Travelling
Baiklah.
Beberapa teman memaksa saya untuk cerita tentang Tokyo dan Jepang setelah minggu lalu saya ada kesempatan berkunjung kesana. Beberapa kali saya bilang, tidak ada hal spesial yang saya temukan selain kehangatan bertemu dan mengobrol puaaaaaasss dengan teman yang saya jumpai; Goio, Ibung, Ferry, dan Batari.
Semua yang saya lihat di sana sama saja dengan cerita yang saya baca di buku atau internet, dan dari apa yang saya lihat di layar tv.
Tak ada hal baru yang ditemukan sama sekali?
Oke, ada memang, dan maaf ini agak terkesan pornografi. Silahkan berhenti di sini jika kamu belum cukup usia 22 tahun.
Satu, kalau kamu pernah atau malah sering sekali baca komik Jepang, percayalah bahwa -sudah saya ingatkan ini akan terkesan porno- bagian dada perempuan Jepang itu sungguh tidak sebesar yang digambarkan. Sepanjang daerah Shibuya, Shinjuku, Akihabara dimanapun banyak saya temukan toko-toko yang menjual gambar-gambar begitu, semuanya tampil dengan porsi besar. Bahkan, kamu tahu ada satu kelompok nyanyi perempuan yang anggotanya sungguh oh sungguh banyak sekali -dan ya mereka punya kloning ala Jakartanya-? Saya menemukan satu toko khusus asesoris tentang mereka dengan poster yang menipu.
Kedua, soal indera perasa kulit. Saya sudah cukup lama hidup dalam keheranan. Tidak menemukan jawabannya mengapa sering sekali kita lihat wanita berbaju seksi dan memakai rok yang sungguh pendek di acara malam. Tidakkah mereka kedinginan? Saya menemukan jawabannya di Jepang. Ternyata kulit bagian paha memang tidak memiliki indera peraba rasa dingin. Terbukti, di saat saya begitu menggigil -dua lapis jaket, dua lapis sarung tangan, semua serba berlapis- cewe-cewe Jepang dengan santainya memakai rok pendek -ya, seperti yang sering kamu liat di anime itu- tidak berlapis sama sekali kecuali beberapa di antara mereka ada yang memakai kaus kaki tinggi. Mereka memakai jaket berlapis juga seperti saya, banyak yang tebal-tebal sekali malahan. Tetapi tidak untuk bagian kulit paha yang diperkirakan tak ada sensor dinginnya.
Dua hal ini baru saya ketahui setelah berkunjung ke Jepang dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Tapi kalau boleh saya menyampaikan kesimpulan umum -bahwa sebenarnya saya tidak sama sekali penentang jalan-jalan- bahwa ada satu pelajaran penting yang akan bisa kita temui dengan berjalan-jalan ke negeri orang.
Kamu tahu betapa seringnya kita mendengar berita tentang kehebatan bangsa Jepang atau orang Prancis? Betapa kita begitu sering menganggap mereka sangat luar biasa keren. Bikin robot ini, terbang ke luar angkasa, nyanyi kelas dunia?
Percayalah, setelah pulang dari dua negara itu, saya menyadari bahwa mereka pun tak lebih dari kita. Yang datang ke sini atau yang kita lihat di tv mungkin memang ganteng dan keren-keren, tetapi percayalah. Saya sudah mengunjungi kedua negara tersebut, dan ternyata di sana banyak sekali saya temukan orang Jepang yang jadi pelayan toko atau jadi sopir bis, dan banyak sekali saya temukan orang Prancis yang jadi tukang sampah. Bahkan kalau di sini kita terkesan menganggap para bule keren, tahukah kamu selama di sana, saya yang dilayani. Saat makan siang, semua pelayannya orang Jepang. Semuanya pada nunduk-nunduk terima-kasih saya sudah mau makan di restoran mereka.
Ga semua tentang luar negri itu keren! Jadi kita tak perlu minder. Cobain deh travelling ke sana kalau ga percaya.
Benar begitu kan, Mona? :-D
Beberapa teman memaksa saya untuk cerita tentang Tokyo dan Jepang setelah minggu lalu saya ada kesempatan berkunjung kesana. Beberapa kali saya bilang, tidak ada hal spesial yang saya temukan selain kehangatan bertemu dan mengobrol puaaaaaasss dengan teman yang saya jumpai; Goio, Ibung, Ferry, dan Batari.
