Kualitas Lulusan sebuah Perguruan Tinggi, Mitos atau Fakta?
Ada dua mitos yang paling santer di dunia tentang lulusan dari sebuah perguruan tinggi di Bandung sana.
Pertama, pintar tapi songong.
Kedua, sendirian tugas ga kelar, bedua malah berantem.
Okeh, baiklah.
Jadi, sudah sebulan ini saya punya direktur baru di kantor. Kebetulan, untuk periode kali ini, Direkturnya adalah dari Indonesia, dan kebetulan juga berasal dari perguruan-tinggi-yang-dimaksud di atas. Ehhemm, sama dengan saya.
Semua orang di kantor, lokal maupun import, selalu menggadang-gadangkan bahwa saya akan jadi anak emas di kantor. Tetapi sepertinya dua mitos tersebut tidak sampai ke telinga mereka. Dan mereka juga tidak (belum) tau apa yang terjadi di gedung putih dalam beberapa minggu terakhir ini.
Seperti kemaren sore (oke, aturan kantor, semua percakapan resmi harus pakai bahasa bule, tetapi saya terjemahkan seingatnya saja).
D: Kamu lapor ke saya tentang program ini.
B: Jadi begini, Pak. Program ini adalah tentang ...
D: Oke, stop! Saya tau. Permasalahannya adalah begini begitu. Jadi sekarang kamu harus lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini. Dan kembali ke saya sore ini untuk laporan.
B: Sudah, Pak. Saya sudah kerjakan itu semua.
D: Oh, bukan. Jadi gini, kamu harus lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini.
B: Iya, Pak. Saya sudah lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini.
D: Bagaimana bisa? Kan saya baru bilang. Jadi sekarang kamu lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini.
B: Iya, tetapi semuanya sudah saya perkirakan, Pak. Jadi saya sudah lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini, semuanya.
D: Ya, sudah kalau gitu. Sekarang kamu lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini. Sore ini kita diskusikan.
Dan ya, sesuai aturan pertama dan satu-satunya dunia kerja, maka kembalilah saya lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini.
Dan ya, ini sudah untuk kesekian kalinya. Entah sampai kapan saya bisa bertahan. I am just simply not a yes-boss-type!
Oh ya, kembali ke soal mitos di atas, seorang teman di bagian keuangan menyampaikan sebuah hipotesis tentang lulusan perguruan-tinggi-yang-dimaksud berdasarkan pengalaman dia berinteraksi selama ini dengan banyak lulusan perguruan-tinggi-yang-dimaksud.
Lulusan perguruan-tinggi-yang-dimaksud itu, kalau diremehkan dia songong, kalau dipuji dia makin songong.
Hahahaha, jujur sekali.
Tersinggung kah saya? Oh tidak, kan saya tidak termasuk yang dimaksud di awal, karena sebagai lulusan perguruan-tinggi-yang-dimaksud, saya cuma kebagian songongnya doank, pintarnya kagak, hehehehe. Lagipula, sekarang kan, seperti kata sang teman, move on, menguning. :-D
Pertama, pintar tapi songong.
Kedua, sendirian tugas ga kelar, bedua malah berantem.
Okeh, baiklah.
Jadi, sudah sebulan ini saya punya direktur baru di kantor. Kebetulan, untuk periode kali ini, Direkturnya adalah dari Indonesia, dan kebetulan juga berasal dari perguruan-tinggi-yang-dimaksud di atas. Ehhemm, sama dengan saya.
Semua orang di kantor, lokal maupun import, selalu menggadang-gadangkan bahwa saya akan jadi anak emas di kantor. Tetapi sepertinya dua mitos tersebut tidak sampai ke telinga mereka. Dan mereka juga tidak (belum) tau apa yang terjadi di gedung putih dalam beberapa minggu terakhir ini.
Seperti kemaren sore (oke, aturan kantor, semua percakapan resmi harus pakai bahasa bule, tetapi saya terjemahkan seingatnya saja).
D: Kamu lapor ke saya tentang program ini.
B: Jadi begini, Pak. Program ini adalah tentang ...
D: Oke, stop! Saya tau. Permasalahannya adalah begini begitu. Jadi sekarang kamu harus lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini. Dan kembali ke saya sore ini untuk laporan.
B: Sudah, Pak. Saya sudah kerjakan itu semua.
D: Oh, bukan. Jadi gini, kamu harus lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini.
B: Iya, Pak. Saya sudah lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini.
D: Bagaimana bisa? Kan saya baru bilang. Jadi sekarang kamu lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini.
B: Iya, tetapi semuanya sudah saya perkirakan, Pak. Jadi saya sudah lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini, semuanya.
D: Ya, sudah kalau gitu. Sekarang kamu lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini. Sore ini kita diskusikan.
Dan ya, sesuai aturan pertama dan satu-satunya dunia kerja, maka kembalilah saya lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini-itu, kerjakan itu ini.
Dan ya, ini sudah untuk kesekian kalinya. Entah sampai kapan saya bisa bertahan. I am just simply not a yes-boss-type!
Oh ya, kembali ke soal mitos di atas, seorang teman di bagian keuangan menyampaikan sebuah hipotesis tentang lulusan perguruan-tinggi-yang-dimaksud berdasarkan pengalaman dia berinteraksi selama ini dengan banyak lulusan perguruan-tinggi-yang-dimaksud.
Lulusan perguruan-tinggi-yang-dimaksud itu, kalau diremehkan dia songong, kalau dipuji dia makin songong.
Hahahaha, jujur sekali.
Tersinggung kah saya? Oh tidak, kan saya tidak termasuk yang dimaksud di awal, karena sebagai lulusan perguruan-tinggi-yang-dimaksud, saya cuma kebagian songongnya doank, pintarnya kagak, hehehehe. Lagipula, sekarang kan, seperti kata sang teman, move on, menguning. :-D

9 Comments:
hoho.. sepertinya familiar dengan perguruan-tinggi-yang-dimaksud
Berlawanan dengan saya berarti, Benx.
Saya dapet pinternya doang, songongnya kagak :D...
persis seperti yang saya duga selama ini :D *maap yak benx :))
*mengingat*
Mitos pertama setuju, mitos kedua gak selalu jadi nyata. *inget pengalaman satu semester sekelompok berdua ama istrinya situ* nyata. *inget pengalaman satu semester sekelompok berdua ama istrinya situ*
@Mona: kalo mau dihubung2in ke istrinya yang punya blog, mitos pertama juga gak berlaku. *inget gimana si istri tanpa songong dan tanpa lelah ngajarin kita-kita yang segini-gini aja kemampuan otaknya sampai pagi buta setiap mau ujian* :D
@muy : tau beneran apa sok tau? songong, berarti anda adalah benar lulusan perguruan-tinggi-yang-dimaksud. :-D
@om Cahyo : songoooonggg juga, hehehe.
@pit : nah, ini ada dua contoh lagi di atas, hahaha.
@mona dan diah : yang dimaksud kan lulusan, bukan saat jadi mahasiswa, lagian cerita-cerita di blog kalau tidak songong, itu berarti songong, hahahhaha.
@diah : eh Di ngomongin siapa? bukan istriku kan? kalau istriku tiap kali aku begadang malam belajar dia mah tidur nyenyak...... paling banter bilang "aku bantu doa". :-D
@beni: oh ya? kok dia berubah.. jadi songong? :D *siap digeplak si istri*
kadang-kadang songong,, berarti cocok lah
Post a Comment
Halo, terima-kasih sudah berbagi pendapat di sini.
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home