Stranger Orange
Temanku bilang kalau ada satu hal yang paling sulit dimengerti di dunia ini, itu adalah perempuan.
Ia benar.
Nyaris.
Kalau saja tidak ada satu benda kecil yang bernama telepon genggam. Butuh beberapa saat bagiku untuk mengetahuinya. Bayangkan saja, sore tadi aku ber-sms-an dengan pacar tercinta di Padang. Baru saja tekan tombol send, tiba-tiba langsung masuk sms report kalo sms ku sudah terkirim, dan sekian detik berselang sms ku sudah dibalas. Bandung-Padang, sekian detik?
Aku punya perasaan aneh tentang hal yang satu ini. Ya, rasanya aneh sekali.
Aku coba bayangkan, misalnya sms itu dikirim dengan menggunakan sebuah kendaraan yang berupa sebuah biji jeruk. Ya tentu saja jeruk tradisional yang aku maksud, bukan jeruk bule tanpa biji di kulkas yang biasa diteriak-teriakin tante berkurang banyak setiap kali aku ke apartemennya. Tombol send itu ditekan, bagaikan ledakan pistol start lari seratus meter. Dooorr...biji jeruk langsung melesat kencang, dari kostan ku di Bandung menuju rumah pacar di Padang, bongkar muat sms, lalu langsung balik lagi ke Bandung, jarak lebih dari seribu kilo dalam sekian detik. Tidak habis pikir, bagaimana ini bisa terjadi. Superman pasti juga bingung.
Omong-omong soal aneh. Aku baru dua minggu ini beli telepon genggam baru. Hitam, minima, dan super canggih. Bisa dipake buat kirim sms dan telpon pacar kapan saja. Telepon genggam ini menggantikan telephon genggam lama yang baru saja merayakan ulang tahun keempatnya. Dan telepon genggam baruku ini, benar-benar aneh.
Dia punya empat bar level batere. Misalnya aku charge sampai penuh pada hari Minggu malam. Karena sering dipake, Senin sore daya baterenya berkurang, tinggal tiga bar. Selasa siang tinggal dua bar, dipake terus sorenya tinggal satu. Selasa malam telepon genggamnya mati, jadi harus di charge ulang? Tidak, bar nya sekarang malah kembali jadi dua. Rabu siang jadi tiga lagi. Kamis sore baru dia beneran gugur. Apa telepon genggam ini bisa charge sendiri ya?
Namun kalo urusan mencari sinyal, telepon genggamku tergolong pemalas. Ketika dibawa ke dalam Lab ku, sebuah bunker bawah tanah yang tidak dimasuki sinyal, semua telepon genggam pasti akan berstatus no service. Ketika telepon genggamnya dibawa keluar lagi, secara otomatis ia akan mencari sinyal dan kembali normal. Namun tidak dengan telepon genggamku, keluar dari bunker, terus dibawa ke gedung PAU, gedung tertinggi di kampusku pun atau ke lapangan luas sambil teriak-teriak suruh nyari sinyal, tetap saja dia akan berstatus no service. Diam saja, tidak mau mencari sinyal layaknya saudara-saudara dia yang lain. Atau saudara tuanya yang baru saja aku istirahatkan. Memang sih, memulai mencari sinyal itu pekerjaan yang berat, seperti ketika pertama sepeda kita kayuh, terasa berat. Namun harusnya telepon genggam ini tidak boleh pemalas seperti empunya.
Yang lebih aneh lagi tentang telepon genggam baruku itu, dia tahu aku ada dimana. Misalnya saja ketika aku sedang di kostan. Di layar telepon genggamku muncul tulisan Gandok. Ya, benar... kostanku ada di daerah Gandok. Terus ketika minggu kemaren aku nginap di rumah seorang artis di daerah Cibubur, telepon genggamku juga tahu. Dengan telepon genggam ini aku akan selalu tahu aku ada dimana. Coba saja tanya posisiku setiap saat dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, atau Bandung ke Bogor. Cerdas cermat sama supir bis nya aku pasti menang. Walaupun informasinya masih sedikit kurang. Harusnya juga tercantum kodeposnya. Biar tidak bingung sama daerah-daerah yang bernama sama. Di Alun-Alun Bandung telepon genggamku akan bilang Kebon Kelapa, tapi di daerah kantorku di Bogor yang di jalan Salak, dia juga bilangnya Kebon Kelapa. Kasihan pak Pos.
