Sunday, November 13, 2016

Bersama Mereka

Ceritanya baru selesai dipijit namun tak cukup untuk menengahi penat. Jam setengah dua belas malam. Kebetulan sang kekasih dan buah hati sudah lelap tertidur dari jam sembilan tadi. Sejenak terlelap dalam bacaan novel lama "Ayat-Ayat Cinta", lalu tergerak untuk kembali menulis di blog ini.

Tak tahu harus memulai dari mana. Sejak lama tangan ini begitu sulit untuk menemukan kembali irama lama dalam menulis. Rasa malaslah yang sebenarnya begitu menggunung tapi mungkin bisa disalahkan juga dunia kerja yang selama ini mengkungkung saya untuk menulis journal, artikel ataupun buku non-fiksi, membuat lupa untuk menulis lepas dari hati.

Lanjut bercerita saja, tentang keluarga dan berkeluarga. Kehidupan berkeluarga, keseimbangan sedang tercoba. Kadang saya merasa tak bisa apa-apa, namun tak jarang saya merasakan begitu kaya.

Lima tahun lebih, hidup saya adalah tentang keluarga dan pekerjaan. Saya seakan tak punya gairah untuk kumpul-kumpul bersama teman ataupun kelompok sosial. Dulu sempat hampir setiap hari melanjutkan waktu dari kantor ke kampus tetapi saat itu belum ada sang buah hati dan kekasihpun tinggal ribuan kilo meter jauhnya dari saya.

Namun lebih dari tiga tahun ini sepenuhnya adalah tentang keluarga dan pekerjaan. Pekerjaan cukup sering mengharuskan saya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri dan itu artinya beberapa hari terpisah dari kekasih dan si buah hati.

Dahulu, satu atau dua hari kegiatan, saya sering kali mengajukan cuti untuk melanjutkan sendiri berpetualang di negeri orang. Kini, selalu saja berat kaki ini melangkah setiap kali taksi datang guna menghantar ke bandara. Seketika kegiatan selesai, sigap kaki ini melangkah kembali ke bandara, berharap dapat pesawat yang bisa mengantarkan saya kembali bertemu dengan kekasih dan si buah hati.

Sering kali saya diejek di kantor, tak pernah mau berpeluh tawa dengan kolega setiap minggunya olah raga bersama setelah jam kerja. Sering kali saya tak masuk daftar undangan ketika teman-teman berkumpul bercengkrama. Sekali waktu saya pernah ingin kursus bahasa untuk meningkatkan performa kerja, kekasih mendukung sepenuh hati, namun hasrat itu saya bungkam karena kursus artinya saya menukar hari Sabtu bersama keluarga. Di hari kerja? Saya hanya akan bertemu si buah hati yang sudah terlelap ketika pulang. Pun jika ada yang saya datangi - selalu sang kekasih dan si buah hati adalah bagian dari rombongan kami.

Kualitas di atas kuantitas, banyak orang berpendapat. Saya tidak ada niat mendebat. Tetapi dalam segala keterbatasan, bersama mereka upaya utama saya.

Kala bersama, tak sekali dua kali juga si buah hati berang ketika Bapaknya masih tergoda dengan si layar kecil. Kala bersama, pun sering si buah hati terpaksa asik main sendiri karena si Bapak yang duduk hanya beberapa meter darinya sibuk sendiri.

Tapi rasanya, berada di samping kekasih dan si buah hati adalah segalanya buat saya.

Hingga akhir tahun, saya masih ada satu perjalanan dinas lagi. Beberapa hari tuk jauh lagi dari kekasih dan si buah hati. Mudah-mudahan dikuatkan hati ini.

Sementara itu, saya sedang menikmati untuk menikmati setiap detiknya bersama setiap akhir pekan. Seperti saat ini, kita menikmati hari liburan bertiga. Melakukan apa saja yang kita nikmati bertiga dalam kebahagian.

Teringat ocehan si bocah bertanya tanpa henti ke Mamanya saat di perjalan siang tadi.
Sampai hotel terus kita ngapain, Ma? Berenang.
Habis berenang, Ma? Mandi.
Terus habis mandi, Ma? Tidur.
Habis tidur? Makan.
Habis makan? Ya kita nonton, terus main terus tidur malam.
Habis bangun tidur malam, Ma? Ya kita berenang lagi. Sarapan, terus berenang lagi, main, terus begitu. 

Kalau sekarang? Sekarang kita sudahi.
Selamat tidur.
Salam dari balkon kamar 402, Novotel Bogor.

0 Comments:

Post a Comment

Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home