Monday, February 18, 2013

Antara Kereta dan Telinga

Baiklah, per pagi ini saya menentang kebijakan pemerintah mendorong para pemilik kendaraan pribadi untuk bepergian dengan transportasi publik.

Bayangkan, tanpa ada rekomendasi tersebut saja, saya sudah sebegitu tergencetnya di dalam kereta Commuter Line (CL). Sekali kaki terangkat mau, tidak ada ceritanya lagi bisa kembali menapak di lantai kereta. Jadilah terpaksa sepanjang perjalanan kaki kiri saya dipangku kaki kanan.

Pegelnya pooool. Untung cuma jalan dua stasiun.
Tapi ini belum lagi bau, ya walaupun ini ceritanya pagi-pagi saat semua orang berangkat kantor dan harusnya sudah mandi dan semerbak wangi, tetap saja baunya ampun-ampunan.

Bayangkan bila para pemilik kendaraan pribadi itu -yang memenuhi setiap inchi jalanan ibu kota, bikin macet dengan suara klakson nyet-nyotnya- setengahnya aja pindah ikutan CL juga.

Ampun deh...

Jadi emosi nih.

Memang sudah sebulan terakhir ini saya agak kesusahan mengontrol emosi. Semua ini gara-gara telinga kiri saya yang sedang sakit.

Sudah hampir sebulan ini terasa perih sekali. Dokter bilang ini terjadi karena infeksi. Pengobatan penyakit-penyakit sebelumnya yang tidak tuntas (ya, saya sering kali tidak minum obat sampai habis ketika merasa sudah sehat), mengakibatkan virus (/bakteri?) menjadi imun, dan menyerang organ yang lain.

Setelah beberapa kali kontrol, sekarang sedang menjalani fisioterapi. Jika tidak ada perkembangan yang berarti, maka dokter memperkirakan telinga saya harus dilubangi. Jangan tanya lebih lanjut, karena si dokternya juga enggan menjelaskan ketika saya tanya. Dokter bilang nanti saja ketika sudah selesai 5x fisioterapinya. Mudah-mudahan ga perlu ya. Amin...

0 Comments:

Post a Comment

Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home