September di Phnom Penh - Hari 1
Belakangan ini saya jarang menulis di blog ini. Ada sejuta alasan, kalau ditanya, hehehe. Beberapa kali malah saya berpikir untuk lebih fokus menulis blog yang satu lagi aja, dhumble foster, yang dicita-citakan melatih kemampuan menulis dalam bahasa Inggris. Walau pada kenyataannya, jarang juga menulis di sana. :-D
Tetapi malam ini, dari kamar hotel nyaman di daerah aliran sungai kota Phnom Penh, saya mencoba untuk menulis lagi. Saya merencanakan seminggu ke depan ini, setiap malam akan menuliskan pengalaman harian saya di ibu kota negara Kamboja ini.
Hari 1 - Sabtu, 8 September 2012
Menjadi bagian dari empat orang delegasi kantor dalam pertemuan tahunan ketiga puluh mentri-mentri energi tingkat Asia Tenggara, hari ini perjalanan ke Kamboja dimulai. Rencananya saya akan ada di Phnom Penh ini untuk satu minggu ke depan, dan akan kembali ke Jakarta pada hari Jumat 14 September 2012.
Sebenarnya ada keraguan untuk berangkat kali ini, karena dua minggu terakhir saya hanya datang ke kantor tiga hari saja, dan selebihnya menjalani hari beristirahat di apartemen guna memulihkan kondisi kesehatan saya yang baru saja terkena tipus. Rasanya ini yang kedua kalinya saya terkena tipus. Yang pertama saat kuliah di Bandung dulu. Tahun 2010 saya sempat terkena DBD dan menghabiskan satu minggu di rumah sakit. Kali ini, alhamdulillah menurut dokter saya tidak perlu di rawat, cukup istirahat penuh dan menjaga makanan dengan baik.
Empat kali bolak-balik menemui dokter di RS, walau badan belum sepenuhnya kembali fit, alhamdulillah kondisi saya cukup sehat untuk melakukan perjalanan dinas ke Kamboja, walau harus membawa sejumlah obat-obatan yang tetap harus dikonsumsi untuk beberapa waktu ke depan.
Rencananya tadi malam akan berkemas, namun rapat di kantor baru selesai jam tujuh malam, dan sampai apartemen, saya sudah langsung blas saja ketiduran. Alhasil, pagi tadi terpaksa bangun lebih awal untuk berkemas, menyiapkan pakaian dan semua peralatan yang harus saya bawa.
Berkemas selesai, masak sarapan selesai, namun waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Sedangkan pesawat saya jadwalnya pukul 11.30. Percayalah, 3,5 jam itu bukan waktu yang cukup untuk perjalanan dari Kalibata sampai bandara tanpa rasa was-was takut terlambat. Jadinya saya memutuskan untuk berangkat dan sarapan di taxi saja. Lucu juga rasanya sarapan nasi goreng kecap (terpaksa tanpa cabe karena kondisi kesehatan) di taxi dalam perjalanan ke bandara.
Namun alhamdulillah, pagi ini ajaib, lancar jaya raya, jam setengah sepuluh saya sudah selesai proses check-in di counter Singapore Airlines bandara.
Masih dua jam lagi? Mengisi waktu, akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling menikmati bandara ini. Rasanya bukan cerita baru lagi jika ada yang berkomentar berapa rendahnya mutu pengelolaan bandara terbesar kita ini. Tetapi saya rasa, saat ini perubahan besar sedang terjadi. Jika kita perhatikan, ada begitu banyak perbaikan di bandaranya. Satu contoh sederhana yang bisa saya sebutkan adalah toilet. Pengelolaannya begitu bagus sekarang. Ada petugas yang dengan ramah menyapa kita, dan menjaga barang kita di tempat khusus bagasi di toilet. Ini sungguh sangat menyenangkan.
Saya berpikir, ini justru akan menjadi sebuah pelajaran manajemen yang luar biasa.
Kita tahu betapa hebatnya pengelolaan bandara-bandara besar seperti Changi atau Suvarnabhumi Airport (saya bahkan terpaksa Googling dulu agar benar menuliskan nama bandara kebanggaan Thailand ini). Namun kedua contoh bandara itu kita nikmati ketika sudah selesai dan beroperasi. Beda cerita dengan bandara Soekarno-Hatta yang sekarang (belakangan saya sering melihat nama bandaranya disingkat menjadi SHIA, bukan Soetta lagi. entahlah, saya merasa aneh dengan nama SHIA). Transformasi yang dilakukan di bandara Soetta (ya, saya lebih memilih menyebutnya Soetta) terjadi sambil tetap beroperasi.
