Di-KO Banci 2-0
Sore ini pulang kantor, seperti biasa Saya naik TransJakarta, langganan halte Depkes-Pertanian.
Karena pulangnya sudah agak sore, muatan bisnya super berjejer. Terpaksalah Saya angkat ketiak seperti ribuan penumpang lainnya sepanjang perjalanan.
Hulaaa, pas di halte Pejaten, segelondongan penumpangnya keluar, yang alhasil tersisa satu tempat kosong di sebelah Saya berdiri. Pas mau duduk, tiba-tiba Saya melihat seorang perempuan yang kesusahan. Maksud Saya kesusahan berdiri, bukan wanita susah, hehehe. Satu tangan memegang tas yang terlihat berat. Dan sambil berjinjit, satu tangan lagi meraih gantungan yang agak kurang ramah sama tinggi badannya yang membuat roknya sedikit terangkat juga.
Dalam rangka memperingati hari Kartini, maka dengan ikhlas dan rela setulus-tulusnya Saya kembali berdiri dan menawarkan tempat duduk Saya kepada perempuan tersebut.
Terpogoh-pogoh sang perempuan menempati tempat duduk tersebut. Dan layaknya film India, pas Saya mencoba mencuri lihat ke wajahnya, sang perempuan tersebut juga memalingkan wajahnya ke Saya, sambil tersenyum lalu berkata, "Tengkiuuuuu Bowwwww. Eke dah pegeeelllll. Lama-lama bisa berotot deh."
SIAL, BANCI TERNYATA!!!
Dosa apa Saya kok dua hari dua kali di-skak sama banci.
Kemaren sore, karena malas jalan sendiri, maka Saya mengajak si Iqbal - bocah 4 tahun, teman main Saya selalu di kostan - menemani Saya ke Poins Square. Sore itu Saya mau pangkas rambut yang sudah gondrong dangdut ini di sebuah salon di sana. Kalau dulu sewaktu di Bandung, Saya biasa pangkas rambut di tukang pangkas DPR. Tapi dua tahun lebih Saya tinggal di Banjarsari, tak kunjung jua Saya bertemu. Alhasil, terpaksalah Saya pangkas rambut di salon.
Kurang beruntung, ternyata tukang pangkas langganan Saya sedang tidak masuk kerja hari ini. Mau pulang berganti hari, sungguh malas rasanya. Jadilah Saya mengiyakan saja tawaran si Mbaknya untuk dipangkas dengan salah seorang hairdresser yang ada saja.
Setelah meminta si Iqbal untuk duduk menunggu di kursi tamunya, Saya mengikuti suruhan seorang Mbak untuk dicuci rambut. Setelah cuci, Saya duduk menunggu sang Hairdresser datang. Oke, memang bukan hari baik Saya, karena ternyata kali ini Saya dapat jatah sama si Banci. Ya sudah lah, rejeki (lah kok? hehehe).
Sedang sibuk dipangkas, tiba-tiba si Iqbal datang mengampiri. Sepertinya dia bosan duduk menunggu, makanya Saya biarkan saja dia bermain-main di dekat Saya.
Si Hairdresser Banci yang melihat, langsung berujar,"Duh Om, dah punya buntut ni. Ai kirain duda tanpa anak gitu," sambil mencuri lihat ke si Iqbal.
Puff, lemas Saya mendengar komentarnya. Menampik tuduhan si Hairdresser Banci, Saya menjawab,"Bukan anak Saya. Anaknya housekeeping di rumah."
"Idihhhh, pake ga ngaku segala," balas tak percaya, seraya menambahkan, "nyantai aja Om, Ai sih ga masalah punya anak atau belum. Yang penting kasih sayang."
"Bukan anak Saya," tegas Saya.
Ditampik si Bencong lagi,"ngaku aja, Om. Iyakan, ini Papa kamu kan?" alih si Banci bertanya ke si Iqbal.
Mulai gondok, dengan tegas Saya kembali berkata,"Bukan anak Saya."
"Idiihhh, ngaku ngaku ngaku....!!!!," si Bencong bersikeras sambil nyubit Saya.
Ampun dah. Frustasi dan menyadari tak mungkin menang dan tak ada gunanya berurusan sama si Bencong, akhirnya dengan suara datar Saya menjawab, "Iya, anak Saya."
Berharap si Banci akan diam, ternyata SALAH BESAR. Dengan suara yang agak ditahan dan mimik muka yang aneh, si Banci berkata,"Ga percaya ah. Situ kan hitam, ga mungkin punya anak putih kayak gini."
BENCONG KUALAT!!!!!
Karena pulangnya sudah agak sore, muatan bisnya super berjejer. Terpaksalah Saya angkat ketiak seperti ribuan penumpang lainnya sepanjang perjalanan.
