Pesawat
Tahun lalu, ada perjalanan ke Bangkok.
Di antara Singapore Airlines (SQ), Garuda Indonesia (GA) dan Thai Airways (TG) ... Saya memutuskan untuk naik TG.
SQ, selain paling mahal, harus singgah dulu di Singapura 2 jam, bikin lama saja, saya tidak suka. Lalu kenapa bukan GA? Ingin sekali rasanya, datang ke negeri orang dengan pesawat kebanggaan negeri sendiri. Tetapi sayang, harga tiketnya walau masih lebih murah dari pada SQ, tetap saja jauh lebih mahal daripada TG. Walaupun dibayarkan kantor, tetapi saya tidak menemukan alasan kenapa harus yang mahal ketika ada pilihan yang lebih murah. Lagi pula jadwal penerbangan GA sangat tidak ramah dengan jadwal saya selama di Bangkok.
Bulan depan, mau ke Tokyo.
Ada SQ, Malaysian Airlines (MH), TG dan tentu saja Garuda Indonesia.
SQ, lagi-lagi paling mahal dan harus singgah dulu di Singapura. TQ, kali ini lebih mahal dari pada GA, dan juga harus singgah dahulu di Bangkok. MH, banyak kolega dari berbagai negara yang merekomendasikannya karena selain harga murah, pelayanannya juga sangat baik. Dan untuk ke Narita, tiketnya relatif sama dengan GA, tetapi kan harus singgah dulu di Malaysia.
Beberapa orang menyarankan untuk naik SQ saja. Lebih berkelas, pelayanannya lebih bagus, lebih nyaman, dan juga lebih bisa pamer keren nongkrong di Starbuck Changi. Naik SQ. Bahkan beberapa orang ngotot menyarankan naik SQ saja lalu bisa dapat poin-nya. Walau jauh lebih mahal dan harus singgah dulu, tapi toh kan yang bayar kantor.
Beberapa orang menyarankan untuk naik TG saja. Bisa singgah dulu di Bangkok, menikmati Bangkok walau hanya sesaat.
Beberapa orang menyarankan untuk naik MH saja. Bisa singgah dulu di Kuala Lumpur, kan lumayan sekali perjalanan bisa singgah di dua negara.
Tetapi saya memutuskan untuk naik Garuda Indonesia saja. Saya tidak tahu jenis pesawat apa nantinya, tetapi sepertinya pesawat dengan 3-3 kursi, bukan yang 2-4-2 atau 3-4-3 besar milik SQ. Alasan utamanya lebih murah. Masalah keselamatan tentu saja sesuatu yang tidak bisa diperdebatkan, tetapi bukan kah Garuda Indonesia juga sangat baik pengelolaan keselamatannya. Sepanjang pengalaman saya naik Garuda, saya puas.
Naik Garuda karena ini pesawat Indonesia, ada rasa bangga? Benar. Sangat benar. Walau saya sadar hal ini tidak boleh jadi alasan kenapa saya pilih Garuda. Bekerja di kantor yang terdiri dari berbagai negara, sentimen negara saya rasa tidak tepat.
Tetapi saya hanya ikut peraturan, the economical direct flight. Dan karena ini adalah perjalanan kantor, keinginan pribadi mau naik ini karena keren dapat poin, atau mau naik itu karena bisa singgah sana-sini dulu, bukan dan tidak akan pernah jadi pembenaran. Buat saya. :-)
Di antara Singapore Airlines (SQ), Garuda Indonesia (GA) dan Thai Airways (TG) ... Saya memutuskan untuk naik TG.
SQ, selain paling mahal, harus singgah dulu di Singapura 2 jam, bikin lama saja, saya tidak suka. Lalu kenapa bukan GA? Ingin sekali rasanya, datang ke negeri orang dengan pesawat kebanggaan negeri sendiri. Tetapi sayang, harga tiketnya walau masih lebih murah dari pada SQ, tetap saja jauh lebih mahal daripada TG. Walaupun dibayarkan kantor, tetapi saya tidak menemukan alasan kenapa harus yang mahal ketika ada pilihan yang lebih murah. Lagi pula jadwal penerbangan GA sangat tidak ramah dengan jadwal saya selama di Bangkok.
Bulan depan, mau ke Tokyo.
Ada SQ, Malaysian Airlines (MH), TG dan tentu saja Garuda Indonesia.
SQ, lagi-lagi paling mahal dan harus singgah dulu di Singapura. TQ, kali ini lebih mahal dari pada GA, dan juga harus singgah dahulu di Bangkok. MH, banyak kolega dari berbagai negara yang merekomendasikannya karena selain harga murah, pelayanannya juga sangat baik. Dan untuk ke Narita, tiketnya relatif sama dengan GA, tetapi kan harus singgah dulu di Malaysia.
Beberapa orang menyarankan untuk naik SQ saja. Lebih berkelas, pelayanannya lebih bagus, lebih nyaman, dan juga lebih bisa pamer keren nongkrong di Starbuck Changi. Naik SQ. Bahkan beberapa orang ngotot menyarankan naik SQ saja lalu bisa dapat poin-nya. Walau jauh lebih mahal dan harus singgah dulu, tapi toh kan yang bayar kantor.
Beberapa orang menyarankan untuk naik TG saja. Bisa singgah dulu di Bangkok, menikmati Bangkok walau hanya sesaat.
Beberapa orang menyarankan untuk naik MH saja. Bisa singgah dulu di Kuala Lumpur, kan lumayan sekali perjalanan bisa singgah di dua negara.
Tetapi saya memutuskan untuk naik Garuda Indonesia saja. Saya tidak tahu jenis pesawat apa nantinya, tetapi sepertinya pesawat dengan 3-3 kursi, bukan yang 2-4-2 atau 3-4-3 besar milik SQ. Alasan utamanya lebih murah. Masalah keselamatan tentu saja sesuatu yang tidak bisa diperdebatkan, tetapi bukan kah Garuda Indonesia juga sangat baik pengelolaan keselamatannya. Sepanjang pengalaman saya naik Garuda, saya puas.
Naik Garuda karena ini pesawat Indonesia, ada rasa bangga? Benar. Sangat benar. Walau saya sadar hal ini tidak boleh jadi alasan kenapa saya pilih Garuda. Bekerja di kantor yang terdiri dari berbagai negara, sentimen negara saya rasa tidak tepat.
Tetapi saya hanya ikut peraturan, the economical direct flight. Dan karena ini adalah perjalanan kantor, keinginan pribadi mau naik ini karena keren dapat poin, atau mau naik itu karena bisa singgah sana-sini dulu, bukan dan tidak akan pernah jadi pembenaran. Buat saya. :-)

1 Comments:
"Tetapi saya hanya ikut peraturan, the economical direct flight."
Humm... sepertinya data untuk Jakarta-Tokyo tidak tepat tuh, Benx. Berdasarkan pengalaman saya, GA biasanya bukan yang termurah. Tiket promosi SQ (yang 14 hari) kadang-kadang lebih murah (walau mungkin T&C-nya gak cocok buat elo kalo berangkat sendirian). Pun begitu tiket promosi dari CX (Cathay Pacific).
Tapi, kalo mau yang termurah, rasanya gak ada yang ngalahin AirAsia :D...
Sampai jumpa di Tokyo.
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home