Kita sering menemukan ada tulisan "Under construction. We apologize for any inconvenience," yang mana walaupun mereka sudah minta maaf, tetapi tetap saja merasa sangat terganggu dengan ketidaknyamanan yang ditimbulkan dalam proses perbaikan tersebut.
Namun yang saya rasakan di Soetta, "Under construction. We try the best to keep you convenience, and better". Hebat sekali bukan? Saya rasa ketika bandara ini selesai proses proses pembangunan versi barunya tahun 2014(?) nanti, akan menjadi sebuah contoh pembelajaran manajemen yang sangat hebat. Salut buat para punggawa pelaksananya.
Satu yang masih saya keluhkan adalah begitu susahnya terhubung dengan koneksi internet gratis bandara. Namun beberapa orang terlihat asik bermain internet dengan laptop mereka. Apa laptop saya saja yang ditolaknya? Hehehe.
Pukul 11:30, SQ yang saya tumpangi siap berangkat. Satu yang saya suka dari SQ ini adalah mereka menyediakan handuk hangat untuk melap muka. Walau sepertinya ini hanya diuapkan sesaat, karena begitu handuk panas tersebut kita lapkan ke kulit, hitungan detik, panasnya langsung tidak terasa. Handuknya dingin begitu saja. Hal lain yang saya suka dari SQ adalah mereka menyedikan koran Singapore Strait Times gratis. Ini adalah koran yang membuat saya kagum. Satu koran harian dengan total jumlah halaman 220. Dan bagian terbaiknya, kalaupun kita harus membeli, harganya cuma US Singapore 1, sekitar tujuh ribuan rupiah. Bandingkan dengan koran nasional kita yang 48 halaman harganya tiga ribu. Dengan jumlah segitu banyak, jika saya memulai membacanya sesaat pesawat take-off dari Jakarta hingga landing di Singapur tetap saja tidak akan selesai, hehehe. Di SQ dapat makan nasi gulai ayam, tetapi rasanya tidak terlalu enak, jadinya hanya makan beberapa suap saja.
Di Changi, saya transit sekitar 2 jam. Menunggu keberangkatan dengan menenggelamkan diri membaca buku gratisan di toko buku Hudson News. Sekarang di terminal 2 ternyata ada dua toko buku Hudson News, ada yang kecil yang baru buka. Tadinya di toko buku Periplus di Soetta saya menemukan buku menarik yang ingin saya beli, Earth Wars, tetapi berpikir di Changi akan lebih murah. Ternyata buku tersebut belum masuk di Hudson News. Woho, 1 poin unggul Periplus. :-)
Penerbangan kemudian berlanjut ke Phnom Penh dengan maskapai Silk Air. Nasi goreng ayam yang disediakan lumayan enak. Perjalanan ke Phnom Penh ditempuh dalam waktu satu jam empat puluh menit.
Dari udara, sejauh mata memandang, Kamboja adalah negeri daratan. Datar sedatar-datarnya. Tak terlihat bukit apalagi pegunungan. Sepertinya di Kamboja tidak ada kegiatan ekstra kurikuler memanjat gunung, hehehe.
Sekitar pukul setengah enam, pesawat mendarat dengan baik di Phnom Penh. Satu yang saya suka dari perjalanan kali ini adalah bahwa kita dianggap delegasi penting. Turun dari pesawat, saya bahkan tak perlu harus sidik jari di Imigrasi, nunggu anteng, langsung lewat semua sudah diurus. Dan hebatnya lagi saya dijemput dengan mobil sedan Mercedez baru. Serasa pejabat tinggi, hehehe.
Sampai hotel, langsung terkapar.
Setelah sempat tidur sesaat, akhirnya saya jalan keluar mencari makan. Makanan hotel bukannya ga enak, cuma mahalnya ga ketulungan. Tetapi urusan makan bukanlah urusan sederhana buat saya. Lidah kampuang nan jauah di mato ini selalu jadi kendala saya tiap kali harus melakukan perjalanan ke luar negri.
