Sunday, September 9, 2012

September di Phnom Penh - Hari 2: Sholat di Negeri Orang

Hari 2 - Minggu, 9 September 2012
Kesiangan! Astaga! Segera sholat subuh.
Tentang sholat, di negara lain, pengalaman selama ini, ada tiga perihal yang menjadi perhatian, yaitu (1) tempat, (2) waktu, dan (3) kiblat. Dan begini pengalaman saya sejauh ini. 
Pertama soal tempat. Kalau sedang di kamar hotel tentu saja kita bisa dengan leluasa melakukannya di kamar sendiri, tetapi lain hal jika saat saya seharian harus mengikuti meeting kantor. Karena Islam bukan agama mayoritas di negara-negara yang pernah saya kunjungi (kecuali Brunei Darussalam dan Malaysia), maka jarang atau bahkan belum pernah saya menemukan hotel meeting venue yang punya ruangan khusus sholat. Sebenarnya ini bukan perkara susah, karena cukup cari space kosong berukuran 2x1 meter sudah cukup. Tetapi alhamdulillah, pengalaman selama ini, para kolega pelaksana dari pertemuan-pertemuan yang saya hadiri di berbagai negara, cukup membantu.
Pernah pengalaman ikut pertemuan di Suntec Singapore, ketika saya bilang ke kolega pelaksana bahwa saya minta tolong dicariin ruang dimana saya bisa sholat, mereka malah memesanka ruang pertemuan di sebelahnya -beukuran 8x8m- khusus sebagai tempat saya sholat. Subhannallah. :-)
Waktu ikut pelatihan di Paris, salah seorang petinggi International Energy Agency malah mengosongkan ruang kantornya sebagai tempat saya sholat.
Waktu di Vientiane, saya lupa bilang sama kolega pelaksana, jadinya mereka hanya bisa menyarikan satu space kecil. Dan karena ini mereka hingga berkali-kali meminta maaf. Berulang kali juga saya bilang bahwa tidak masalah, yang penting ada ruang kecil, tetapi tetap mereka sepertinya merasa malu dan tidak enak hati. Hebat sekali bukan? :-)
Yang mungkin lebih ribet adalah ketika harus sholat Jum'at, yang tentu saja harus di masjid. Perjalanan ke Kamboja awal bulan Juli yang lalu, kolega pelaksana dengan baiknya mengantarkan saya dan juga rekan-rekan dari Indonesia ke sebuah masjid besar di pemukiman muslim di utara Phnom Penh. Imam besar masjid tersebut bahkan sangat fasih berbahasa Indonesia, sesaat kami sampai langsung disambut salam dan ucapan selamat datang saudaraku seiman. 
Berpose setelah  sholat Jumat di Masjid besar di Phnom Penh.

Oh ya, di iPhone saya menemukan sebuah aplikasi yang bisa membantu kita menemukan lokasi masjid. Dari aplikasi Masjid ini (search saja: Mosque Locator) ini saya mengetahui paling tidak ada lima mesjid di sini. Sangat membantu sekali. 

Kedua soal waktu. Kalau Googling, sebenarnya banyak sekali situs dan aplikasi yang bisa membantu kita masalah waktu sholat di berbagai tempat di penjuru dunia, yang tentu saja menyesuaikan dengan waktu lokal dimana kita berada. 
Pengalaman paling susah adalah saat saya ke Eropa tahun 2010 dan 2011. Pernah solat subuh jam 8 pagi, magrib jam 8 malam, terus setengah jam kemudian dah langsung isya. Permasalahan yang saya alami adalah yang masih terpatri di otak itu adalah waktu sholat versi Indonesia bagian barat, GMT+7. Pernah sekali waktu jam setengah lima pagi saya bangun dan langsung sholat, padahal lagi di Paris. Apalagi kala cuma sendiri orang Indonesia (dan muslim). Sering lalai jadinya sama waktu. 
Singapur, walau secara waktu duluan satu jam di banding Indonesia, tetapi secara geografis posisinya adalah sama dengan waktu Indonesia bagian barat. Jadinya kalau sedang di Singapur, saya patokannya dengan waktu di Jakarta saja.
Bagaimana dengan di Kamboja? Saya coba Googling "praying time phnom penh", hasilnya hanya banyak mengarah ke situs www.islamicfinder.org. Situs ini cukup lengkap menyediakan waktu sholat (dan informasi Islam lainnya) di berbagai penjuru dunia. Tetapi sejauh ini, karena Phnom Penh secara geografis masih selurus Indonesia bagian barat, saya rasa waktunya sama ma waktu sholat di Jakarta, seperti subuh sekitar jam 4.15 (bukan jam tujuh karena kesiangan, hehehe).
Ketiga adalah arah kiblat. Dibeberapa kesempatan saya mencoba untuk menentukan arah kiblat dengan panduan mata angin dan posisi matahari. Namun saya tidak cukup jagoan untuk urusan ini. Pertama ke Kamboja, saya melakukan ini. Tiga hari lamanya saya sholat menghadap kiblat yang saya tentukan tersebut. Ternyata, hari ke empat, sesaat setelah salam, seorang kolega asal Malaysia berkata, "Ben, your kiblat is wrong." Alhasil belakangan saya seringnya ketika niat sholat, mengucapkan diniatkan menghadap kiblat.
Tetapi pagi ini saya Googling dan menemukan cara mudah untuk menentukan arah kiblat, menggunakan bantuan http://www.al-habib.info/arah-kiblat/.
Coba lihat hasilnya di bawah ini.
Mudah sekali bukan? 
Jadi, tidak ada alasan untuk meninggalkan sholat walaupun sedang jauh dari rumah. :-)
Salam hangat dari Kamboja.

0 Comments:

Post a Comment

Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home