lagi-lagi dengan datar, lalu dengan lahapnya menggigit dan mengunyah paha ayam tersebut.
Perlu sepuluh detik sampai orang-orang mengerti bahwa ini hanyalah sebuah lelucon, setelah itu entah siapa yang memulai, suara tawa begitu kerasnya saling bersahutan. Sedangkan si Uni dan si Uda yang punya warung, hanya bisa tersenyum tipis menyadari bahwa mereka telah terkena lelucon mas Yunus.
Tadi siang, saya dan mas Yunus lagi-lagi makan siang di sana. Baru saja kami datang, si Uda dan si Uni tertawa ngakak menyapa kami. Si Uni malah memanggil mas Yunus si Mas Ikan Bau. Untunglah semuanya baik-baik saja, karena aku tidak perlu menuliskan di buku agendaku setiap hari Selasa harus mengunjungi mas Yunus di penjara. Lagipula minggu ini aku sangat sibuk sekali, dari pagi sampai sore menghabiskan hari di Lab mengukur dan menganalisis sebuah gearbox, malamnya begadang _cuma tidur empat jam_ membaca beberapa buku sebagai bahan modul pelatihan yang juga harus aku tulis minggu ini.Tapi malam ini aku sangat ngantuk sekali. Selamat tidur, semua.