Namun untunglah ada KFC, dan McD! My live savior. :-D
Makan, kenyang, balik ke hotel, mandi,tidur, menulis blog ini, dan tidur.
Selamat malam semua. Malam indah di Champa. :-)
Tetapi malam ini, dari kamar hotel nyaman di daerah aliran sungai kota Phnom Penh, saya mencoba untuk menulis lagi. Saya merencanakan seminggu ke depan ini, setiap malam akan menuliskan pengalaman harian saya di ibu kota negara Kamboja ini.
Hari 1 - Sabtu, 8 September 2012
Menjadi bagian dari empat orang delegasi kantor dalam pertemuan tahunan ketiga puluh mentri-mentri energi tingkat Asia Tenggara, hari ini perjalanan ke Kamboja dimulai. Rencananya saya akan ada di Phnom Penh ini untuk satu minggu ke depan, dan akan kembali ke Jakarta pada hari Jumat 14 September 2012.
Sebenarnya ada keraguan untuk berangkat kali ini, karena dua minggu terakhir saya hanya datang ke kantor tiga hari saja, dan selebihnya menjalani hari beristirahat di apartemen guna memulihkan kondisi kesehatan saya yang baru saja terkena tipus. Rasanya ini yang kedua kalinya saya terkena tipus. Yang pertama saat kuliah di Bandung dulu. Tahun 2010 saya sempat terkena DBD dan menghabiskan satu minggu di rumah sakit. Kali ini, alhamdulillah menurut dokter saya tidak perlu di rawat, cukup istirahat penuh dan menjaga makanan dengan baik.
Empat kali bolak-balik menemui dokter di RS, walau badan belum sepenuhnya kembali fit, alhamdulillah kondisi saya cukup sehat untuk melakukan perjalanan dinas ke Kamboja, walau harus membawa sejumlah obat-obatan yang tetap harus dikonsumsi untuk beberapa waktu ke depan.
Rencananya tadi malam akan berkemas, namun rapat di kantor baru selesai jam tujuh malam, dan sampai apartemen, saya sudah langsung blas saja ketiduran. Alhasil, pagi tadi terpaksa bangun lebih awal untuk berkemas, menyiapkan pakaian dan semua peralatan yang harus saya bawa.
Berkemas selesai, masak sarapan selesai, namun waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Sedangkan pesawat saya jadwalnya pukul 11.30. Percayalah, 3,5 jam itu bukan waktu yang cukup untuk perjalanan dari Kalibata sampai bandara tanpa rasa was-was takut terlambat. Jadinya saya memutuskan untuk berangkat dan sarapan di taxi saja. Lucu juga rasanya sarapan nasi goreng kecap (terpaksa tanpa cabe karena kondisi kesehatan) di taxi dalam perjalanan ke bandara.
Namun alhamdulillah, pagi ini ajaib, lancar jaya raya, jam setengah sepuluh saya sudah selesai proses check-in di counter Singapore Airlines bandara.
Masih dua jam lagi? Mengisi waktu, akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling menikmati bandara ini. Rasanya bukan cerita baru lagi jika ada yang berkomentar berapa rendahnya mutu pengelolaan bandara terbesar kita ini. Tetapi saya rasa, saat ini perubahan besar sedang terjadi. Jika kita perhatikan, ada begitu banyak perbaikan di bandaranya. Satu contoh sederhana yang bisa saya sebutkan adalah toilet. Pengelolaannya begitu bagus sekarang. Ada petugas yang dengan ramah menyapa kita, dan menjaga barang kita di tempat khusus bagasi di toilet. Ini sungguh sangat menyenangkan.
Saya berpikir, ini justru akan menjadi sebuah pelajaran manajemen yang luar biasa.
Kita tahu betapa hebatnya pengelolaan bandara-bandara besar seperti Changi atau Suvarnabhumi Airport (saya bahkan terpaksa Googling dulu agar benar menuliskan nama bandara kebanggaan Thailand ini). Namun kedua contoh bandara itu kita nikmati ketika sudah selesai dan beroperasi. Beda cerita dengan bandara Soekarno-Hatta yang sekarang (belakangan saya sering melihat nama bandaranya disingkat menjadi SHIA, bukan Soetta lagi. entahlah, saya merasa aneh dengan nama SHIA). Transformasi yang dilakukan di bandara Soetta (ya, saya lebih memilih menyebutnya Soetta) terjadi sambil tetap beroperasi.
