Telephon dari Kawan Lama
Saya lagi senang-senangnya telphon-telphonan sama kawan lama. Lebih tepatnya, lebih senang ditelphon, karena kan Saya tidak perlu keluar duit buat pulsa untuk telphon-telphonan dengan kawan lama yang tentu saja setelah lama tidak telphon-telphonan maka kita akan lama-lama bertelphon-telphonan, hehehe.
Kemaren pagi satu kawan lama. Malamnya Saya berlama-lama juga bertelphon-telphonan dengan satu kawan lama lagi. Biasanya sih kejadian dalam hidup Saya suka hat trick-hat rick'an gitu. Jadi bakal ada satu kawan lama lagi sepertinya yang akan menelphon Saya.
Dan huplaaa, pucuk dicinta ulam tiba. Saat pagi ini Saya sedang sibuk bernyanyi Satu Jam Saja versi Audy (ya, datang kepagian ke kantor, terperangkat di lorong lobby lift lantai 6 yang masih gelap, pintu dikunci jadi tidak bisa masuk, tentu saja bernyanyi menjadi pilihan yang bisa dimaklumi, hehehe), tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Nomornya tidak dikenal. Mamamia, pasti ini another kawan lama.
"Halo, selamat pagi," sapa Saya memulai percakapan.
"Halo, dengan Beni? Ben, ini Bowo, Ben. Bowo," sahut suara di seberang sana.
"Bowo?" tanya Saya dalam hati. Sepanjang hidup Saya cuma punya satu kawan bernama Bowo, dan itu sudah lama, beberapa tahun lalu ketika masih jadi kaum proletar di kampus. "Pasti ini Bowo kawan lama Saya," batin Saya.
"Woi, Bowo. Apa kabar, Bro? Kawan lama, apa kabar lu? Dah di Indonesia lagi ni? Terakhir gw dengar lu di Abu Dhabi bukan? Gw dengar dari siapa ya. Lupa gw. Apa kabar lu? Dah kawin? Dah beranak? atau jangan-jangan lu telphon mau ngabarin mau kawin yang ketiga ni? Hahahaha. Gimana-gimana? Ada update cerita apa ni? Gila, dah lama ya kita ga saling contact. Terakhir pas jaman berantem-beranteman di kampus ya? Hahahaa. Kangen juga gw sama kabar lu. Gimana-gimana? Kaget gw pas lu telphon. Gw baru nyampe kantor ni. Eh, di Jakarta kan ya? Ketemuan yuk. Ntar sore gimana?" cerocos Saya kesenangan menerima telphon dari kawan lama.
Percayalah, ketika seorang kawan lama yang cukup dekat menghubungi anda setelah ratusan tahun, rasanya sangat menyenangkan.
Namun, tidak ada tanggapan balasan dari suara di ujung sana. "Halo, Bowo. Halo," lanjut Saya kembali coba menyapa.
Beberapa saat masih tidak terdengar suara, namun tak lama, "BENI. INI BOWO. BOWO TEDJO. MESIN ANGKATAN 72. PAK BOWO. KAMU HARUS DATANG DI ACARA MESIN HARI MINGGU BESOK. TEMUI SAYA" imbuh suara dari seberang. Tenang, tapi menakutkan.
Dan percakapan diputus.
Hee.... pak Bowo? Mati Saya.
Kemaren pagi satu kawan lama. Malamnya Saya berlama-lama juga bertelphon-telphonan dengan satu kawan lama lagi. Biasanya sih kejadian dalam hidup Saya suka hat trick-hat rick'an gitu. Jadi bakal ada satu kawan lama lagi sepertinya yang akan menelphon Saya.
Dan huplaaa, pucuk dicinta ulam tiba. Saat pagi ini Saya sedang sibuk bernyanyi Satu Jam Saja versi Audy (ya, datang kepagian ke kantor, terperangkat di lorong lobby lift lantai 6 yang masih gelap, pintu dikunci jadi tidak bisa masuk, tentu saja bernyanyi menjadi pilihan yang bisa dimaklumi, hehehe), tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Nomornya tidak dikenal. Mamamia, pasti ini another kawan lama.
"Halo, selamat pagi," sapa Saya memulai percakapan.
"Halo, dengan Beni? Ben, ini Bowo, Ben. Bowo," sahut suara di seberang sana.
"Bowo?" tanya Saya dalam hati. Sepanjang hidup Saya cuma punya satu kawan bernama Bowo, dan itu sudah lama, beberapa tahun lalu ketika masih jadi kaum proletar di kampus. "Pasti ini Bowo kawan lama Saya," batin Saya.
"Woi, Bowo. Apa kabar, Bro? Kawan lama, apa kabar lu? Dah di Indonesia lagi ni? Terakhir gw dengar lu di Abu Dhabi bukan? Gw dengar dari siapa ya. Lupa gw. Apa kabar lu? Dah kawin? Dah beranak? atau jangan-jangan lu telphon mau ngabarin mau kawin yang ketiga ni? Hahahaha. Gimana-gimana? Ada update cerita apa ni? Gila, dah lama ya kita ga saling contact. Terakhir pas jaman berantem-beranteman di kampus ya? Hahahaa. Kangen juga gw sama kabar lu. Gimana-gimana? Kaget gw pas lu telphon. Gw baru nyampe kantor ni. Eh, di Jakarta kan ya? Ketemuan yuk. Ntar sore gimana?" cerocos Saya kesenangan menerima telphon dari kawan lama.
Percayalah, ketika seorang kawan lama yang cukup dekat menghubungi anda setelah ratusan tahun, rasanya sangat menyenangkan.
Namun, tidak ada tanggapan balasan dari suara di ujung sana. "Halo, Bowo. Halo," lanjut Saya kembali coba menyapa.
Beberapa saat masih tidak terdengar suara, namun tak lama, "BENI. INI BOWO. BOWO TEDJO. MESIN ANGKATAN 72. PAK BOWO. KAMU HARUS DATANG DI ACARA MESIN HARI MINGGU BESOK. TEMUI SAYA" imbuh suara dari seberang. Tenang, tapi menakutkan.
Dan percakapan diputus.
Hee.... pak Bowo? Mati Saya.

3 Comments:
ahahahahaahahaaaa.....
makanya tanya dulu bro.....
hahahaha....
LOL
beni.. as usual.
ga heran...
keknya gue nemu hobi baru lu ben: nulis "telphon-telphonan"
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home