Sunday, July 29, 2007

Bloody Revenge

Dan, apa yang akan dilakukan orang Bandung pada hari Minggu pagi?
Jogging di Sabuga sambil memandangi perempuan-perempuan muda cantik yang menyemarakkan suasana? Menelusuri Pasar Kaget di Gasibu, menawar-nawar celana dalam yang di jual tiga buah sepuluh ribu? Mengantri memesan lontong sayur Padang di Dipati Ukur?
Atau ritual biasaku di hari Minggu, berbaring di kasur membaca koran Tempo Minggu _yang setiap minggu akhir bulan selalu ada suplemen Ruang Baca kesukaanku_ ditemani segelas Susu dan semangkok bubur kacang ijo?
Minggu pagi ini, setelah aku selesai menghabiskan bubur kacang ijo dan susu, dan mem-post-ing tulisan ini, aku akan kembali tidur. Ya, kembali tidur.
Suplemen Ruang Baca itu bisa menunggu nanti untuk dibaca. Kenapa harus menghabiskan susu dan kacang ijo dahulu? Karena keduanya mengandung protein, karbohidrat, kalsium dan semua vitamin yang dibutuhkan tubuhku agar bisa membalaskan dendam ini.
Bagaimana tidak dendam, setelah aku mempromosikan warung makan mereka di blog Glasnost-ku, bukannya berterima kasih, mereka malah mempermainkanku.

Siang, seperti biasa perutku lapar. Dan seperti biasa pula aku datang ke warung nasi langgananku. Biasanya jam segini warung nasi ini masih sangat ramai sekali. Tapi beruntungnya, pas aku datang warung nasi itu sepi. Yang ada cuma sepasang suami istri yang punya warung. “Kok sendirian? Biasanya kan uda* selalu datang rame.” Sapa si Istri.
“Oh, teman yang satu hari ini tidak masuk,” jawabku sambil mulai makan.
“Tapi kan biasanya datang kesininya rame,” tangkas si Istri lagi.
Lalu sejenak ia berpaling ke si Suami, “Biasanya uda ini kalau makan di sini selalu mengajak teman-temannya rame, tidak pernah kurang dari sepuluh orang yang diajaknya makan di sini.”
“Iya Uda?” tanya si Suami.
“Ah tidak, salah orang kali. Biasanya aku kalau makan di sini cuma berdua dengan Mas Yunus, teman di Lab,” jawabku sambil terus makan.
“Ah, Uda ini ga usah kayak gitu lah, kita senang kok Uda ajak teman-teman yang lain,” si Istri langsung menanggapi. “Gara-gara Uda mereka itu kalau makan siang selalu kesini, jadinya sekarang warung makan ini makin rame saja.”
Si suami yang dari tadi mendengarkan langsung berkata “Wah, baik sekali uda ini, sudah baik terus tidak sombong lagi, benar-benar urang Minang sejati.”
“Sebagai ucapan terima kasih, kali ini Uda boleh makan gratis, sepuasnya,” lanjut si Istri, “bagamana Uda mau?”
“Sepuasnya? Gratis?” tanyaku dengan nafsu yang tiba-tiba membara. Bagaimana tidak, akhir bulan seperti ini ada-ada saja rejeki yang diberi Tuhan. “Beneran gratis?” tanyaku ulang dan bersiap-siap untuk berdiri untuk nambah lauknya lagi. Masa bodoh, toh bukan aku yang ngaku-ngaku, tapi mereka yang memaksa.

Si istri tiba-tiba tampak mengerutkan keningnya.
“Kayaknya salah orang,” katanya. “Barusan saya baru ingat kalau Uda yang suka mengajak temannya satu rombongan kesini itu rambutnya gondrong.”

Aku menarik nafas panjang sekali.
Dan belum sempat berkata apapun, aku sudah terbangun dari mimpi.

Cuma mimpi.
Tapi walaupun cuma mimpi tetap saja hati ini dipenuhi bara dendam. Kalaupun memang mimpi paling tidak tunggu dulu sampai aku selesai melempar piring dan kursi-kursi di warung nasi tersebut. Bukan seperti ini, terbangun dengan status telah dipermainkan tukang warung nasi di dalam mimpi.