Aneh, tapi keren bukan? Aku menyukainya, telepon genggamku benar-benar pintar.
Nyaris.
Ternyata aku salah.
Tadi sore, sebelum pulang ke kostan aku ke daerah Dipati Ukur untuk mengambil cucian. Dari Dipati Ukur ke kostan, aku naek angkot jurusan ke Ciroyom karena kebetulan angkot ini lewat di dekat kostanku. Daerah Ciroyom nya sendiri adalah beberapa kilo jaraknya. Tapi anehnya, aku dikostan sekarang, telepon genggamku malah bilangnya lagi di Ciroyom. Orang cuma naek angkot jurusan Ciroyom doank, dikiranya mau ke Ciroyom beneran. Telepon genggam yang aneh, dan bodoh. =)
PS : habis ini aku mau cerita tentang kisahku weekend kemaren nginap di rumah artis, tungguin ya =)
Oh ya, sebenarnya aku ada photo bareng sama telepon genggam baruku, tapi file nya masih di iMac kantor. Tungguin juga deh.
Met tidur, semua. Doain aku cepat sembuh ya.
Ia benar.
Nyaris.
Kalau saja tidak ada satu benda kecil yang bernama telepon genggam. Butuh beberapa saat bagiku untuk mengetahuinya. Bayangkan saja, sore tadi aku ber-sms-an dengan pacar tercinta di Padang. Baru saja tekan tombol send, tiba-tiba langsung masuk sms report kalo sms ku sudah terkirim, dan sekian detik berselang sms ku sudah dibalas. Bandung-Padang, sekian detik?
Aku punya perasaan aneh tentang hal yang satu ini. Ya, rasanya aneh sekali.
Aku coba bayangkan, misalnya sms itu dikirim dengan menggunakan sebuah kendaraan yang berupa sebuah biji jeruk. Ya tentu saja jeruk tradisional yang aku maksud, bukan jeruk bule tanpa biji di kulkas yang biasa diteriak-teriakin tante berkurang banyak setiap kali aku ke apartemennya. Tombol send itu ditekan, bagaikan ledakan pistol start lari seratus meter. Dooorr...biji jeruk langsung melesat kencang, dari kostan ku di Bandung menuju rumah pacar di Padang, bongkar muat sms, lalu langsung balik lagi ke Bandung, jarak lebih dari seribu kilo dalam sekian detik. Tidak habis pikir, bagaimana ini bisa terjadi. Superman pasti juga bingung.
Omong-omong soal aneh. Aku baru dua minggu ini beli telepon genggam baru. Hitam, minima, dan super canggih. Bisa dipake buat kirim sms dan telpon pacar kapan saja. Telepon genggam ini menggantikan telephon genggam lama yang baru saja merayakan ulang tahun keempatnya. Dan telepon genggam baruku ini, benar-benar aneh.
Dia punya empat bar level batere. Misalnya aku charge sampai penuh pada hari Minggu malam. Karena sering dipake, Senin sore daya baterenya berkurang, tinggal tiga bar. Selasa siang tinggal dua bar, dipake terus sorenya tinggal satu. Selasa malam telepon genggamnya mati, jadi harus di charge ulang? Tidak, bar nya sekarang malah kembali jadi dua. Rabu siang jadi tiga lagi. Kamis sore baru dia beneran gugur. Apa telepon genggam ini bisa charge sendiri ya?
Namun kalo urusan mencari sinyal, telepon genggamku tergolong pemalas. Ketika dibawa ke dalam Lab ku, sebuah bunker bawah tanah yang tidak dimasuki sinyal, semua telepon genggam pasti akan berstatus no service. Ketika telepon genggamnya dibawa keluar lagi, secara otomatis ia akan mencari sinyal dan kembali normal. Namun tidak dengan telepon genggamku, keluar dari bunker, terus dibawa ke gedung PAU, gedung tertinggi di kampusku pun atau ke lapangan luas sambil teriak-teriak suruh nyari sinyal, tetap saja dia akan berstatus no service. Diam saja, tidak mau mencari sinyal layaknya saudara-saudara dia yang lain. Atau saudara tuanya yang baru saja aku istirahatkan. Memang sih, memulai mencari sinyal itu pekerjaan yang berat, seperti ketika pertama sepeda kita kayuh, terasa berat. Namun harusnya telepon genggam ini tidak boleh pemalas seperti empunya.
