Gugur sebelum Lahir
Sekitar tujuh tahun yang lalu, terpikir sebuah program aplikasi yang sangat ingin saya buat. Sayangnya saya tidak punya keahlian untuk itu, jadi lah saya bercerita ke beberapa orang teman, mengajak untuk bekerja sama. Tapi sayangnya, tak satupun dari mereka yang percaya akan ide tersebut. Hari ini, ada sekian banyak aplikasi kesehatan di telepon genggam kita yang bisa menjadi dokter pribadi kita; mengetahui kondisi tubuh, dan merekomendasikan obat apa untuk penyakit yang kita alami. Sebuah ide yang dulu juga ingin saya buat.
Dari sudut pandang positif saja, saya menyakini bahwa di otak ini sebuah anugrah besar diberikan Sang Pencipta (hei, semua orang harus berpikiran yang sama bahwa kita diciptakan dengan begitu banyak kehebatan).
Selama tujuh tahun itu berselang, sekian banyak ide aplikasi bersileweran di pikiran, dan semuanya melayang saja, sembari melihat dan mengunduh berbagai aplikasi di iPhone saya sambil sesekali berkata, "wah, ini saya dengan apa yang saya pikirkan."
Tapi ya begitu saja, dunia berlalu.
Hingga dua bulan terakhir, keinginan untuk mewujudkan berbagai ide di otak begitu kuat menggeliat. Ada lima ide awal, dan akhirnya saya menemukan teman lama yang bisa saya ajak untuk mewujudkannya.
Kita mulai dari yang paling mudah - menurut pemahaman saya.
Instho!
Zaman sekarang siapa yang tidak suka berfoto bersama teman, kolega, atau kelompoknya setiap ada acara.
Dalam kondisi formal, saya sering mengalami ini. Pertemuan dengan kolega dari 10 negara, photo group, setiap orang sibuk untuk mengeluarkan telepon genggam mereka dan minta tolong siapapun untuk mengambil fotonya. Seringnya, setelah si juru foto resmi ambil gambar, setelah itu digilir lagi photo dengan setiap telepon genggam peserta yang ada. Jadilah 10 orang 10 kali foto padahal posenya sama.
Atau, lihat saja, ketika sekelompok teman sedang berkumpul berbuka puasa bersama, pasti ada sesi fotonya. Tapi karena sekarang semuanya pada punya telepon pintar berkamera, jadilah untuk satu pose foto, fotonya berkali-kali dengan setiap kamera yang ada. Itupun tak puas. Setelah berfoto pasti akan ribet untuk saling meminta dikirimkan foto di kamera temannya, - atau jurus paling bawah adalah minta diunggah dan di-tag di Facebook atau Path.
Duuuuh, ribet!
Jadilah saya terpikir untuk membuat sebuah aplikasi telepon genggam, dimana ketika mau foto bersama, cukup satu telepon genggam yang dipake buat mem-photo, dan klik, setiap kali photo diambil, seketika itu juga photo tersebut di simpan di telepon genggam yang dipakai buat photo DAN di folder photo semua telepon genggam semua orang yang ada di situ. Klik! lagi, langsung tersimpan lagi di SEMUA telepon genggam yang ada. Jadi, no more photo berkali-kali pakai setiap kamera, atau no more sesi minta di-tag photo di FB atau dikirmkan via wasap atau BBM (dan jika tak teman dekat, harus nanya nomor atau minta pin dulu).
Jadinya, no more ribet dengan aplikasi Photo sharing instan, atau yang saya namakan INSTHO. ;-)
Setelah membaca berbagai referensi di internet tentang bagaimana membuat aplikasi buat orang awam seperti saya, akhirnya saya menggambar semacam skema idenya. Dengan referensi ini, sang teman yang memang orang dunia IT bisa mengembangkan menjadi sebuah aplikasi.
Ini salah satu sket yang saya buat.