Sudahlah, kalian tidak akan mengerti betapa dendamnya diriku. Aku mau tidur lagi, dan membalaskan semuanya. Tidur sampai siang, dan nanti dilanjutkan selama empat jam di bis dalam perjalanan ke Bogor, tampaknya aku punya waktu yang cukup panjang untuk membalaskan dendam.

*panggilan dalam bahasa Minang, sinonimnya Mas (bahasa Jawa) atau Akang (bahasa Sunda), Abang (bahasa Batak), aku cuma tahu segitu.

Thursday, July 26, 2007

Steaky Plaster

Hari ini harus lebih baik dari hari Selasa dan Rabu kemaren. Dua hari mengerjakan proyek gearbox seberat 700 kg, hasilnya, jempol dan jari tengah tangan kiriku, sekarang dibalut dengan plester. Memalukan, semoga saja akhir minggu ini pekerjaanku bisa selesai sebelum semua jari-jari di tanganku harus dibalut plester semua. Walaupun sebenarnya lucu juga pakai plester pemberian si Babe, warnanya pink dan ada gambar gajahnya.
Oh ya, buat neng Salmi, kemaren selamat ulang tahun ya. Aku minta dibeliin HP.

update*
Tahu lagu Leaving on A Jet Plane nya Chantal Kreviazuk?
Baru saja aku terinspirasi untuk membuat sekuel lagu tersebut. Judulnya Living on A Jet Lag, yang akan menyanyikannya masih belum aku putuskan siapa. Kalau lagu Leaving on A Jet Plane bercerita tentang perasaan seseorang yang tidak ingin meninggalkan kekasih hatinya, maka lagu Living on A Jet Lag bercerita tentang kisah hidupku, seseorang yang sedang menderita jet lag kronis.
Seperti biasa, setiap kamis aku selalu bermain tenis di Sabuga. Jadwalnya adalah dari pukul tiga sampai pukul lima. Tapi karena ada satu tugas dari Inspirit yang harus aku kerjakan segera, maka pukul setengah lima aku menyudahi maen tenisnya. Tim Inspirit akan mengadakan training di Bandung pada bulan Agustus nanti, dan untuk persiapan aku harus mengecek hotel tempat training akan dilakukan. Pamit sama si Om, ganti pakaian lalu langsung berangkat.
Dasar nasib sial, jalanan ternyata cukup macet, dan baru pukul lima lewat aku sampai di hotel tersebut.
Pukul lima lewat? Astaga, ternyata sudah pukul lima lewat lima belas. Jam kerja kan cuma sampai pukul lima. Dan sekarang hotelnya sudah tutup. Sungguh malang. Terpaksa besok balik lagi ke sini.
Pulang, dan langsung terkapar di kasur.
Terkapar, cukup lama terkapar di kasur, cukup lama untuk tersadarkan akan kebodohan diri bahwa yang namanya hotel itu bukan kantor dengan jam kerja delapan pagi hingga lima sore, tapi buka 24 jam.
“Oh tidak, kenapa dalam semingguan ini aku selalu kacau dalam urusan waktu.”
Oh ya, berita baiknya hari ini berjalan baik. Tidak ada tambahan plester di jari tanganku. Berdoa semoga besok akan semakin baik.
Now the time has come to leave you. One more time oh let me kiss you, and close your eyes and I'll be on my way.
Selamat tidur, semua.

*sebenarnya postingan ini aku tulis pas malam sebelum tidur, sekitaran pukul setengah dua belas gitu. Aku pikir aku sudah meng-klik publish, tapi ternyata save to draft. Berdoa saja ternyata belum cukup.