Yang lebih aneh lagi tentang telepon genggam baruku itu, dia tahu aku ada dimana. Misalnya saja ketika aku sedang di kostan. Di layar telepon genggamku muncul tulisan Gandok. Ya, benar... kostanku ada di daerah Gandok. Terus ketika minggu kemaren aku nginap di rumah seorang artis di daerah Cibubur, telepon genggamku juga tahu. Dengan telepon genggam ini aku akan selalu tahu aku ada dimana. Coba saja tanya posisiku setiap saat dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, atau Bandung ke Bogor. Cerdas cermat sama supir bis nya aku pasti menang. Walaupun informasinya masih sedikit kurang. Harusnya juga tercantum kodeposnya. Biar tidak bingung sama daerah-daerah yang bernama sama. Di Alun-Alun Bandung telepon genggamku akan bilang Kebon Kelapa, tapi di daerah kantorku di Bogor yang di jalan Salak, dia juga bilangnya Kebon Kelapa. Kasihan pak Pos.
Aneh, tapi keren bukan? Aku menyukainya, telepon genggamku benar-benar pintar.
Nyaris.
Ternyata aku salah.
Tadi sore, sebelum pulang ke kostan aku ke daerah Dipati Ukur untuk mengambil cucian. Dari Dipati Ukur ke kostan, aku naek angkot jurusan ke Ciroyom karena kebetulan angkot ini lewat di dekat kostanku. Daerah Ciroyom nya sendiri adalah beberapa kilo jaraknya. Tapi anehnya, aku dikostan sekarang, telepon genggamku malah bilangnya lagi di Ciroyom. Orang cuma naek angkot jurusan Ciroyom doank, dikiranya mau ke Ciroyom beneran. Telepon genggam yang aneh, dan bodoh. =)
PS : habis ini aku mau cerita tentang kisahku weekend kemaren nginap di rumah artis, tungguin ya =)
Oh ya, sebenarnya aku ada photo bareng sama telepon genggam baruku, tapi file nya masih di iMac kantor. Tungguin juga deh.
Met tidur, semua. Doain aku cepat sembuh ya.

9 Comments:
itulah kenapa kita menyebutnya GSM. Gak Sampe Mudheng.
I Hate Pop-Up Comment Post. Eh, Beni yang-baik-budi-pisan, udah dikirimkah buku dan dvd ku? Please..
Anyway, congrats with the new cell phone.
wooo hape baru?
Gw bingung ben...
Lo mau nyeritain apa, sms supercepat ama pacar lo, hp baru lo, provider yg lo pake, atau jeruk yang aneh?
Beni yang aneh..
Hahaha..
Jadi domisili lo sekarang dmana? Bogor, Bandung, atau Jakarta?
Btw, The Simpsons gak nyampe2 nih di Bandung...Hiks..
This comment has been removed by the author.
oh.. si kodok-kodok tuh ternyata kodong padang ya,, hahahaha xD
kalo loe masih bingung mengapa dalam hitungan detik pesen loe bisa sampe ke padang, kayaknya loe mesti ambil mata kuliah komunikasi data + jaringan.
orange ? sony eriksen kan ?
atau nokia 5210 ?
HP gue yang dulu lebih canggih ben,.
kalo cewe yang nelp dia tahan lama..
tapi coba pas loe yang nelpon,.. langsung lobet,..benerkan??
./bodhi : kalo CDMA? =)
./rex : gw masih belum pulang pulang juga rex sampai sekarang..maaf =D
./raiza : yup..
./mona : biar aneh tapi jodoh lancar mon, hehehe
./rime : sssttttttt =p
./rudi : hahaa, yang itu mah ga kebeli bos..yang murah murah aje, 400rebu masih dikembaliin seribu =D
./item : mm, berarti lu kalah dong sama hp lu tem =p ga tahan lama..hahahha
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home