Hulaaa, pas di halte Pejaten, segelondongan penumpangnya keluar, yang alhasil tersisa satu tempat kosong di sebelah Saya berdiri. Pas mau duduk, tiba-tiba Saya melihat seorang perempuan yang kesusahan. Maksud Saya kesusahan berdiri, bukan wanita susah, hehehe. Satu tangan memegang tas yang terlihat berat. Dan sambil berjinjit, satu tangan lagi meraih gantungan yang agak kurang ramah sama tinggi badannya yang membuat roknya sedikit terangkat juga.
Dalam rangka memperingati hari Kartini, maka dengan ikhlas dan rela setulus-tulusnya Saya kembali berdiri dan menawarkan tempat duduk Saya kepada perempuan tersebut.
Terpogoh-pogoh sang perempuan menempati tempat duduk tersebut. Dan layaknya film India, pas Saya mencoba mencuri lihat ke wajahnya, sang perempuan tersebut juga memalingkan wajahnya ke Saya, sambil tersenyum lalu berkata, "Tengkiuuuuu Bowwwww. Eke dah pegeeelllll. Lama-lama bisa berotot deh."
SIAL, BANCI TERNYATA!!!
Dosa apa Saya kok dua hari dua kali di-skak sama banci.
Kemaren sore, karena malas jalan sendiri, maka Saya mengajak si Iqbal - bocah 4 tahun, teman main Saya selalu di kostan - menemani Saya ke Poins Square. Sore itu Saya mau pangkas rambut yang sudah gondrong dangdut ini di sebuah salon di sana. Kalau dulu sewaktu di Bandung, Saya biasa pangkas rambut di tukang pangkas DPR. Tapi dua tahun lebih Saya tinggal di Banjarsari, tak kunjung jua Saya bertemu. Alhasil, terpaksalah Saya pangkas rambut di salon.
Kurang beruntung, ternyata tukang pangkas langganan Saya sedang tidak masuk kerja hari ini. Mau pulang berganti hari, sungguh malas rasanya. Jadilah Saya mengiyakan saja tawaran si Mbaknya untuk dipangkas dengan salah seorang hairdresser yang ada saja.
Setelah meminta si Iqbal untuk duduk menunggu di kursi tamunya, Saya mengikuti suruhan seorang Mbak untuk dicuci rambut. Setelah cuci, Saya duduk menunggu sang Hairdresser datang. Oke, memang bukan hari baik Saya, karena ternyata kali ini Saya dapat jatah sama si Banci. Ya sudah lah, rejeki (lah kok? hehehe).
Sedang sibuk dipangkas, tiba-tiba si Iqbal datang mengampiri. Sepertinya dia bosan duduk menunggu, makanya Saya biarkan saja dia bermain-main di dekat Saya.
Si Hairdresser Banci yang melihat, langsung berujar,"Duh Om, dah punya buntut ni. Ai kirain duda tanpa anak gitu," sambil mencuri lihat ke si Iqbal.
Puff, lemas Saya mendengar komentarnya. Menampik tuduhan si Hairdresser Banci, Saya menjawab,"Bukan anak Saya. Anaknya housekeeping di rumah."
"Idihhhh, pake ga ngaku segala," balas tak percaya, seraya menambahkan, "nyantai aja Om, Ai sih ga masalah punya anak atau belum. Yang penting kasih sayang."
"Bukan anak Saya," tegas Saya.
Ditampik si Bencong lagi,"ngaku aja, Om. Iyakan, ini Papa kamu kan?" alih si Banci bertanya ke si Iqbal.
Mulai gondok, dengan tegas Saya kembali berkata,"Bukan anak Saya."
"Idiihhh, ngaku ngaku ngaku....!!!!," si Bencong bersikeras sambil nyubit Saya.
Ampun dah. Frustasi dan menyadari tak mungkin menang dan tak ada gunanya berurusan sama si Bencong, akhirnya dengan suara datar Saya menjawab, "Iya, anak Saya."
Berharap si Banci akan diam, ternyata SALAH BESAR. Dengan suara yang agak ditahan dan mimik muka yang aneh, si Banci berkata,"Ga percaya ah. Situ kan hitam, ga mungkin punya anak putih kayak gini."
BENCONG KUALAT!!!!!

6 Comments:
hahahaha... ngakak gua bacanya ben..
cerita lu yang kedua mirip bodoran-bodoran lama gitu.. :)
Beno writes:
"Si Hairdresser Banci yang melihat, langsung berujar,"Duh Om, dah punya buntut ni. Ai kirain duda tanpa anak gitu," sambil mencuri lihat ke si Iqbal."
berarti gakda Iqbal udah disangka duda... huakhahahahahha...
botak sih.. :P
ralat...
harusnya Beno wrote.. bukan Beno writes.. hehehe..
hahahahhahaaa. benii benii.
makanya jangan suka godain bencong.
kualat kan loo.. :P
Mulai gondok, dengan tegas Saya kembali berkata,"Bukan anak Saya."
"Idiihhh, ngaku ngaku ngaku....!!!!," si Bencong bersikeras sambil nyubit Saya.
>> HA HA HA... =))
apes bgt sih km ben..
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home