Tuesday, July 24, 2007

Belly Flop

Menjadi orang terkenal didambakan oleh begitu banyak orang. Namun kalau bisa, aku ingin sekali semua tetangga lupa tentangku.
Cerita ini sebenarnya sudah seminggu berlalu, namun entah mengapa hampir semua tetangga menyediakan satu ruang khusus di otak mereka untuk selalu mengingat kebodohan yang telah aku lakukan. Setiap kali berpapasan, rasa-rasanya sapaan mereka selalu terdengar sama, “hallo Pria-ngawur-ngira-sholat Isya-adalah-Magrib”.
Ini tidak adil.
Menurutku tidak seharusnya orang-orang menghakimi tanpa mendengarkan penjelasannya dulu.
Penjelasanku sendiri adalah sangat sederhana.
Aku memang melakukannya, tapi itu semua adalah tidak aku sadari sama sekali. Sore itu aku pulang ke kostan dalam keadaan letih sekali setelah dari paginya begitu banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, dilanjutkan dengan dua jam bermain tenis. Tak kuasa menahan, aku langsung terlelap di kasur. Namun tak terlalu lama rasanya aku tertidur, sampai aku mendengar adzan dari masjid dekat kostan berkumandang. Sudah masuk waktu magrib, pikirku. Segera aku bangun, membersihkan diri, mengganti baju lalu bersegera ke masjid. Beruntung, si Imam baru membaca takbir awal, memimpin sholat tiga orang makmum yang mengikutinya. Baca niat, dan akupun sholat mengikuti Imam.
Rakaat pertama, lalu rakaat kedua dan rakaat terakhir. Tiga rakaat karena ini adalah sholat magrib sebagaimana yang aku baca niatnya. Tapi tampaknya si Imam lupa. Bukannya duduk tahyat akhir, tapi ia malah kembali berdiri. Subhanallah, aku berucap mengingatkan sang Imam. Sekali, tidak didengarnya. Dua kali tak jua ada tanggapan. Tiga kali, namun si Imam tetap saja melanjutkan dengan rakaat keempat. Entah ide dari mana, akhirnya aku memutuskan untuk maju, menepuk-nepuk bahu si Imam. Namun si Imam tetap pada pilihannya, dan tiga makmum itu tak satupun yang berlaku seperti saya. Sungguh kasihan sekali melihat mereka lupa kalau sholat Magrib itu cuma tiga rakaat. Tak ada pilihan, akhirnya akupun mengikuti gerakan si Imam.
Selesai mengucap salam, aku langsung berbicara kepada si Imam, bahwa mereka telah salah jumlah rakaat sholat, Magrib harusnya kan cuma tiga rakaat.
Sejenak si Imam terdiam, lalu berkata “Sekarang kan kita holat Isya, Ben.”
Andai Doraemon dan pintu ajaibnya benar-benar ada, atau paling tidak ada jepretan penghapus ingatan milik ManinBlack yang bisa aku pakai.

Tuesday, July 10, 2007

Dan The Potograph Datang

Baru-baru ini gw hampir berniat untuk me-release sebuah buku yang berjudul 10 Cara Paling Menyakitkan untuk Pelan-Pelan Bunuh Diri dalam Kegaringan, yaitu:
1. Menonton Hantu Jeruk Purut,
2. Menonton Suster Ngesot,
3. Menonton Maaf, Saya Menghamili Istri Anda,
4. Menonton Mengejar Mas-Mas,
5. Menonton Love is Cinta,
6. Menonton 3 Hari untuk Selamanya,
Dan menonton film2 Indonesia lainnya sepuluh biji.
Mona, silahkan lengkapin sendiri ya, hehehe. [pisss =D]
Namun ternyata sodara2.... habis nonton Bridge to Tarabithia kemaren di CiWalk Deluxe XXI, gw ngungsi ke CiWalk 21 langsung nonton The Potograph. Dan hu, hu, hu.... walaupun jalan ceritanya lambat, tapi film ini bagus banget. Cerita yang dibangun memang cukup sederhana, tapi punya karakter cerita yang cukup kuat.