Semua yang saya lihat di sana sama saja dengan cerita yang saya baca di buku atau internet, dan dari apa yang saya lihat di layar tv.
Tak ada hal baru yang ditemukan sama sekali?
Oke, ada memang, dan maaf ini agak terkesan pornografi. Silahkan berhenti di sini jika kamu belum cukup usia 22 tahun.
Satu, kalau kamu pernah atau malah sering sekali baca komik Jepang, percayalah bahwa -sudah saya ingatkan ini akan terkesan porno- bagian dada perempuan Jepang itu sungguh tidak sebesar yang digambarkan. Sepanjang daerah Shibuya, Shinjuku, Akihabara dimanapun banyak saya temukan toko-toko yang menjual gambar-gambar begitu, semuanya tampil dengan porsi besar. Bahkan, kamu tahu ada satu kelompok nyanyi perempuan yang anggotanya sungguh oh sungguh banyak sekali -dan ya mereka punya kloning ala Jakartanya-? Saya menemukan satu toko khusus asesoris tentang mereka dengan poster yang menipu.
Kedua, soal indera perasa kulit. Saya sudah cukup lama hidup dalam keheranan. Tidak menemukan jawabannya mengapa sering sekali kita lihat wanita berbaju seksi dan memakai rok yang sungguh pendek di acara malam. Tidakkah mereka kedinginan? Saya menemukan jawabannya di Jepang. Ternyata kulit bagian paha memang tidak memiliki indera peraba rasa dingin. Terbukti, di saat saya begitu menggigil -dua lapis jaket, dua lapis sarung tangan, semua serba berlapis- cewe-cewe Jepang dengan santainya memakai rok pendek -ya, seperti yang sering kamu liat di anime itu- tidak berlapis sama sekali kecuali beberapa di antara mereka ada yang memakai kaus kaki tinggi. Mereka memakai jaket berlapis juga seperti saya, banyak yang tebal-tebal sekali malahan. Tetapi tidak untuk bagian kulit paha yang diperkirakan tak ada sensor dinginnya.
Dua hal ini baru saya ketahui setelah berkunjung ke Jepang dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri.
Tapi kalau boleh saya menyampaikan kesimpulan umum -bahwa sebenarnya saya tidak sama sekali penentang jalan-jalan- bahwa ada satu pelajaran penting yang akan bisa kita temui dengan berjalan-jalan ke negeri orang.
Kamu tahu betapa seringnya kita mendengar berita tentang kehebatan bangsa Jepang atau orang Prancis? Betapa kita begitu sering menganggap mereka sangat luar biasa keren. Bikin robot ini, terbang ke luar angkasa, nyanyi kelas dunia?
Percayalah, setelah pulang dari dua negara itu, saya menyadari bahwa mereka pun tak lebih dari kita. Yang datang ke sini atau yang kita lihat di tv mungkin memang ganteng dan keren-keren, tetapi percayalah. Saya sudah mengunjungi kedua negara tersebut, dan ternyata di sana banyak sekali saya temukan orang Jepang yang jadi pelayan toko atau jadi sopir bis, dan banyak sekali saya temukan orang Prancis yang jadi tukang sampah. Bahkan kalau di sini kita terkesan menganggap para bule keren, tahukah kamu selama di sana, saya yang dilayani. Saat makan siang, semua pelayannya orang Jepang. Semuanya pada nunduk-nunduk terima-kasih saya sudah mau makan di restoran mereka.
Ga semua tentang luar negri itu keren! Jadi kita tak perlu minder. Cobain deh travelling ke sana kalau ga percaya.
Benar begitu kan, Mona? :-D

3 Comments:
ehem... *ngebales ceritanya, ben?*
1. Setuju kalo gak semua tentang luar negeri itu keren.
2. Traveling is all about feeling, Beno.. :)) Merasa bahwa ada hal-hal yang berbeda yang mungkin tidak didapatkan di tempat asal dan itu sangat menarik untuk dirasa.
-____-"
Ahahaha, ada Mona, sang pecinta jalan-jalan. :-D
Kalau kita mau meluangkan hati sejenak, sebenarnya dimanapun kita berada kita bisa menemukan hal yang menarik untuk dirasa, Mona.
Hhahahahahaa...
:-))
"To travel is the movement of people or objects (such as airplanes, boats, trains and other conveyances) between relatively distant geographical locations." ~Wikipedia (carilah sendiri)
Tak harus selalu keluar kota sepertinya..
Relatif, ben... Untukku, keluar Bandung! :))
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home