Tuesday, July 20, 2010

Bicara Film : Despicable Me, Inception, and Brooklyn's Finest

Satu bulan terakhir, ada tiga film yang sempat Saya tonton. Despicable Me, Inception, dan yang terakhir Brooklyn’s Finest. Tahun ini sepertinya tidak cukup banyak film-film yang masuk daftar film yang dinantikan. Syukur deh! Keuangan Saya tidak akan terlalu terganggu karenanya.

Jadi, kali ini Saya bicara tiga film itu saja ya.

Despicable Me
Fluffy! Animasi 3D tentu saja menjadi alasan awal Saya tertarik untuk menonton film ini, selain keinginan si Ibu Negara tentunya. Cerita sederhana bertema keluarga yang menarik untuk ditonton. Keluguan alias kenaifan si mungil lucu Agness, adalah jualan yang tidak bisa tidak akan membuat Saya begitu menyukainya. Teriakan Agnes ketika mendapatkan Unicorn-nya, “it’s so fluffy, I wanna die”, bahkan mampu membuat seseorang berkata “Aku mau punya Agnes”.
Tapi terlepas dari hal itu, judul Despicable terasa terlalu berlebihan untuk karakter Gru. Malahan Goob yang berubah menjadi Bowler Hat Guy di Meet the Robinsons, Saya rasa lebih cocok untuk berlabel Despicable. Sedangkan Gru, yang juga bernasib kurang lebih sama dengan apa yang dialami Goob, dilecehkan dan tidak dihargai semasa kecil, kurang gahar rasanya.
Namun secara keseluruhan, film ini sangat menarik untuk ditonton. Agnes membuat Saya menonton film ini hingga dua kali.

Inception
Leonardo DiCaprio main di filmnya Christopher Nolan? Waw, ini jelas-jelas jualan utama yang begitu kuat menarik Saya ke bioskop. Apa lagi yang mau dipertanyakan. Leonardo DiCaprio yang membuat Saya berdecak kagum akan acting-nya di The Departed, dan diulanginya dengan sangat baik di Shutter Island. Christopher Nolan dengan dua seri terakhir Batmannya, mengaduk imajinasi Saya akan superhero. Lebih dari sosok Joker yang diciptakannya, Saya datang menonton film ini dengan harapan akan muncul sebuah karakter baru yang lebih membuat Saya merinding, seperti yang Saya rasakan akan hawa si Hannibal Lecter yang diperankan oleh Anthony Hopkins.
Namun, sepertinya film ini punya interpretasi sendiri akan harapan Saya. Mimpi dalam mimpi orang yang bermimpi memang menjadi sebuah ide yang mampu memicu turbulensi otak. Namun dengan skema cerita yang seakan sama dengan apa yang sudah ditampilkan Martin Scorsese di Shutter Island, membuat film ini sangat mudah ditebak. Saya cukup menikmati setiap adegan dari film ini, bagaimana sebuah dunia dibangun dengan ide melipat kotanya, dan juga dengan pertarungan zero gravity-nya, namun sepanjang itu pula skeptis bermunculan di otak Saya.
Yang sudah menonton, ada yang bisa jelaskan apa sih sebenarnya peran dari si Juno (ya, Saya tetap lebih senang memanggilnya Juno) di dalam alur cerita tersebut, toh pada kenyataannya mereka beraksi dalam mimpi bertingkatnya si Scarecrow (dan ya, Saya merasa Cillian Murphy lebih pas memerankan si Monster Orang-orangan Sawah). Dan kereta yang tiba-tiba muncul, juga serbuan para pasukan penjaga si Scarecrow, mengacaukan konsep membangun mimpi yang dijelaskan dari awal film tersebut. Dan sepertinya kita dianggap lupa bahwa di awal film ini juga sudah dengan gamblangnya menjelaskan bahwa jika mati tidak mungkin kembali ke dunia nyata. Jadi bagaimana mungkin masih ngotot untuk menampilkan totem yang terus berputar di akhir ceritanya.
Dan pertanyaan terakhir Saya, anggaplah tadi malam Saya di-Inception, ditanamkan ide bahwa Saya harus mengawini Dian Sastro, apakah paginya Saya terbangun dengan semangat empat lima tak tengok kiri kanan tak nyadar muka bakal kujuk-kujuk ngelamar Dian Sastro? Yang ada malah Saya teriak-teriak “It’s so fluffy, I wanna die”. :-D

Brooklyn’s Finest
Saya bilang, jusru inilah film yang mampu menyaingi The Departed dan The Dark Knight. Menghadirkan karakter di wilayah abu-abu yang membuat dada Saya sesak setiap kali ingin melabeli ketiga karakter utama di film ini sebagai orang baik atau bukan. Dan tidak hanya satu, tetapi tiga karakter sekaligus. Film ini juga seakan sebuah cermin yang membuat Saya sadar dan malu pada diri sendiri yang tidak malu bersembunyi di belakang prosa bahwa kita ini hanya manusia biasa. Saya ini orang baik atau bukan, eh maksud Saya, Saya ini orang wronger atau righter.

Membandingkan di antara tiga film tersebut, sepertinya kurang pas pada Despicable Me karena genre-nya berbeda. Tetapi di antara Inception dan Brooklyn’s Finest, jelas film yang kedua lebih menarik.

Selamat menonton.
Dan… it’s so FLUFFY, I wanna DIE. :=D

Labels: , ,