Emang ga cocok buat orang yang demennya film2 yang bertabur tekno visual graphic kayak Transformer, apalagi kalo film The Good Sepherd adalah salah satu film yang membuat lu bobo di bioskop. Tapi at least, ini adalah dahaga di tengah ketidakbermutuan dan kegaringan film Indonesia. (ceile, bahasa gw, hehehe)

Bahkan di beberapa scene, waktu seleksi asisten tukang photo, sungguh kocak banget (gw tertawa beneran gara2 film, bukan memaksakan diri tertawa sendirian meratapi nasib telah menonton film Indonesia, like what happen to me kala nonton 3 Hari untuk Selamanya, MASMIA, Mengejar Mas-Mas dll)... Nicholas saputra sang waria, indra bekti si buta warna, dll nya, hehehhee. Palingan ya akting Indi Barends aja yang masih kepentok gaya Ceriwis.
But it’s all Good.

Buat Shanty, Si Cina Tukang Photo (maap gw lupa nama aktornya), sutradara, produser dan semua kru ni film terima kasih telah membuat gw bergairah kembali nonton film Indonesia.
Doa ku selalu menyertaimu deh, juga buat Tim Merah Putih yang ntar sore bertanding lawan Bahrain. You’re the Man.. Ayo Main Bagus.........

PS : Bridge to Tarabithia juga keren. Konflik ceritanya emang rada datar sih dibanding Narnia, tapi still good for me, apalagi saat mereka berimajinasinya. Keren =)

Pesan Sponsor : buat semua, doain gw yak... maaf juga kalo gw jarang blogwalking. Tapi beberapa waktu belakangan ini banyak banget yang harus gw kerjain, harus gw urus, harus gw selesain. Maybe about3-4 weeks again, but i’m trying to make it finish soon. Mau banyak complain juga ga mungkin, ga enakan sama si Nadine Putri Indonesia 2005 yang baru aja ngeluarin buku diari Pantaskah Aku Mengeluh (hallo Nadine, kamu pasti senang banget ya nama kamu aku sebutin di blog ini, hahahahaha>> ngehayal mode : ON). Lagipula sibuk gini gw kan masih sempat kabur ke bioskop dan masih bisa minum susu setiap pagi.
So, Semangat BENX.. demi masa depan 5 calon bini yang sudah maksa minta dikawinin semua. Hahahhaha =D

Buat semua, goodluck with ur activities juga yak....
Ingat aja pesen ortu yang sejelek apapun dirimu, namun setiap pagi selalu berkata bahwa kamu adalah anak yang paling rupawan yang mereka miliki. (tampak ini pengalaman pribadi gw, heheheh)

So, kick the Giant Troll and save the Tarabithians. (bilangnya sambil teriak, hehehhee)

Btw, komen gw tentang film Indonesia kayaknya ga guna yak... habisnya film2 yang gw mencak2in gara2 telah mmbuat gw mati kegaringan di dalam bioskop malah selalu jadi box office Indonesia, hu hu hu... tapi ya sudahlah, paling tidak gw masih bisa membanggakan diri gw sebagai rakyat Indonesia yang sudah satu tahun ini tidak pernah lagi nonton film bajakan, MERDEKA...!!!!
=D

Thursday, July 5, 2007

Kisah Ibu Guru Puti

Bapak-bapak, Ibuk-Ibu, mohon maaf penceramah yang seharusnya dijadwalkan tidak bisa datang. Biasalah lagi ada masalah datang bulan (hehehee). Ikut2an si item, untuk kali ini kita ganti dengan pembicara yang satu ini aja yak... My Favorite One =)

Ujian Paket B (cerita hari pertama)

30 Juni 2007

Sabtu lalu, tepatnya tanggal 23 Juni 2007, saya tersenyum sendiri sambil menyusuri tembok bermural yang berada di Jalan Siliwangi, Bandung. Saya baru mendapatkan sms dari seorang anak SMP yang sering belajar Matematika bersama saya semenjak ia kelas 1 SMP. Isinya, “Kak, ini Anis, Alhamdulillah Anis udah lulus UN, Anis mau makasih sama bantuan Kakak selama ini.”

Sms singkat yang bisa menyejukan hati saya, tapi saya sama sekali tidak menduga apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian tepatnya Selasa, 19 Juni 2007 yang lalu.

read more...