Monday, November 16, 2009

It's A Windy Day

Saya ingat betul sebuah pengumuman di pintu toilet kantor pusat saat awal-awal Saya kerja disini. Isi pengumumannya cukup vulgar, "Barangsiapa yang makan Jengkol atau Petai, dilarang kencing disini."

Sebagai seorang penggemar Jengkol, blame my family yang pada doyan semua, hehehe, Saya paham sekali dengan peringatan ini. Jengkol memang bukan urusan sederhana. Makannya dua hari yang lewat aja, masih nyisa di bau kencing. Tobatan nasyuha akibatnya. Dicemplungin Dettol dua bak mandi tetap aja masih kalah. Pengalaman dulu di kostan waktu di Bandung, cukup membuat tragis. Itu masih mending di kostan, nah ini kalau di kantor. Ga lewat SP1, atau SP2 dulu, langsung pecat tanpa pesangon deh, hehehe. But, hey, ini peraturan muncul memang gara-gara ada karyawan kantor yang kebablasan, dan akibatnya Boss semingguan ngambil cuti ga mau ngantor sebelum baunya hilang sambil teriak-teriak di telphon nyuruh sekretarisnya masang pengumuman itu, hehehe.

So, biarpun doyan, untuk urusan yang satu ini, Saya mengerti betul untuk tidak coba-coba bikin ulah. Tapi sayangnya, bukan jengkol aja yang bikin kualat, tapi UBI juga. Kok bisa?

Jadi, ceritanya minggu kemaren tu, si Home Boy dapat kiriman Ubi dari kampung bini nya satu karung gitu. Senin malam, hujan deras banget, bikin malas ke luar rumah nyari makan malam. Kepikiran buat masak mi, tapi begitu ngeliat ada banyak Ubi, ide cerdas Saya muncul. Bikin ubi rebus, hehehe.

Dengan berbekal ilmu masak-memasak yang Saya pelajari waktu jadi Pramuka jaman sekolahan dulu, dalam waktu setengah jam, setumpuk ubi rebus sudah siap untuk di santap. Great, apalagi kalau ngingat saran si Dokter saya yang meminta saya untuk berhenti makan makanan yang berminyak. This is what we call A healthy food, right? Hehehe.

Saya lupa sudah makan Ubi berapa banyak. Yang jelas rasanya begitu kenyang, dan Saya sangat mengantuk.

Sungguh, Ubi sumber kabohidrat, sumber tenaga, karena pagi itu Saya berangkat kantor tanpa rasa lapar ingin sarapan dulu.

But, the nightmare just begin. Saya sungguh lupa kalau kebanyakan makan Ubi bikin Saya doyang kentut. Sial.

Baru beberapa meter berangkat dari rumah saja, Saya sudah tiga kali kentut. Sampai naik metro mini, dah tujuh kali kentut. Kalau dibawa balik pulang ke rumah poops dulu, bisa-bisa Saya telat sampai kantor. Sial benar. Terpaksa ditahan sampai kantor saja. Thanks God nya tu metro mini bunyinya grundang-grundung, berlipat-lipat desibel diatas interval bunyi kentut Saya. Jadinya aman deh, ga kedengeran penumpang lain, hehehe.

Nyampe kantor Saya langsung booking tempat buat nongkrong. It takes more than fiveteen minutes nongkrongnya sampai Saya yakin benar kalau urusan perut ini sudah selesai. Ya, saya yakin benar kalau urusan per-windy-an ini sudah selesai, karena sampai sore Saya mau pulang kantor pun, no more happen.

But, I was wrong.

Pulangnya, di halte Permata Hijau, setelah cukup lama menunggu, Saya rebutan masuk ke dalam busway dengan banyak calon penumpang lainnya. Tadinya berpikir untuk menunggu busway selanjutnya saja. Tapi hujan deras, macet banget, ga tau harus nunggu berapa lama lagi. Jadi ya, berdesak-desakan Saya berdiri bergelantungan di dalam busway.

Baru jalan beberapa meter, proooottttttttttttttt…………………………… Saya kentut. Dan, prooottt, proottttt, prootttttttttttttttttttttttt…… Suara kentut Saya semakin keras. Dan protttttttttttttttttttt. Ga ada ampun. Sontak orang satu bis pada teriak, dan semua mata tertuju pada Saya. Dan mungkin saja semua orang pada mengutuk kenapa Busway diciptakan tanpa jendela yang tidak bisa ditutup-buka.

Satu-satunya yang ada diotak Saya saat itu adalah sebuah alat di dekat jendela yang bertuliskan “Pecahkan Kaca jika Keadaan Darurat”.

I hope no body know me, there.

But, Big thank to seorang Ibu-Ibu yang tiba-tiba berkata, “Santai aja, ga bau kok”.

Hehehehe, thanks to you, Sweety. J

Oh ya, ada dua berita yang Saya terima minggu ini.

Berita pertama, adalah berita baik dari Dokter pribadi, bahwasanya Tekanan Darah dan Kolesterol Saya sudah berada dalam interval normal bulan ini. Saya sehat, dan itu artinya sudah boleh makan gorengan lagi. I am dying to live without it, hehehe.

Berita kedua, not a good news, berdasarkan hasil uji, tingkat degradasi kegundulan kepala Saya melebihi nilai aselerasi peningkatan kepintaran Saya. Puff, at least I am gonna look like a Professor. Last time I check, cewek-cewek cantik jaman sekarang mulai mempertimbangkan untuk punya pasangan yang bertampang nerd, Thanks God. :-)

Labels:

1 Comments:

Blogger atiek said...

kata mutiara dari teman gw pemuda 29 tahun yang diberikan pada pemuda 19 tahun:
"when you get older, you start losing your hair"
bleeeeeeehh
proven!

11/18/2009 08:10:00 PM  

Post a Comment

Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home