Bener Kata Ibung
Banyak hal dalam hidup yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Seringkali terjadi saat kita merasa sudah mempersiapkan segalanya.
Saya punya kebiasaan baru.
Setelah cukup frustasi naik bis dan macet kupret, saya memutuskan untuk walk to work dari apartemen di bilangkan Kalibata ke kantor di Kuningan.
Beberapa waktu lalu, saya dan istri menemukan betapa indahnya naik kereta. Jadilah setiap pagi berangkat kantor dan sore pulang kantor saya menjadi pelanggan baru kereta yang dinamakan Commuter Line.
Apartemen dan kantor cuma jarak dua stasiun, 5 menit joss.
Sungguh nikmat memikat.
Dari stasiun tinggal nyambung naik angkot, 15 menit joss.
Double Joss?
Harusnya. Tapi kupret lagi, angkot dari stasiun susahnya setengah ampun. Yang nungguin bejibun, angkotnya tribun (ga nyambung, cuma maksa rimanya un-un, hehehe). Maksudnya angkot dikit banget.
Seperti pagi ini.
Rebutannya setengah ampun. Saya songsong jauh berharap nemu angkot kosong. Ada di seberang jalan. "Oke lah kalau harus berlawanan arah dulu terus balik lagi, gpp," pikir saya. Eh, pas saya dah sampai seberang, ada angkot kosong lewat. Double kupret.
Keringetan, maki-maki.
Akhirnya saya putuskan jalan kaki saja ke kantor sambil ngedumel tak henti.
Baru jalan, tiba-tiba ada sebuah sedan Civic menepi dan membukakan pintunya.
Dan ternyata, itu adalah John Sukardi Purba, seorang arsitek sukses teman sebangku waktu SMA (bukan satu bangku duduk pangku-pangkuan ya, tetapi sebelahan gitu, hehehe).
Sungguh tak diduga. Kantornya searah dengan saya, sehingga saya bisa numpang dengan cerianya.
Sesaat, saya menyadari dan menyesali telah memaki-maki pagi ini.
Tuhan sebenarnya sedang mengatur saya ketemu teman lama, yang hampir 4 tahun tak bertemu.
Dan kita larut dalam nostalgia bersama.
Benar kata teman saya Ibung, semua yang terjadi sudah ditetapkan, dan ada alasan dari setiap halnya mengapa itu terjadi.
Paling ga, ini telah membuat saya pagi-pagi gini saya agak beneren dikit. :-D
Saya punya kebiasaan baru.
Setelah cukup frustasi naik bis dan macet kupret, saya memutuskan untuk walk to work dari apartemen di bilangkan Kalibata ke kantor di Kuningan.
Beberapa waktu lalu, saya dan istri menemukan betapa indahnya naik kereta. Jadilah setiap pagi berangkat kantor dan sore pulang kantor saya menjadi pelanggan baru kereta yang dinamakan Commuter Line.
Apartemen dan kantor cuma jarak dua stasiun, 5 menit joss.
Sungguh nikmat memikat.
Dari stasiun tinggal nyambung naik angkot, 15 menit joss.
Double Joss?
Harusnya. Tapi kupret lagi, angkot dari stasiun susahnya setengah ampun. Yang nungguin bejibun, angkotnya tribun (ga nyambung, cuma maksa rimanya un-un, hehehe). Maksudnya angkot dikit banget.
Seperti pagi ini.
Rebutannya setengah ampun. Saya songsong jauh berharap nemu angkot kosong. Ada di seberang jalan. "Oke lah kalau harus berlawanan arah dulu terus balik lagi, gpp," pikir saya. Eh, pas saya dah sampai seberang, ada angkot kosong lewat. Double kupret.
Keringetan, maki-maki.
Akhirnya saya putuskan jalan kaki saja ke kantor sambil ngedumel tak henti.
Baru jalan, tiba-tiba ada sebuah sedan Civic menepi dan membukakan pintunya.
Dan ternyata, itu adalah John Sukardi Purba, seorang arsitek sukses teman sebangku waktu SMA (bukan satu bangku duduk pangku-pangkuan ya, tetapi sebelahan gitu, hehehe).
Sungguh tak diduga. Kantornya searah dengan saya, sehingga saya bisa numpang dengan cerianya.
Sesaat, saya menyadari dan menyesali telah memaki-maki pagi ini.
Tuhan sebenarnya sedang mengatur saya ketemu teman lama, yang hampir 4 tahun tak bertemu.
Dan kita larut dalam nostalgia bersama.
Benar kata teman saya Ibung, semua yang terjadi sudah ditetapkan, dan ada alasan dari setiap halnya mengapa itu terjadi.
Paling ga, ini telah membuat saya pagi-pagi gini saya agak beneren dikit. :-D

1 Comments:
salam beennn, bwt jon..
anyway, i miss y'all so much. hope some texts about hanging out'll pop in my screen this weekend.. hehehe
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home