Steaky Plaster
Hari ini harus lebih baik dari hari Selasa dan Rabu kemaren. Dua hari mengerjakan proyek gearbox seberat 700 kg, hasilnya, jempol dan jari tengah tangan kiriku, sekarang dibalut dengan plester. Memalukan, semoga saja akhir minggu ini pekerjaanku bisa selesai sebelum semua jari-jari di tanganku harus dibalut plester semua. Walaupun sebenarnya lucu juga pakai plester pemberian si Babe, warnanya pink dan ada gambar gajahnya.
Oh ya, buat neng Salmi, kemaren selamat ulang tahun ya. Aku minta dibeliin HP.
update*
Tahu lagu Leaving on A Jet Plane nya Chantal Kreviazuk?
Baru saja aku terinspirasi untuk membuat sekuel lagu tersebut. Judulnya Living on A Jet Lag, yang akan menyanyikannya masih belum aku putuskan siapa. Kalau lagu Leaving on A Jet Plane bercerita tentang perasaan seseorang yang tidak ingin meninggalkan kekasih hatinya, maka lagu Living on A Jet Lag bercerita tentang kisah hidupku, seseorang yang sedang menderita jet lag kronis.
Seperti biasa, setiap kamis aku selalu bermain tenis di Sabuga. Jadwalnya adalah dari pukul tiga sampai pukul lima. Tapi karena ada satu tugas dari Inspirit yang harus aku kerjakan segera, maka pukul setengah lima aku menyudahi maen tenisnya. Tim Inspirit akan mengadakan training di Bandung pada bulan Agustus nanti, dan untuk persiapan aku harus mengecek hotel tempat training akan dilakukan. Pamit sama si Om, ganti pakaian lalu langsung berangkat.
Dasar nasib sial, jalanan ternyata cukup macet, dan baru pukul lima lewat aku sampai di hotel tersebut.
Pukul lima lewat? Astaga, ternyata sudah pukul lima lewat lima belas. Jam kerja kan cuma sampai pukul lima. Dan sekarang hotelnya sudah tutup. Sungguh malang. Terpaksa besok balik lagi ke sini.
Pulang, dan langsung terkapar di kasur.
Terkapar, cukup lama terkapar di kasur, cukup lama untuk tersadarkan akan kebodohan diri bahwa yang namanya hotel itu bukan kantor dengan jam kerja delapan pagi hingga lima sore, tapi buka 24 jam.
“Oh tidak, kenapa dalam semingguan ini aku selalu kacau dalam urusan waktu.”
Oh ya, berita baiknya hari ini berjalan baik. Tidak ada tambahan plester di jari tanganku. Berdoa semoga besok akan semakin baik.
Now the time has come to leave you. One more time oh let me kiss you, and close your eyes and I'll be on my way.
Selamat tidur, semua.
*sebenarnya postingan ini aku tulis pas malam sebelum tidur, sekitaran pukul setengah dua belas gitu. Aku pikir aku sudah meng-klik publish, tapi ternyata save to draft. Berdoa saja ternyata belum cukup.
Oh ya, buat neng Salmi, kemaren selamat ulang tahun ya. Aku minta dibeliin HP.
update*
Tahu lagu Leaving on A Jet Plane nya Chantal Kreviazuk?
Baru saja aku terinspirasi untuk membuat sekuel lagu tersebut. Judulnya Living on A Jet Lag, yang akan menyanyikannya masih belum aku putuskan siapa. Kalau lagu Leaving on A Jet Plane bercerita tentang perasaan seseorang yang tidak ingin meninggalkan kekasih hatinya, maka lagu Living on A Jet Lag bercerita tentang kisah hidupku, seseorang yang sedang menderita jet lag kronis.
Seperti biasa, setiap kamis aku selalu bermain tenis di Sabuga. Jadwalnya adalah dari pukul tiga sampai pukul lima. Tapi karena ada satu tugas dari Inspirit yang harus aku kerjakan segera, maka pukul setengah lima aku menyudahi maen tenisnya. Tim Inspirit akan mengadakan training di Bandung pada bulan Agustus nanti, dan untuk persiapan aku harus mengecek hotel tempat training akan dilakukan. Pamit sama si Om, ganti pakaian lalu langsung berangkat.
Dasar nasib sial, jalanan ternyata cukup macet, dan baru pukul lima lewat aku sampai di hotel tersebut.
Pukul lima lewat? Astaga, ternyata sudah pukul lima lewat lima belas. Jam kerja kan cuma sampai pukul lima. Dan sekarang hotelnya sudah tutup. Sungguh malang. Terpaksa besok balik lagi ke sini.
Pulang, dan langsung terkapar di kasur.
Terkapar, cukup lama terkapar di kasur, cukup lama untuk tersadarkan akan kebodohan diri bahwa yang namanya hotel itu bukan kantor dengan jam kerja delapan pagi hingga lima sore, tapi buka 24 jam.
“Oh tidak, kenapa dalam semingguan ini aku selalu kacau dalam urusan waktu.”
Oh ya, berita baiknya hari ini berjalan baik. Tidak ada tambahan plester di jari tanganku. Berdoa semoga besok akan semakin baik.
Now the time has come to leave you. One more time oh let me kiss you, and close your eyes and I'll be on my way.
Selamat tidur, semua.
*sebenarnya postingan ini aku tulis pas malam sebelum tidur, sekitaran pukul setengah dua belas gitu. Aku pikir aku sudah meng-klik publish, tapi ternyata save to draft. Berdoa saja ternyata belum cukup.

11 Comments:
Ada gambar gajahnya?
Keterlaluan ah. Masa' plester aja mesti yang merek ITB sih.
Benx, gearbox apaan tuh 700 kg?
ampun dah... plesternya warna pink? gakuku.. (halah, bahasa era 90-an nih)
Ehh... serius benx? ada plester bergambar gajah lucu? mauuu... mau.... :D kirimin dunks :p kkekkkke....
wah..pink? gajah pula?!! beli dimana? mau dong..mau!!! ada tulisan ITB nggak? hwakakakakakaka
HUaayyaaahhhhhhhhhh................
Masih kesurupan lu???
Wah..sepertinya butuh multivitamin nih. Terlalu banyak pikiran kayaknya ^_^
Blogroll lu kmn?
he..??
Lama gak ke sini udah berubah aja nih blog..
bukan berubah lagi, tp sangat berubah!
tiba2 aja foto narsis gue udah gak kepampang lagi di blogroll..
daaaannn...
he...???
sjak kapan seorang benx make kata "aku-kamu"?
ow..ow..ow..
ada apa ini..? ada apa..??
r u Ok, sweety..???
ok, soal postingan lo..
gue masih gak mudheng, antara hotel dan plester di tangan lo.. trus, sama "si Om" yg lo mksd di hotel..
maaph..maaph.. mengomen2 di jam2 sepagi ini mmg sangat gak disarankan oleh pakar blog dan pakar kesehatan di mana pun sebenernya..
~I hope "the Benx" is back soon~
x)
wiLL back mapsudnya..
hayo..hayo...
gue mule mencium bau tak sedap..apa yaaa?
gearboxnya 700kg, mobilnya segede apa benx?
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home