Sunday, January 8, 2012

Bintang Kelas

Tiga hari lagi ujian akhir Pengolahan Gas, tetapi saya tak jua kunjung mengerti dan memahami mata kuliah yang satu ini. Bukannya saya tak berusaha belajar. Dua hari di akhir pekan ini saya tak keluar apartemen sama sekali, belajar sepenuh hati segenap jiwa, tetapi sudah malam menjelang Senin begini tetap saja belum ada pencerahan.

Terus terang satu mata kuliah teknis ini benar-benar susah buat saya. Di kelas, bisa dibilang saya satu-satunya yang berlatar belakang pekerjaan di bidang kebijakan. Yang lainnya, dari bidang rekayasa yang sehari-harinya mengerjakan persis seperti apa yang diajarkan dosennya. Berkah buat mereka, mimpi buruk buat saya. Tiap kali mata kuliah ini, saya selalu terpaku tak mengerti.

Eh, tapi sebenarnya pernah ada satu masa dimana saya hampir saja menjadi bintang kelas di mata kuliah paling susah ini. Bisa dibilang ini adalah momen terbaik saya sejak menjadi Master Candidate, saya jadi bintang di kelas.

Menyadari ketertinggalan dibanding teman yang lain, saya benar-benar membaca bahan sebelum kelas dimulai. Dan malam itu, tak sampai satu tarikan nafas si dosen selesai menuliskan soal di papan tulis, saya langsung corat coret menghitung, tut tit tut tit kalkulator saya otak-atik, dengan suara lantang dan percaya diri saya menjawab, "lima ribu delapan puluh joule per kilogram".

"Berapa?", tanya si pak dosen.
"Lima ribu delapan puluh joule per kilogram", ulang saya dengan suara lantang. Keras-keras biar terdengar oleh semua. Ini persis seperti contoh soal yang tadi sudah saya kerjakan. Jadi saya yakin sekali dengan hitungan ini.

Dan benar, semua mahasiswa di kelas tertegun memandang sambil tangan masih memegang kalkulator. Beberapa orang bahkan masih bingung mau melakukan apa.

Bangganya. Tetapi ya saya ga mau songong lah. Jadi ya berlaku santai saja.

"OK! Lima ribu delapan puluh joule per kilogram," tegas pak dosen. "Dengan nilai ini, kita akan lakukan perhitungan berikutnya. Coba yang lain hitung sekarang besar % masanya, " lanjut beliau.

Setengah jam kemudian.

"Bagaimana, berapa dapatnya? Angkanya tidak unik, berapapun asal di bawah 10%," info pak dosen. "Pergunakan nilai yang sudah didapatkan teman kamu tadi untuk menghitung," lanjut beliau.

Setengah jam kemudian.

"Bagaimana, masih pada belum bisa? Kalau begitu mari kita kerjakan bersama-sama saja di depan kelas," ucap beliau sambil mulai menulis jawaban soal di papan tulis. Semua mahasiswa memperhatikan beliau dengan seksama.

Lima menit kemudian.

"Kok hasilnya begini ya?" gumam beliau. "Salah dimana ini hitungannya. Coba kita periksa lagi. Kalian semua coba hitung juga ya seperti yang saya lakukan".

Sepuluh menit kemudian.
Lima belas menit kemudian.
Dua puluh menit kemudian.

"Sudah malam, sudah waktunya pulang. Kalian coba hitung lagi di rumah ya. Saya juga akan coba hitung ulang," ucap beliau lirih sambil menutup kelas.

Saya yang dari awal sangat bersemangat, juga ikut berpikir, salahnya dimana. Sesaat saat hendak menutup buku, pandangan saya terpaku pada coretan hitungan awal saya. Dikali nol koma satu! Saya lupa, harusnya dikali nol koma satu! Harusnya lima ratus delapan, bukan lima ribu delapan puluh!

Terpaku, tertegun, terpana. Saya salah. Sekelas mentok gara-gara saya salah info.

Tengok kanan, tengok kiri, teman-teman sudah pada meninggalkan kelas. Dengan layu, saya berjalan menuju meja sang dosen, mengakui kesalahan saya dan meminta maaf.

"Hahahaha, dasar kamu," jawab sang dosen sambil tertawa. "Ya sudah pulang sana, minggu depan kita perbaiki".

Lega, untung saja dosennya  menanggapi dengan santai.

Sepertinya saya memang tidak bakat di mata kuliah ini.
Ya sudah, sekarang mau tidur saja. :-D

0 Comments:

Post a Comment

Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home