Kita sering menemukan ada tulisan "Under construction. We apologize for any inconvenience," yang mana walaupun mereka sudah minta maaf, tetapi tetap saja merasa sangat terganggu dengan ketidaknyamanan yang ditimbulkan dalam proses perbaikan tersebut.
Namun yang saya rasakan di Soetta, "Under construction. We try the best to keep you convenience, and better". Hebat sekali bukan? Saya rasa ketika bandara ini selesai proses proses pembangunan versi barunya tahun 2014(?) nanti, akan menjadi sebuah contoh pembelajaran manajemen yang sangat hebat. Salut buat para punggawa pelaksananya.
Satu yang masih saya keluhkan adalah begitu susahnya terhubung dengan koneksi internet gratis bandara. Namun beberapa orang terlihat asik bermain internet dengan laptop mereka. Apa laptop saya saja yang ditolaknya? Hehehe.
Pukul 11:30, SQ yang saya tumpangi siap berangkat. Satu yang saya suka dari SQ ini adalah mereka menyediakan handuk hangat untuk melap muka. Walau sepertinya ini hanya diuapkan sesaat, karena begitu handuk panas tersebut kita lapkan ke kulit, hitungan detik, panasnya langsung tidak terasa. Handuknya dingin begitu saja. Hal lain yang saya suka dari SQ adalah mereka menyedikan koran Singapore Strait Times gratis. Ini adalah koran yang membuat saya kagum. Satu koran harian dengan total jumlah halaman 220. Dan bagian terbaiknya, kalaupun kita harus membeli, harganya cuma US Singapore 1, sekitar tujuh ribuan rupiah. Bandingkan dengan koran nasional kita yang 48 halaman harganya tiga ribu. Dengan jumlah segitu banyak, jika saya memulai membacanya sesaat pesawat take-off dari Jakarta hingga landing di Singapur tetap saja tidak akan selesai, hehehe. Di SQ dapat makan nasi gulai ayam, tetapi rasanya tidak terlalu enak, jadinya hanya makan beberapa suap saja.
Di Changi, saya transit sekitar 2 jam. Menunggu keberangkatan dengan menenggelamkan diri membaca buku gratisan di toko buku Hudson News. Sekarang di terminal 2 ternyata ada dua toko buku Hudson News, ada yang kecil yang baru buka. Tadinya di toko buku Periplus di Soetta saya menemukan buku menarik yang ingin saya beli, Earth Wars, tetapi berpikir di Changi akan lebih murah. Ternyata buku tersebut belum masuk di Hudson News. Woho, 1 poin unggul Periplus. :-)
Penerbangan kemudian berlanjut ke Phnom Penh dengan maskapai Silk Air. Nasi goreng ayam yang disediakan lumayan enak. Perjalanan ke Phnom Penh ditempuh dalam waktu satu jam empat puluh menit.
Dari udara, sejauh mata memandang, Kamboja adalah negeri daratan. Datar sedatar-datarnya. Tak terlihat bukit apalagi pegunungan. Sepertinya di Kamboja tidak ada kegiatan ekstra kurikuler memanjat gunung, hehehe.
Sekitar pukul setengah enam, pesawat mendarat dengan baik di Phnom Penh. Satu yang saya suka dari perjalanan kali ini adalah bahwa kita dianggap delegasi penting. Turun dari pesawat, saya bahkan tak perlu harus sidik jari di Imigrasi, nunggu anteng, langsung lewat semua sudah diurus. Dan hebatnya lagi saya dijemput dengan mobil sedan Mercedez baru. Serasa pejabat tinggi, hehehe.
Sampai hotel, langsung terkapar.
Setelah sempat tidur sesaat, akhirnya saya jalan keluar mencari makan. Makanan hotel bukannya ga enak, cuma mahalnya ga ketulungan. Tetapi urusan makan bukanlah urusan sederhana buat saya. Lidah kampuang nan jauah di mato ini selalu jadi kendala saya tiap kali harus melakukan perjalanan ke luar negri.
Namun untunglah ada KFC, dan McD! My live savior. :-D
Makan, kenyang, balik ke hotel, mandi,
Selamat malam semua. Malam indah di Champa. :-)

0 Comments:
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home