Sayang sekali, setelah sebulan lebih "memikirkan" teknisnya, sampai pada kesimpulan untuk "membatalkan" rencana aplikasi ini.
Mohon maaf buat para selfie group di dunia luar sana, sementara ini kalian terpaksa tetap harus foto berulang-ulang pake SEMUA kamera telepon genggam kalian, atau ya saling nge-Tag aja di FB ya. :-D
Dari sudut pandang positif saja, saya menyakini bahwa di otak ini sebuah anugrah besar diberikan Sang Pencipta (hei, semua orang harus berpikiran yang sama bahwa kita diciptakan dengan begitu banyak kehebatan).
Selama tujuh tahun itu berselang, sekian banyak ide aplikasi bersileweran di pikiran, dan semuanya melayang saja, sembari melihat dan mengunduh berbagai aplikasi di iPhone saya sambil sesekali berkata, "wah, ini saya dengan apa yang saya pikirkan."
Tapi ya begitu saja, dunia berlalu.
Hingga dua bulan terakhir, keinginan untuk mewujudkan berbagai ide di otak begitu kuat menggeliat. Ada lima ide awal, dan akhirnya saya menemukan teman lama yang bisa saya ajak untuk mewujudkannya.
Kita mulai dari yang paling mudah - menurut pemahaman saya.
Instho!
Zaman sekarang siapa yang tidak suka berfoto bersama teman, kolega, atau kelompoknya setiap ada acara.
Dalam kondisi formal, saya sering mengalami ini. Pertemuan dengan kolega dari 10 negara, photo group, setiap orang sibuk untuk mengeluarkan telepon genggam mereka dan minta tolong siapapun untuk mengambil fotonya. Seringnya, setelah si juru foto resmi ambil gambar, setelah itu digilir lagi photo dengan setiap telepon genggam peserta yang ada. Jadilah 10 orang 10 kali foto padahal posenya sama.
Atau, lihat saja, ketika sekelompok teman sedang berkumpul berbuka puasa bersama, pasti ada sesi fotonya. Tapi karena sekarang semuanya pada punya telepon pintar berkamera, jadilah untuk satu pose foto, fotonya berkali-kali dengan setiap kamera yang ada. Itupun tak puas. Setelah berfoto pasti akan ribet untuk saling meminta dikirimkan foto di kamera temannya, - atau jurus paling bawah adalah minta diunggah dan di-tag di Facebook atau Path.
Duuuuh, ribet!
Jadilah saya terpikir untuk membuat sebuah aplikasi telepon genggam, dimana ketika mau foto bersama, cukup satu telepon genggam yang dipake buat mem-photo, dan klik, setiap kali photo diambil, seketika itu juga photo tersebut di simpan di telepon genggam yang dipakai buat photo DAN di folder photo semua telepon genggam semua orang yang ada di situ. Klik! lagi, langsung tersimpan lagi di SEMUA telepon genggam yang ada. Jadi, no more photo berkali-kali pakai setiap kamera, atau no more sesi minta di-tag photo di FB atau dikirmkan via wasap atau BBM (dan jika tak teman dekat, harus nanya nomor atau minta pin dulu).
Jadinya, no more ribet dengan aplikasi Photo sharing instan, atau yang saya namakan INSTHO. ;-)
Setelah membaca berbagai referensi di internet tentang bagaimana membuat aplikasi buat orang awam seperti saya, akhirnya saya menggambar semacam skema idenya. Dengan referensi ini, sang teman yang memang orang dunia IT bisa mengembangkan menjadi sebuah aplikasi.
Ini salah satu sket yang saya buat.
Sayang sekali, setelah sebulan lebih "memikirkan" teknisnya, sampai pada kesimpulan untuk "membatalkan" rencana aplikasi ini.
Mohon maaf buat para selfie group di dunia luar sana, sementara ini kalian terpaksa tetap harus foto berulang-ulang pake SEMUA kamera telepon genggam kalian, atau ya saling nge-Tag aja di FB ya. :-D


0 Comments:
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home