Lingkaran Kecil
Sepertinya pandemik Covid-19 masih terus berlanjut.
Dan karena ada pembatasan keramaian, lazim sekali kita dengar sekarang berita suka cita pernikahan yang hanya mengundang orang untuk menyaksikan melalui pranala virtual, tak diminta datang.
Karena kerumunan mesti dibatasi, memang jadinya sekarang hanya keluarga dan orang-orang yang sangat dekat saja yang datang. Kita yang bukan, cukup ikut berbahagia dengan menyaksikan di layar kaca.
Tapi ada cerita ketika seorang teman, yang yakin sekali bahwa dia adalah orang dekat yang akan diminta datang secara langsung, ternyata harus menahan rindu sambil merutuki si virus karena ternyata diapun hanya bisa mengikuti acara sahabatnya dengan pelukan maya.
Saat dia mulai menghibur diri bahwa ini semua adalah untuk kebaikan dan kesehatan semua karena mereka adalah teman yang sangat dekat dan akan saling menjaga, saat dia mulai meyakini diri bahwa ini bentuk dukungan dia sebagai sahabat, saat itu juga matanya tertegun menatap layar kaca, melihat teman lain dari si sahabat ternyata datang secara langsung di acara tersebut, tertawa bahagia bercengkrama bersama si "orang yang dia kira dia adalah sahabat terbaiknya si sahabat".
Mengira selama ini dia punya arti di sisi, tapi ternyata hanya sebatas penonton virtual resepsi.
Memang tak jarang kita salah menilai diri.
They say you should keep your circle small, but tbh I'd rather have no circle at all. Just a few people here and there who I trust (unknown).

0 Comments:
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home